Skip to content

Bosan dengan google scholar? Coba teknologi semantic-nya Microsoft Academic

Tulisan ini dibuat di tengah ‘kegagalan’ saya menyusun sebuah artikel yang rencananya akan dipresentasikan di salah satu konferensi di Lombok. Hehehe… otak sudah tidak bisa loading lagi, sedangkan mata belum mau terpejam. Yasudah, searching artikel di beberapa portal jurnal, tetapi otak masih saja nge-hang, dan tidak kunjung stay-tune. Sepertinya kopi Gayo, sudah tidak mempan lagi menggerakkan otak yang ‘mager’.

Tampilan microsoft academic search

Baik…, Kita coba mulai oprek MA atau Microsoft Academic version 2.0. Sesuai dengan namanya, mesin pengindeks ini dikembangkan oleh Microsoft, dan sudah ada beberapa penyempurnaan dibandingkan dengan MAS (Microsoft Academic Search) sebelumnya. Masih baru, MA ini mulai melayang-layang di dunia maya sejak Juli 2017 (kurang dari 3 bulan lalu). Kedigdayaannya perlu diperhitungkan sebagai mesin pengindeks artikel. Di samping itu, MA ini juga membuka API-nya, berbeda dengan GS yang menutup rapat. Hmmm…jadi kebayang, sepertinya developer http://sinta2.ristekdikti.go.id/ bakal mendapatkan tugas baru yaitu membubuhkan API MA ke dalam mesin ‘dewa’ ini. Mungkin ya… mungkin…. hehehe 🙂







Di portalnya, Microsoft menjelaskan bahwa MA versi 2 ini memiliki 3 keistimewaan utama, yaitu:



  • Bisa membuat akun dan profile. Sama dengan GS dan Scopus. Kita bisa narsis dengan memampang foto OKE kita di portal ini lengkap dengan artikel-artikel yang sudah pernah kita tulis dan dipublikasikan. Tentu yang sudah online. Loginnya pun cukup mudah, MA menyediakan 5 cara login yaitu (1) melalui akun microsoft/ email yang dikelola oleh microsoft, (2) melalui akun twiter, (3) melalui akun Facebook, (4) melalui akun Linkedin, dan (5) melalui akun Gmail.

Login ke MA bisa menggunakan beberapa layanan



Setelah login menggunakan beberapa layanan yang disediakan, kita diminta mengisi profile. Memasukkan nama, email, afiliasi hingga deskripsi diri singkat.

Setelah masuk, kita diminta mengisi beberapa form
Nama yang kita tuliskan di bagian atas menjadi keyword awal untuk mencari artikel-artikel yang berhubungan, maka secara otomatis akan muncul beberapa artikel yang perlu kita review, apakah benar itu artikel-artikel kita? Jika benar click submit claim.
Artikel yang sudah pernah ditulis dan online, akan secara otomatis disajikan
Nah, secara otomatis akan membentuk profile seperti di bawah ini, yang juga bisa dilihat di link berikut: https://academic.microsoft.com/#/de…
Ini contoh profile saya di Microsoft Academic
  • Personalisasi. Belum banyak mengeksplore bagian yang satu ini saya sebenarnya, tetapi di portalnya dia mengaku bahwa MA bisa memberikan informasi yang lebih detail mengenai related article, research news, MA catalogs event, dan publikasi/ kutipan baru. Memang, dia mengeklaim bahwa MA dikembangkan bukan dengan metode keyword matching seperti yang selama ini dikembangkan oleh Google, tetapi dengan semantic. Opo iki..????

  • Kemampuan pencarian yang terus ditingkatkan. Mungkin semacam filterisasi, Secara langsung MA akan menyajikan informasi artikel-artikel yang berhubungan dengan artikel yang dicari (recommended article) sehingga kita sangat dimanjakan untuk terus mengeksplorasi artikel-artikel yang sudah terpampang di layar komputer. Sebagai contoh: dikala saya mencari artikel tentang vulnerability assessment (VA) bidang bencana, maka jika ada artikel VA bidang psikologi atau kesehatan (misalnya) tidak akan muncul, karena dipastikan tidak related dengan topik artikel yang sedang kita cari. Mungkin kemampun ini yang mendasari tagline MA yaitu research more, search less. Kemampuan ini yang kemudian diklaim oleh MA berbeda dengan mesin pencari lainnya.
Bagi yang memiliki nama cuma 1 kata seperti saya, harus rajin-rajin mencari setiap judul artikel
Bagaimana perbandingannya dengan GS?
  • GS tidak menyajikan related article, basis pencarian GS adalah keyword matching. Di saat kita mencari sebuah artikel, maka secara otomatis, MA akan menyajikan related artikel, so..kita tidak perlu cari-cari artikel lain lagi, cukup scroll mouse kita ke atas-bawah-kanan-kiri.
  • Di GS secara mudah kita bisa memasukkan artikel manual, artinya jika kita memiliki artikel yang tidak online, terus kita ingin memasukkannya di profile GS sangatlah mudah dan memang ada layanan itu. Di MA, tidak ada layanan menambahkan artikel manual.
  • Tidak semua artikel di eprint terindek oleh MA, sangat berbeda dengan GS bukan? PPT yang kita upload di eprint saja bisa terindeks oleh GS, tapi untuk MA, belum tentu. Beberapa artikel saya yang ada di eprint tidak terindek oleh MA.
  • MA tidak menyajikan statistik h-index ataupun i10-index. Dia hanya menyajikan related article dan citation. Jumlah citation akan menjadi dasar memprioritaskan artikel, artinya artikel terkutip banyak akan lebih mudah ditemukan (sama dengan GS).
  • MA menyajikan TOP PUBLICATIONS dan juga TOP CITATIONS. Artikel kita yang terkutip paling banyak akan berada diurutan teratas di TOP PUBLICATIONS, begitupula untuk artikel orang lain yang mengutip artikel kita akan masuk ke dalam TOP CITATIONS.
  • Kelemahan lain MA adalah, dia tidak menyediakan metadata artikel. Ini sangat menyulitkan bagi kita yang memanfaatkan reference manager seperti mendeley ataupun endnote. Input manual.
%d bloggers like this: