Skip to content

Pesona Desa Wisata Wanurejo

Terinspirasi dari ekskursi MKP Pariwisata tahun 2017 lalu di Desa Wanurejo, Borobudur, Kabupaten Magelang. Tim dosen yang tergabung didalamnya tertarik untuk membantu promosi desa wisata ini melalui video promosi yang kami unggah di media sosial youtube. Video di bawah ini bisa juga dinikmati melalui channel khusus laboratorium pengembangan kota yaitu CoUSD (Channel of Urban Studies and Development). Film berdurasi kurang lebih 3 menit ini menceritakan perjalanan seorang wanita cantik mengeksplorasi keindahan atraksi wisata Desa Wanurejo mulai dari Candi Pawon hingga terakhir menyaksikan pesta lampion di pelataran Candi Borobudur saat waisak tahun 2018 ini. 


Sangat pantas jikalau desa ini mendapatkan perhatian khusus. Keunikan desanya, ragam budaya jawa yang masih mereka lestarikan turun temurun perlu mendapatkan tempat khusus agar terus tetap berkarya. Kombinasi yang unik dan menarik dari pesona alam, budaya, kreativitas masyarakat dan yang tidak kalah penting adalah peran serta masyarakat di dalam mengelola pariwisata. Bersama-sama mereka membentuk Balkondes (Bale ekonomi desa) yang didukung oleh program BUMN hadir untuk negeri. Info lebih lanjut mengenai Balkondes Wanurejo ini bisa ditelisik di link ini.

Kembali ke video promosi!. Bermula dari View Mandala, menyajikan spot foto khas pedesaan yang sangat menarik di kala sunrise maupun sunset. Spot ini merupakan alternatif lain selain punthuk setumbu dengan obyek Candi Borobudurnya. Menjadi salah satu spot terbaik bagi para fotografer untuk menyaksikan sunset tepat di belakang Candi Borobudur. Sinar matahari sunset yang memerah, seakan menjadi kesan sakral dan megah Candi Borobudur. Perjalanan selanjutnya adalah Limanjawi Art, galery seni rupa yang memamerkan lukisan karya seniman Jawa Tengah dan Yogyakarta. Bagi yang seneng dengan karya lukis, ini adalah tempat yang tidak boleh ditinggalkan. Tidak ada tiket masuk untuk sekedar melihat setiap karya seni yang dipajang di setiap sudut tembok gedung. Cukup dengan mengisi buku tamu, dan silakan eksplorasi sepuas hati di dalamnya. Tidak seperti gallery lukis pada umumnya yang biasanya melarang para pengunjung untuk memfoto, di sini justru sebaliknya. Kita diijinkan untuk memfoto dan selfie sepuas hati di dalamnya.

Bagi pecinta karya seni kriya, kerajinan bulu mata, rikrok dan seni ukir bambu patut menjadi destinasi selanjutnya. Di sini, kita akan diajari oleh para pemilik workhsop untuk ikut serta berkreasi membuat kerajinan dan tentunya bisa dibawa pulang. Tidak hanya melihat-lihat, tetapi benar-benar something to do dan juga something to feel, kita melakukan apa yang masyarakat desa lakukan, kitapun merasakan apa yang mereka rasakan. Suasana desa alami, jauh dari suara-suara kenalpot motor dan mobil menjadi suasana penyejuk hati di sini. Kendaraan bermotor bagi pelancong dilarang, kita harus mengayuh pedal sepeda ontel atau naik dokar. Keliling desa, dari satu dusun ke dusun lainnya.

Sanggar Avadana, ini pusat kesenian tari dan gamelan. Di sini, kita akan belajar menari, mewiru (melipat kain jarik) sedemikian rupa kemudian kita pakai sebagai aksesoris menari. Tidak hanya itu, orkestra gamelan yang saat ini cukup popular di Amerika juga dipelajari di sini. Para wisatawan akan mendapatkan short course 1 – 1,5 jam untuk berlatih menari dan memukul gamelan. Dalam waktu sesingkat itu apakah mungkin bisa? Kenyataannya bisa, meskipun gerakan yang sederhana. 

%d bloggers like this: