Skip to content

Belajar dari Pentingsari: desa wisata di kaki Gunung Merapi

Tahun ini (2018) mahasiswa MKP Pengembangan Pariwisata berkunjung ke Desa Wisata Pentingsari yang berada di Desa Cangkringan, tempat dimana Mbah Marijan mengabdikan hidupnya sebagai juru kunci. Kegiatan rutin ini merupakan bagian dari ekskursi mata kuliah dimana mahasiswa langsung belajar dari para pelaku pariwisata. Belajar mengenai manajemen pariwisata, mempromosikan hingga hospitality. Meskipun bukan mata kuliah wajib, tetapi setiap tahunnya dipastikan lebih dari 20 mahasiswa mengikuti mata kuliah pilihan ini. Tahun-tahun sebelumnya, mereka juga mengunjungi desa wisata seperti ke Desa Wisata Selo di kaki gunung Merbabu dan Desa Wisata Wanurejo di Borobudur. Pemilihan lokasi ini bergantung dari tema yang kita usung, khusus tahun ini kami mengusung tema pariwisata di daerah rawan bencana yang di dalam teori sering disebut juga sebagai dark tourism, sebagai salah satu alternatif pariwisata baru yang cukup popular.

Peserta MKP Pariwisata di Batu Alien, Merapi

Bermalam di home stay, yaitu rumah warga menjadi pengalaman tersendiri. Rumah-rumah sederhana tetapi memiliki fasilitas yang standar. Pelayanan yang memang sudah distandarisasi oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menjadi cerminan kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat setempat. Tidak hanya itu, saat kami berkunjung pertama kali di Pendopo Desa WIsata, kami disuguhi alat gamelan yang komplit dari gong, kendang dan lain-lain dimana di setiap peralatannya terdapat logo Bank BCA. Ternyata ini hasil dari CSR Bank swasta terbesar di Indonesia. Salah satu pengelola bahkan menceritakan bahwa CSR BCA mereka terima setiap tahunnya hampir Rp. 200.000,000,- namun tidak berupa uang. Biasanya diwujudkan dalam bentuk pelatihan, peralatan dan fasilitas penunjang home stay. Persis di saat kami masuk pertama kali ke kamar, selimut dan sprei memang memiliki logo BCA begitupula dengan warnanya yaitu biru khas BCA. Tidak hanya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat, ternyata kerjasama dengan pihak swasta juga mereka jalin dengan begitu apik.

Di dalam sarasehan antara mahasiswa dengan pengelola Desa Wisata, ketua Pokdarwis menceritakan bagaimana mereka bisa menjalin kerjasama dengan BCA, Bank swasta terbesar di Indonesia ini. Sangat tidak kebetulan, tanpa skenario dan tanpa proposal, begitu Pak ketua Pokdarwis bercerita. Kebetulan yang dimaksud adalah di saat ada kegiatan pelatihan ‘palayanan prima’ yang diselenggarakan oleh BCA ada salah seorang peserta yang ‘kesasar’ menemukan lokasi pelatihan dimana lokasi tersebut ada di Desa Pentingsari itu. Kemudian oleh salah satu warga yang pada awalnya ditanya oleh peserta pelatihan itu diantar hingga lokasi pelatihan. Pelayanan itu diartikan sebagai ‘pelayanan prima’ oleh manajemen BCA. Dari pertemuan tidak sengaja itulah kemudian program CSR BCA ke Desa Wisata Pentingsari dikucurkan. Sekarang lebih dari 2 M setiap tahunnya mereka dapatkan dari hasil pengelolaan desa wisata.

Apa yang kami pelajari? Di kampus kami belajar bagaimana merencanakan kota berdasarkan analisis-analisis super komprehensif, disini kami belajar bertani, mencari lele hingga bermain lumpur. Tidak ada yang istimewa sebenarnya, tetapi kemasan dan keseruan mahasiswa bermain menjadi daya tarik tersendiri. Materi kuliah yang sangat istimewa dan berharga adalah TIDAK SELAMANYA DESA WISATA HARUS MEMILIKI OBYEK WISATA, mungkin itu yang menarik. Memang obyek wisata di Desa Wisata ini justru tidak lagi menjadi paket wisata. Justru mereka menciptakan atraksi wisata sendiri seperti kerajinan wayang suket, kerajinan janur dan bermain sepak bola lumpur menjadi suguhan kepada para wisatawan. Kreativitas dan memanfaatkan ‘pasar pariwisata’ yang sebenarnya memang sudah terbentuk di Yogyakarta menjadi ‘barang dagangan’ mereka. Tidak bisa dipungkiri memang bahwa pasar pariwisata Yogyakarta sudah tumbuh dan berkembang. Kota ini menjadi kota kedua setelah Bali sebagai tujuan pariwisata nasional.
%d bloggers like this: