Skip to content

Akreditasi tanpa fabrikasi

Nikmat mana yang kau dustakan! lama banget ingin bisa menulis kalimat itu sebagai salah satu ekspresi rasa syukur yang teramat tinggi kepada Tuhan YME. Dan akhirnya bisa mengucapkannya bahkan menuliskannya di blog pertama di bulan Desember ini. JPK atau Jurnal Pengembangan Kota yang dikelola oleh Laboratorium Pengembangan Kota dimana saya bekerja alhamdulillah naik kelas, terakreditasi kementerian riset, teknologi dan pendidikan tinggi. Naik kelas karena awalnya berada di Sinta 3 dan saat ini sudah berada di Sinta 2 atau kalau mengacu pada sistem akreditasi lama berada di jurnal nasional terakreditasi B. Seneng dan bangga tentunya. Kebanggaan lain adalah jurnal ini sejatinya adalah jurnal mahasiswa, menampung artikel-artikel hasil tugas akhir mahasiswa yang memang diwajibkan untuk dipublikasikan di jurnal nasional minimal ber ISSN. Dan tentunya dari proses poles sana poles sini, tolak artikel sana, tolak artikel sini bisa melaju menjadi salah satu jurnal top nasional, terakreditasi Sinta 2.
Hasil penetapan akreditasi JPK, masih menunggu penerbitan SK
Jatuh bangun seperti anak ayam yang ingin belajar terbang, meskipun memang bukan kodratnya untuk terbang. Hehehe… ambil ancang-ancang panjang, berlari kencang dan mulai mengepakkan sayap berbulu jarang. Dan apa yang terjadi, jatuh, terkapar dan tidak bisa terbang sampai akhirnya saat ini bisa menjadi ‘kuthok’ anak ayam yang mulai bisa mandiri. Bukan mengada-ada ilustrasi itu, memang begitulah adanya. Tahun 2013 adalah terbitan awal JPK dimana hanya terbit 1 kali berisi 7 artikel tanpa edit, dan setelahnya tidak terbit selama 2 tahun, mantap bukan! Awal tahun 2015 mulailah tertib menerbitkan artikel dengan kualitas apa adanya asal terbit dan asal layout. Yang penting memiliki artikel dan lepas dari cek similarity-nya turnitin.com bisa kita pertimbangkan masuk ke jurnal tak berbayar ini. Beranjak mulai melakukan call for papers, banyak yang menolaknya karena memang tidak terakreditasi waktu itu. Tetapi lambat laun, tidak sedikit para calon penulis yang mulai tertarik, mengirim artikelnya dan redaksi kebingungan untuk menolaknya. Iya bener, banjir artikel setelah kita call for paper (2016) tetapi kualitas artikel yang diberikan masih rendah seperti sumber referensi yang minimalis, sedikit, tidak ada 5 referensi atau mungkin banyak referensinya tetapi semuanya berasal dari google.com. Serius ini, tidak jarang redaksi menemukan artikel dengan referensi yang bersumber dari google.com, tidak ditulis website aslinya.
Dikembalikan, meminta penulis untuk merevisi sesuai dengan kaidah yang sudah diatur oleh pedoman akreditasi jurnal dan tidak kembali. Di kala artikel yang dianggap bagus, kita coba mereview seserius mungkin mengirimnya ke reviewer Indonesia namun bereputasi internasional. Akhirnya kami bisa menghimpun begitu banyak masukan baik dari editor maupun reviewer. Mungkin saja di setiap kalimat ada komentar untuk memperbaiki atau justru meminta rujukan kutipan. Kita kirim ke penulis dengan harapan mereka bersedia memperbaiki, mengembalikan dan evaluasi kembali untuk selanjutnya di terbitkan. Dan apa yang kami dapatkan? Tidak ada, jangankan revisian artikel, balasan email saja tidak kami terima. Nihil.
Tahun 2017 adalah peruntungan pertama mengajukan akreditasi. Belum cukup percaya diri sebenarnya, mengingat ada 2 tahun terbitan yang akan dinilai dimana tahun 2015 cukup yah begitulah, apa adanya, kalau untuk terbitan 2016 sudah lumayanlah. Tapi karena dorongan LPPM Undip yang memasukkan JPK kedalam short list jurnal di lingkungan Undip yang siap diajukan akreditasi, akhirnya adrenalin editor lumayan terpacu. Segala bujuk rayu dari kolega yang juga mengelola jurnal begitu gencar dan cukup menghipnotis, akhirnya diputuskan ‘baiklah, kita ambil peruntungan ini’. Kita siapkan website jurnal, membuat artikel html, melengkapi artikel dalam bentuk PDF. Tidak ada poin nilai sebenarnya dengan membuat varian ini, tetapi karena ingin menunjukkan hal yang berbeda dan bagus di desain, maka itupun tetap saya lakukan.
Tampilan artikel dalam bentuk HTML. Artikel asli dapat dilihat pada link: https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/jpk/article/view/586/html

Tidak mungkin mengubah isi substansi artikel yang sudah diupload di OJS, tersubmit di crossreff melalui DOI dan tentu sudah masuk juga ke google scholar. Selain tindakan bodoh, itu adalah tindakan tercela menurut saya. Artikel yang sudah terbit didownload, diubah substansinya sedemikian rupa kemudian diupload kembali. Meskipun itu sangatlah mungkin di lakukan. Tindakan itu adalah tindakan fabrikasi yang dilakukan oleh editor dengan tujuan untuk meningkatkan nilai setiap artikel dan pada ujungnya adalah dapat terakreditasi. Kenapa saya bisa menulis demikian? Yang karena ada ketidak sinkronan antara identitas artikel, minimal judul, penulis, afiliasi dan abstrak yang kita temukan di CROSSREFF, DOAJ dan Google Scholar. Harusnya identitas artikel di ketiga mesin pengindek ini sama, harus sama karena berasal dari sumber yang sama juga. Yang membedakan adalah cara mereka mendapatkan identitias artikel yang disebut dengan metadata. CROSSREFF dan DOAJ mendapat metadata dari file yang kita upload, sedangkan google scholar secara mandiri melakukan data mining kemudian menyusun metadata sendiri. Dua metode yang berbeda inilah celah yang harus disadari dan ‘kebodohan fabrikasi oleh editor’ bisa kita lacak.

Bagaimana fabrikasi dilakukan oleh editor? Simpel, untuk mendapatkan nilai yang tinggi setiap artikel setidaknya memuat judul yang menunjukkan hasil dan bukannya proses, ada gap analysis di bagian pendahuluan, syukur-syukur memuat state of the art dan ada feedback terhadap literatur utama di bagian diskusi, yaitu bagian akhir analisis sebelum kesimpulan. Yang menjadi pertanyaan, jika artikel yang dimuat berasal dari mahasiswa S1, apakah kualitas artikel mereka sudah sejauh itu? sudah ada gap analisis melalui komparasi berbagai literatur dan artikel yang sebelumya sudah diterbitkan kemudian dia bisa mencari celah penelitian yang perlu ditambahkan, di situlah state of the art bisa diberikan. Kebanyakan artikel mahasiswa S1 belum bisa sampai ke kualitas ini. Sayapun demikian. Karena kendala itulah tidak sedikit editor melakukan ‘editing’ dengan cara menambahkan referensi baru di bagian daftar pustaka agar terlihat lebih banyak referensi dari jurnal. Kemudian melakukan pembenahan di bagian pendahuluan, diberikan gap analisis dan state of the art, tanpa ada persetujuan penulis. Kenapa? Lha penulisnya saja tidak begitu paham mengenai gap analysis dan state of the art, ingat sumber artikelnya adalah dari tulisan tugas akhir S1. Itulah praktek tercela yang sangat bodoh, sangat mudah kita telisik hanya dengan mencarinya di google scholar, crossreff dan DOAJ yang menerapkan makanisme pemanenan metadata berbeda, benar-benar berbeda.
JPK Sudah berada di Sinta 2, Akreditasi oleh Ristekdikti, 2018

Dan tentu JPK tidak melakukan praktek bodoh nan tercela ini. Dan alhamdulillah JPK terakreditasi Ristekdikti sinta 2.

%d bloggers like this: