Skip to content

Nyinyir jangan jadikan budaya

sumber: quotefancy.com
Bukan berkaitan dengan politik yang selama ini santer di dunia maya maupun nyata. Nyinyir, rasanya menjadi salah satu ‘budaya’ baru yang sangat melekat di masyarakat kita saat ini. Dulu mungkin ‘nyinyir’ ini hanya diungkapkan dari satu kelompok orang untuk ‘ngrasani’ orang lain. Banyak ustad dan pemuka agama yang menggunakan ayat-ayat dahsyat guna mengingatkan begitu unfaedahnya nyinyir ini. Bahkan berdosa.
Namun kenyataannya nyinyir tetap saja ada, tidak berkurang dan cenderung bertambah. Paling banyak sih memang ditemui di dunia politik. Diskusi politik dari para orang-orang yang mendadak pakar politik. Bicara ngalor-ngidul dengan argumen-argumen maha dahsyat yang terkadang dipelintir. Saat ini ‘perang nyinyirpun’ dengan mudah kita temui hampir di seluruh lini masa sosial media. Tidak perlu menyebut sosial media yang mana, pasti semua orang sudah pada mengerti.
Rasanya nyinyir ini bukan hanya dilakukan oleh masyarakat kelas bawah deh. Masyarakat kelas atas dengan seabreg gelar atau mungkin berbagai capaian finansial menggunung juga melakukan hal serupa. Orang bertitel panjang di depan dan di belakang namanyapun tetap juga melakukan aksi ‘nyinyir’ ini. Biasanya atas kebijakan yang diberikan oleh seorang pimpinan. Dikala mereka dituding: ‘nyinyir banget sih kamu’, merekapun berkelit ‘kritik itu penting bro untuk perbaikan’. Menghindar dari tuduhan nyinyir dan menggantinya menjadi kritik.
Nyinyir dengan kritik tentu saja berbeda. Coba saja cek definidi kritik itu apa. Saya sendiri mendapatkan definisi kritik dari Wikipedia.org yang menjelaskan bahwa kata ini berasal dari bahasa yunani yang berarti ‘orang yang memberikan pendapat beralasan’ atau ‘analisis’. Kritik memang diperlukan minimal untuk menambah pemahaman, penguasaan terhadap suatu bidang yang sedang dipelajari dan pada akhirnya meningkatkan ability individu. Bahkan kritikus itu menjadi salah satu profesi. Lihat saja kritikus film, kerjaannya adalah menganalisis baik berdasarkan tekniknya, pasarnya dan variabel-variabel lain yang terus berkembang.
Sedangkan nyinyir itu tidak ada manfaatnya sama sekali. unfaedah-lah. Tidak berguna, hanya akan menyurutkan optimisme, mengubah dari positive thingking menjadi negative thingking dan menjadikan semangat kita turun dan menjadi careless. Itu menurut saya.
Jika aksi nyinyir ini dilakukan di ruang publik maka akan ‘dinikmati’ oleh seluruh ‘warga’ yang ada di ruang publik itu. Ruang publik ini bisa ruang publik di kota atau bisa juga ruang publik di dunia maya semacam whatsapp group, milinglist, facebook dan lini masa lainnya. Apalagi sekarang dengan sangat mudah click & share. Nyinyir di balas nyinyir. Atau mungkin nyinyir di share nyinyir. Akhirnya setiap ‘data digital nyinyir’ akan berada di 1 wall/ timelines seseorang dan direplikasi ke timelines orang lain. Begitu terus dan terus.
Informasi yang unfaedah itu akan terus tereplikasi dan akan menyebarkan pesan yang unfaedah juga. Menyebabkan pesimisme, menyebabkan tumpul analisis kita dan efek samping psikologis lainnya. Berbahaya.
Tidak pernah upaya mengkritisi dengan bahasa yang tidak menyinggung dilakukan. Sangat jarang dijumpai lagi. Mungkin orang-orang berkapasitas ini, yaitu mengkritisi tanpa menyinggung, sudah langka atau mungkin justru dianggap aneh. Tidak tegas, tidak ada keberanian, mungkin saja tuduhan itu bakal bersandar dipundaknya. Jadi ingat lirik lagunya Kill the DJ yang berjudul Jogja Istimewa. Di salah satu bait-nya kurang lebih tertulis

Menyerang tanpa pasukan. Menang tanpa merendahkan. Kesaktian tanpa ajian. Kekayaan tanpa kemewahan

Filosofi kuno yang terus digembor-gemborkan ini rasanya sudah jauh panggang dari api. Termasuk di saat nyinyir. Nyinyir..dan nyinyir… berargumen dengan tujuan merendahkan, ngenyek dalam bahasa Jawanya.
Tidak jarang, aksi nyinyir ini dilakukan di ruang yang tidak tepat. Misalnya nyinyirin salah satu paslon tetapi di group whatsapp alumni SMP. Lha apa paslon bakal membaca nyinyiran itu? Jelas tidak, tidak mungkin kan? Sudah unfaedah salah arah pula. Yang membaca postingan nyinyir ra cetho itupun bakal dibuat tidak nyaman. Akhirya kohesi pertemanan di group itu akan mulai terkikis. Akan sangat berbeda kalau yang diposting adalah cerita-cerita lucu yang bisa menyasar seluruh level pendidikan dan masyarakat. Semua bisa terbahak tertawa.
Sudahlah… hentikan praktik nyinyir ini. Mulai menahan diri sendiri dan mulailah say no to nyinyir. Apalagi kalao di dunia maya, duh.. jejak digital kita tidak akan hilang. Akan masuk ke agregator 1 dan juga masuk ke agregator lainnya. Dan mulailah menambah ‘kesaktian’ diri, belajar..belajar..dan belajar. Bukankan orang yang saat ini memiliki kesamaan dengan tempo hari adalah salah satu golongan orang yang merugi? Agar tidak rugi belajarlah kenapa? karena kemarin kita tidak tau sesuatu, hari ini bisa jadi kita tahu apa yang tempo hari tidak tau.
%d bloggers like this: