Skip to content

Menelisik lebih dalam indexing jurnal digital

Awalnya tulisan ini saya siapkan untuk buku yang sedang di gagas oleh komunitas pena, tatapi karena harus berisikan tips dan trik kepada penulis maka saya urungkan. Sejatinya tulisan ini berisi peringatan atau semacam gambaran mengenai sistem indexing jurnal digital dimana lebih berguna untuk para editor jurnal digital.
sumber: pxhere.com

Jangan sepelekan hutan belantara bernama internet. Mulailah membuka mata akan teknologi yang semakin hari semakin pintar. Jejak digital kita semua ada di sana. Identitas ku, kamu dan kita semua sudah menjadi konsumsi publik di dunia maya bernama internet. Pernahkah kalian melihat-lihat barang di bukalapak.com atau di tokopedia.com kemudian secara otomatis tampil di laman lain yang kita buka? Tidak akan aku jelaskan di sini, banyak sekali ulasan tentang teknologi ini yang disebut dengan cookies.

Setan: inilah perbuatan robot digital
Sekarang coba kita mengingat lagi kehebohan di dunia maya tanah air pada tahun 2018 lalu. Di saat kita menulis kata ‘setan’ di google maka akan muncul gambar-gambar seram dan juga foto salah seorang tokoh politik nasional di sana. Kemudian tahun 2016, kita juga dibuat heran oleh google yaitu di kala kita menulis ‘sungai bersih karena foke’ seakan-akan google menolaknya dan justru menyarankan ‘mungkin yang anda maksud: sungai bersih karena ahok’. Kenapa google begitu ‘cerdas’ hingga bisa memberikan saran dan memunculkan foto-foto sesuai dengan kata kunci tertentu? Itulah kehebatan SEO atau search engine optimization. Teknologi anyar yang terus menjadi perbincangan para pakar IT, marketing hingga politisi.
Seluruh tulisan yang kita unggah akan direkam oleh aggregator. Di saat kita menulis status di twitter atau mungkin di facebook maka tulisan itu akan menjadi ‘data’ yang masuk ke database dan masuk ke server yang tersebar di seluruh dunia. Disaat membuat status di twitter, tulisan kamu tidak hanya disimpan oleh twitter tetapi juga oleh mesin-mesin penambang data (data mining). Mereka terus menambang setiap kata yang kita unggah di lini masa untuk kepentingan mereka. Dianalisis, kemudian bisa digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan marketing hingga politik. Itulah kenapa di saat kita menelisik barang di bukalapak dan berpindah ke laman lain, barang yang kita lihat muncul kembali.
Indexing Jurnal Digital
Itulah kehebatan dan kecanggihan internet dewasa ini. Data manual berubah ke data digital. Sama halnya dengan jurnal ilmiah elektronik yang saat ini juga booming di Indonesia. Capaian publikasi Indonesia cukup fantastis dibandingkan negara-negara tetangga di ASEAN. Meskipun masih di bawah Singapore tetapi banyak release berita yang memberikan informasi bahwa capaian publikasi Indonesia sudah di atas Vietnam dan Pilipina. Setiap hari secara real time kita bisa mengecek perkembangan itu. Cek saja di google scholar atau di scopus.com. Mudah, cepat dan akurat. Inilah era indexing, dari data yang tersimpan itu akan sangat mudah di tambang/ mining dan masuk ke repository-repository antah berantah tersebar di jagat maya. Tidak usah jauh-jauh melirik teknologi negara tetangga, negara kitapun juga melakukan data mining atas jurnal-jurnal yang sudah diterbitkan. Sebut saja sinta yang bisa diakses di http://sinta2.ristekdikti.go.id/, atau yang lokal jawa Tengah juga ada di jaringan penelitian jawa tengah di link http://jarlitbangnov.bappeda.jatengprov.go.id/.
Setidaknya ada 2 metode indexing saat. Yang pertama adalah dengan mengupload atau menyetor identitas artikel atau yang sering disebut dengan meta data ke mesin pengindex secara langsung. Contohnya adalah aku sebagai editor jurnal digital mengunduh meta data setiap artikel yang sudah diterbitkan kemudian mengupload kembali metadata it uke doaj.org atau mungkin ke crossreff.org. Artinya kita harus meng-upload metadatanya agar masuk ke database doaj dan crossreff. Yang kedua adalah tanpa meng-upload tetapi mesin-mesin aggregator dunia seperti google scholar mengirimkan robot digitalnya kemudian akan mengunduh meta data secara otomatis, merangkainya kembali dan memasukkan ke database mereka. Tidak ada proses upload ataupun download, biarkan saja, nanti secara otomatis Googlebot akan mengunduh metadata yang memang terbuka.
Etika publikasi elektronik
Proses penyusunan meta data yang terbentuk secara otomatis dengan memanfaatkan robot digital dan secara manual itulah menjadikan meta data di internet harusnya sama. Kenapa harus sama? Karena sumbernya sama persis hanya proses inputing ke database-nya yang berbeda. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana jika ada perbedaan? Nah ini yang harus diperhatikan.
Jangan sekali-kali artikel yang sudah diupload di internet didownload, kita ubah kemudian di upload kembali. Konyol, ini sangatlah konyol dan maaf bodoh. Jangan karena hanya file dimana kita dengan mudah bisa mengubahnya setiap saat kemudian kita bisa melakukannya dengan begitu bebas. Artikel yang sudah kita upload di internet secara otomatis akan diunduh meta datanya oleh robot digital, kemudian meta data yang sama kita unggah di aggregator lain seperti doaj dan crossreff. Karena keinginan untuk merevisi, entah apapun alasannya, kemudian artikel itu didownload dan direvisi dan diupload kembali maka akan membentuk meta data baru.
Untuk mempermudah ilustrasinya begini, aku menulis artikel dengan judul “MENELISIK lebih dalam indexing jurnal digital”, artikel ini aku upload ke internet apapun websitenya. Maka secara otomatis robot digital akan menerima bahwa ada file baru berjudul itu dan memasukkannya ke database mereka, sebagai contoh ke google scholar. Begitupula meta data yang aku upload ke doaj dan crossreff.org. Kemudian, aku menemukan ada kesalahan di judul maupun isinya. Aku download artikel itu dan aku ubah judulnya menjadi “MEMBAHAS lebih dalam indexing jurnal digital”. Proses yang sama aku lakukan, upload lagi ke internet. Maka akan terdapat 2 meta data yaitu meta data artikel 1 dan artikel 2. Akan ditemukan ketidak cocokan diantara kedua meta data tersebut. Alhasil dapat dengan mudah kita simpulkan telah terjadi fabrikasi ataupun penyalahan etika publikasi artikel. Jangan sekali-kali memanipulasi artikel yang sudah upload ke internet. Pastikan sudah final dan benar untuk dipublikasikan kemudian silakan upload ke internet.
%d bloggers like this: