Skip to content

Sekarang adalah gambaran pendidikan besok

freepik.com, license is on me (premium member)

Work from home! apa yang kita lakukan saat ini adalah kebutuhan masa depan. Bukan lagi khayalan, saya rasa memang kebutuhan pekerjaan masa depan yang sebentar lagi harus kita jalani. Bukan semuanya bekerja di rumah, tetapi lebih bagaimana kita bisa mengatur setiap resource agar menghasilkan nilai lebih. Produktivitas tetap tinggi meskipun tidak harus ngantor. Saya sangat paham, ini bukan untuk seluruh jenis pekerjaan, setidaknya bagi dunia pendidikan. Seorang guru dan dosen di saat kerja dari rumah bukan hanya menyodorkan list tugas yang harus dikerjakan mahasiswa. Bukan dengan menyuruh mereka mengerjakan ini, nggarap itu kemudian kita hanya menerima hasil, mengoreksinya, dan menilai. Tidak, itu sama sekali tidak menarik, bahkan membosankan. Pasti akan banyak guru dan dosen yang kemudian banting setir untuk mendapatkan penghasilan tambahan, jika (dan hanya jika) mereka tidak mengembangkan metode pembelajaran melalui teknologi pendidikan yang sudah dan akan terus berkembang ini. Ke depannya kita tidak akan lagi bicara sama manusia tetapi cukup dengan mesin yang kemudian di broadcast ke seluruh makhluk hidup di seluruh dunia melalui jaringan pintar, internet.

Sudah banyak yang menyadari bahwa guru dan dosen bukan lagi sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan. Kami hanyalah partner, teman dan bisa saja hanya sebagai asisten mereka yang sedang belajar. Tidak hanya mahasiswa, tetapi siapa saja yang memang berikhtiar untuk memahami sesuatu. Ilmu pengetahuan tidak lagi centralistic yang keluar dari mulut seorang guru ataupun dari tulisan yang digoreskan di papan tulis. Berkembangnya metode student centre learning, misalnya, adalah satu respon bagaimana perubahan sosial budaya masyarakat. Perkembangan teknologi informasi yang terus dan terus maju ini juga menjadi perhatian tersendiri untuk mengembangkan teknologi pendidikan. Bisa jadi ilmu pengetahuan justru tidak didapatkan dari perguruan tinggi tetapi justru dari portal-portal internet yang disiapkan oleh raksasa-raksasa internet dunia. Teknologi Pendidikan bukan lagi mentransformasi dari kapur tulis menjadi spidol watermark, dan mengubah dari dosen yang berdiri di depan menjadi mahasiswa yang memaparkan idenya, bukan hanya itu. Sekali lagi tidak berhenti disitu. Lebih, lebih dan lebih dari itu. Self-learning akan menjadi imbas dari distance learning yang harus diperhatikan dan harus mendapatkan perhatian. Seorang teroris yang bisa merakit bom, itu contoh bagaimana mereka belajar sendiri dari portal-portal yang sebelumnya sudah disediakan oleh senior-senior mereka. Itu contoh nyata bagaimana Pendidikan sudah berubah. Distance learning bukan lagi bicara penyediaan teknologi, bukan pula bagaimana kita bisa memanfaatkan video conference untuk mengajar mahasiswa. Lebih dari itu! Video conference yang sekarang ini adalah teknologi terkini, akan menjadi teknologi jadul dalam 10 tahun kedepan. Artinya jika kita hanya memikirkan mau pakai webex, zoom atau teams sebelum mengajar, ya itu sudah jadul. Artinya berfikir kedepan yang dibutuhkan, yaitu mengembangkan media-media self-learning.

Ini sudah berlangsung, anak saya yang berumur 5 tahun sudah terinspirasi oleh youtuber bule membuat kerajinan kreatif yang saya sendiri baru kepikiran. Dan dia tidak sendiri, banyak teman-temannya yang juga membicarakan youtube channel tertentu. Mereka belajar sendiri. Youtube menjadi budaya baru, selain teknologi baru tentunya. Bagi yang sedang belajar Bahasa asing, saya yakin pasti memiliki youtube channel favorit guru bahasa. Kita bisa belajar bahasa langsung dari native speaker, kurang lebih begitu keuntungan yang bisa saya ambil. Kembali lagi, self-learning atau belajar mandiri. Menjadi tantangan selanjutnya adalah bagaimana kita menyiapkan materi perkuliahan. Untuk materi publik (bisa diakses khalayak umum) saya rasa MOOCs bisa menjadi alternatif yang perlu dipertimbangkan. Tidak menutup kemungkinan materi yang hanya bisa diakses oleh warga kampus secara bebas, ada selama 24 jam dan bisa dibaca diberbagai media. Artinya ada materi yang memang bersifat public dan ada yang bersifat semi-public. Apakah ini sudah dipikirkan? Apakah kita sudah punya teknologinya? Teknologi Pendidikan sudah ada di depan kita, bahkan kita sudah menggunakannya tetapi apakah kita sudah mempelajari seberapa hebat teknologi itu. Jangan sampai kita beli mobil balap tapi hanya digunakan untuk angkot. Tidak tau karakter teknologi karena menggunakan tetapi tidak mempelajarinya. Dan saya rasa ini sudah banyak dipasaran, google apps for education, ini hanya contoh bagaimana kita berkolaborasi dalam ruang belajar maya. Tertutup (tidak publik) hanya bisa diakses oleh civitas akademika dan bukan untuk khalayak umum. Ada juga Microsoft Office 365, hanya selama ini hanya dipakai sebagai mesin ketik digital itu. Lebih dari itu keampuannya! – ayo belajar bareng-bareng!.

Gaya membuli menjadi lawakan para Komedian Indonesia, saat ini sudah tidak laku lagi bukan? – Atau mungkin acting terjatuh karena tersandung kaki sendiri juga sudah tidak pecah lagi. Itulah perubahan budaya di masyarakat. Sama juga dengan dunia Pendidikan. Bertanya untuk mengetahui sesuatu yang baru, itu bukan model Pendidikan masa sekarang dan masa depan. Di masa depan, orang bertanya karena dia sudah belajar, kemudian mengkonfirmasi hasil temuannya, kesulitannya dan sharing pengalaman. Sudah tidak jamannya lagi dikala ada anggota grup bertanya: ‘sebenarnya mahasiswa boleh merekam kuliah online apa tidak?’ kemudian dijawab ‘kalau menggunakan webex, bisa terekam sendiri kemudian akan terintegrasi di kulian online’. Itu sama halnya dengan gatal di kepala tetapi ujung kaki yang digaruk. Dan itu masih banyak kita jumpai. Itu model orang lama, kemudian disaat diluruskan, dia mulai ngeles memberikan penjelasan retorika. Artinya hanya membaca tetapi tidak memahami. Sama halnya dengan kebutuhan di masa mendatang, Seorang mahasiswa dituntut untuk bisa belajar mandiri, mencari literatur sendiri dan menerapkan secara mandiri. Dan kami juga tidak akan nganggur, menjadi tanggung jawab baru sekarang adalah mengarahkan, ikut berfikir kritis atas persoalan dan berkolaborasi. Bekerjasama, murid & mahasiswa bukan lagi seorang insan yang benar-benar kosong otaknya kemudian tugas kita mengisi wadah yang kosong itu. TIDAK, bukan itu. Kita justru akan menghadapi orang-orang yang otaknya justru sudah terisi, dan kita harus mengarahkan isi itu. Ibarat penjahit baju, seorang guru di masa depan bukan lagi membuat dan menjahit baju tetapi justru jadi tukang permak pakaian. Barangnya sudah ada, dan kita diminta untuk meluruskan & mengarahkan.

Seorang guru/ dosen tidak lagi menjadi centre of knowledge tetapi lebih pada salah satu infrastruktur pengetahuan. Harus sekreatif mungkin dalam memberikan materi pelajaran. Saya rasa sangat mungkin seorang dosen justru menjadi youtuber, persis seperti sahabat, seorang doktor dan mengajar di UNJ. Beliau menjadi youtuber, tetapi bukan membuat content prank seperti abang-abang rambut hijau. Tetapi mengajar materi kuliah melalui youtube. Mahasiswa bisa mendapatkan materi itu jauh-jauh hari sebelum jadwal kuliah, kemudian di dalam kelas tinggal mendiskusikannya. Nanti akan sangat terlihat mahasiswa mana yang benar-benar akan menjadi insan masa depan dan insan masa kini, atau justru insan masa lalu. Kalau masih ada pertanyaan yang dilontarkan untuk memahami suatu definisi, nah itu berarti belum mengkesplorasi definisi. Kurang lebih demikian.

%d bloggers like this: