Skip to content

Ini 6 alasan kenapa redaksi jurnal menolak manuskrip

Sumber gambar: freepik.com

Sebagai seorang penulis, keputusan diterima atau ditolaknya artikel oleh redaksi selalu dinantikan. Terus ditunggu seperti menunggu lahiran anak pertama. Berharap besar bisa diterima. Namun sayangnya tidak semua harapan selalu bisa menjadi kenyataan. Terkadang redaksi menolak draft manuskrip yang mungkin saja dianggap bagus, sudah sesuai dengan lingkup jurnal. Dikala ditolak, sebaiknya tidak langsung berpikir bahwa kualitas artikel anda buruk. Jangan, banyak alasan kenapa editor harus menolak sebuah manuskrip. Dari kacamata redaksi, tulisan ini akan menjelaskannya, setidaknya dari sudut pandang saya, editor.

Kenapa kami terpaksa harus menolak manuskrip?

Ada indikasi plagiasi. Jurnal yang terakreditasi akan selalu dicek secara regular oleh kementerian riset dan teknologi (Ristek/ Brin). Saya tidak tau pasti kapan proses pengecekan dilakukan. Yang pasti hampir setiap tahun para asesor jurnal akan berselancar masuk kedapur OJS kita. Mereka bisa login melalui akun editor yang sebelumnya sudah kita beritahu di laman arjuna. Bagi yang pernah mengajukan akreditasi jurnal, pasti tahu bahwa kita harus memberikan salah satu akun & password editor. Melalui akun inilah mereka akan login dan menilai tata kelola jurnal dan juga substansi artikel. Jika ada indikasi yang tidak bagus maka mereka memiliki kewenangan memberikan disinsentif berupa penurunan nilai. Sama halnya dikala ditemukan indikasi plagiat atau adanya multiple submission oleh salah satu artikel.

Pencegahan tindakan plagiasi harus dilakukan bukan hanya oleh penulis namun juga oleh editor. Untuk kebaikan kedua belah pihak. Jika ada artikel hasil plagiasi terbit di salah satu jurnal maka yang dirugikan adalah kedua belah pihak. Penulis akan mendapatkan sanksi dari tim PAK (panitia angka kredit) dan redaksi jurnal juga bisa di turunkan nilai akreditasinya. Maka jika ada indikasi plagiasi, sangat mungkin sebuah artikel bakal di tolak editor.

Di luar bidang ilmu (focus & scope). Seorang editor akan mengeavaluasi setiap artikel yang masuk ke meja redaksi. Redaksi akan membaca, menilai kemudian memutuskan ‘nasib’ draft anda. Setelah lolos screening plagiasi, tahapan selanjutnya adalah melihat focus and scope. Ini bisa saling menggantikan, bisa di scan terlebih dahulu untuk mengetahui indikasi plagiasi atau langsung di tahap ini, focus & scope. Apakah manuskrip anda sesuai dengan lingkup bahasan jurnal? – Perlu dipahami ada Scope dan juga Focus, harus dipahami kedua-duanya. Sebagai contoh artikel anda membahas kemiskinan dan jurnal yang menjadi incaran juga memiliki lingkup/ scope yang sama, kemiskinan, berarti sudah sesuai. Tahap selanjutnya ke bagian Focus, biasanya ditulis di bagian deskripsi setiap jurnal, yang menjelaskan fokus jurnal itu dibuat sebagai ruang diskusi apa? Ada jurnal yang fokus pada membangun teori, fokus pada kebijakan, atau fokus pada kajian terbaru kondisi empiris. Cek di bagian ini, jika artikel anda bicara kemiskinan (sebagai contoh) dari sudut pandang kebijakan sedangkan jurnal yang dituju lebih kepada membangun teori, maka bisa jadi tidak sesuai fokus jurnal.

Perlu diingat bahwa setiap bidang focus & scope jurnal bisa dibahas oleh berbagai bidang keilmuan. Sebagai contoh kemiskinan, bisa dipandang dari kebijakan pemerintah, bisa dari ekonomi, bisa juga dari ekologi. Macam-macam sudut pandang. Maka setelah anda melihat scope, tahap selanjutnya adalah lihat focusnya. Jika sesuai berarti aman.

Gap analysis di bagian pendahuluan. Pendahuluan/ introduction di setiap artikel sangatlah penting. Bagian ini berisi urgensi bahasan artikel, literatur yang menjadi landasan hingga menghasilkan state of the art. Ada gap analysis seperti apa dari perjalanan literatur anda hingga menghasilkan kesimpulan bahwa artikel anda penting untuk dipertimbangkan. Gap analysis ini bisa kita bangun dari membaca artikel hingga mendapatkan celah/ puzzle yang belum di bahas. Sebagai contoh kemiskinan, dari hasil studi literatur anda mendapatkan bahwa sebagian besar artikel membahas kemiskinan dari aspek ekonomi, dan sangat sedikit atau tidak ada yang membahas dari aspek psikologi, kemudian artikel anda akan membahasnya dari aspek psikologi. Ini bisa juga disebut state of the art. Bisa juga bicara mengenai metode yang berbeda, atau bisa juga updating. Kajian terakhir mengenai kemiskinan berakhir pada tahun sekian, dan update mengenai hal ini perlu dilakukan. Kemudian artikel anda akan mengisi gap kekosongan ini. Sekali lagi itu hanya contoh.

Pastikan di bagian pendahuluan memuat gap analysis ini. Artinya, pendahuluan harus memuat kajian literatur. Silakan saja mau digabungkan atau dipisahkan antara pendahuluan dan literature review ini. Ada beberapa jurnal yang menggabungkan keduanya, ada pula yang memisahkan. Yang perlu digarisbawahi adalah kajian literatur di sini memuat theoretical framework bukan hanya membuat pembahasan mengenai definisi menurut berbagai sumber literatur. Sebagai contoh dikala artikel anda ingin membahas penilaian kemiskinan maka perlu dijelaskam bagaimana literatur-literatur membahas mengenai hal ini. Jelaskan kerangka teoritisnya dan dudukkan penelitian anda di kerangka teoritis itu. Jika ini sudah ada dilakukan, maka besar peluang artikel anda lolos tahap selanjutnya. Jika tidak, lebih baik seorang editor menolaknya.

Tahapan ini sangat erat berkaitan dengan kemutakhiran literatur. Seorang editor biasanya akan mengecek bagian daftar pustaka. Di situ sangat jelas terlihat artikel apa saja yang dikutip dan tahun berapa di terbitkan. Bagaimana dialog/ debat literatur diantara mereka, itulah point di bagian ini. Pedoman akreditasi jurnal mensyaratkan minimal 60% daftar pustaka bersumber dari rujukan primer, yaitu referensi hasil penelitian langsung. Biasanya berupa artikel jurnal, artikel hasil konferensi, atau bisa juga produk hukum jikalau artikel anda membahasnya. Ketentuan dari Ristekbrin memang 60% tetapi tidak jarang redaksi jurnal menerapkan prosentase lebih tinggi. Ayo cek kembali referensi artikel anda, apakah sudah memenuhi minimal 60% rujukan primer? Jika jawabannya tidak, redaksi bisa menolak atau meminta untuk merevisi.

Kebaruan artikel/ novelty. Kebaruan apa yang ditawarkan oleh artikel anda? Apakah di temuan risetnya atau di metodenya, lokasinya? Harus jelas ditulis dibagian pendahuluan. Lagi-lagi pendahuluan memiliki peran sangat besar. Ini penting, setiap redaksi jurnal akan terus mencari manuskrip-manuskrip. Mengambil contoh di atas, kemiskinan. Dikala sebagian besar orang membahas kemiskinan dari sudut pandang ekonomi kemudian anda bisa menawarkan dari sudut pandang ekologi, maka anda memiliki peluang bahwa ada kebaruan di artikel anda. Bisa dipertimbangkan untuk diterbitkan. Sekali lagi ini contoh, kenyataannya pembahasan kemiskinan dari lingkup ekologi juga sudah banyak di bahas. Seorang editor akan sangat jeli mencari kalimat yang menunjukkan kebaruan ini.

Kualitas analisis. Tahap selanjutnya adalah menilai kualitas analisis. Ini bisa dilihat dari kemampuan penulis mendapatkan data, mengolahnya dan juga menarik kesimpulan dari analisis itu. Sedikit kembali ke novelty, bisa juga kebaruan suatu artikel dibangun dari sumber data yang akan menghasilkan perspektif baru. Saya ambil contoh penilaian mengenai rapid assessment kerugian akibat bencana. Banyak penelitian yang menilainya dengan cara survei dan kemudian menilai kerusakan di lapangan. Kemudian ada inovasi seorang penulis dengan memanfaatkan data cuitan twitter yang diolah sedemikian rupa menjadi rapid assessment. Artikel yang saya maksud ini berjudul Rapid assessment of disaster damage using social media activity. Ini juga bisa dikategorikan sebagai novelty sekaligus sumber data yang unik dan menarik.

Analisis yang kuat sangat penting untuk mendukung atau justru mematahkan argumen yang dibangun di bagian pendahuluan. Ingat di bagian pendahuluan, penulis harus membangun problem statement yaitu suatu persoalan penelitian yang ingin dipecahkan. Silakan saja mau menggunakan research question atau hipotesis kemudian analisis ini akan berfungsi untuk menjawab setiap claim yang dibangun dari kajian literatur. Merujuk pada artikel berjudul How can I create stronger analysis? diterbitkan oleh Universitas Michigan, setidaknya penulis perlu mempertimbangkan 4 hal, yaitu (1) menjawab pertanyaan dengan menjelaskan dan perkuat bukti-buktinya, (2) explisit, tulis argumen sejelas mungkin dan tidak implisit, (3) Gunakan analisis untuk mempertanyakan argumen, dan (4) hindari analisis yang lemah dan kosong. Tujuan peneliti menganalisis adalah mengolah data, mencari bukti-bukti lapangan guna menjawab pertanyaan penelitian atau hipotesis. Maka pastikan itu dilakukan. Jangan biarkan pembaca untuk berfikir untuk menyimpulkan sendiri hasil analisis anda, pastikan mereka membaca hasil analisis. Maka pastikan mereka membaca hasil analisis bukan dengan menyimpulkan sendiri. Yang tidak kalah penting adalah gunakan analisis untuk mempertanyakan/ mendebat argumen-argumen yang sebelumnya sudah terbangun dari kajian literatur dengan mengutip berbagai hasil penelitian. Jangan sekali-kali membuat analisis lemah yaitu sebuah argumen tanpa bukti baik data empiris maupun mengutip dari sumber terpercaya.

Pola/ alur penulisan artikel. Perlu dicek bagaimana redaksi mengatur alur atau pola penulisan artikel. Kami menyebutnya gaya selingkung. Setiap redaksi memiliki gaya mereka sendiri-sendiri di dalam menyajikan ide yang ditulis dalam sebuah artikel, dan penulis harus mengikutinya. Sebagai contoh apakah jurnal yang dituju menerapkan IMRAD (Introduction, Method, Result and Discussion)? Ini akan dijelaskan di bagian author guidelines. Baca, pelajari kemudian ikuti petunjuk penulisan itu. Semakin baik redaksi jurnal, semakin detail mereka memberikan arahan kepada penulis. Biasanya akan memuat apa yang harus dilakukan penulis hingga detail teknis artikel seperti jumlah kata, ukuran kertas, dan sebagainya. Terkadang ada pula redaksi jurnal yang menyediakan template. Silakan gunakan dan ikuti. Terkadang dikala penulis tidak mengikuti petunjuk penulisan, redaksi menolaknya atau meminta penulis untuk merevisi.

%d bloggers like this: