Anggap saja ini adalah edisi khusus. Biasanya saya menulis tentang kehidupan classroom, berbeda untuk kali ini. Meskipun judulnya mie ayam jamur Nijmegen, jangan berekspektasi mengenai tutorial cara membuatnya. Tidak, bukan itu, meskipun kami di sini mendadak chef. Harus belanja dan masak sendiri ketimbang jajan.

Di edisi khusus ini, saya akan menulis tentang kolaborasi 4 mahasiswa PhD mewujudkan satu tujuan bersama yaitu makanan berbuka puasa. Kami memiliki collective vision yang seragam meskipun tetap saja kontribusinya berbeda. Ada 2 laki-laki dan 2 wanita. Tentu sangat mudah ditebak siapa yang paling berperan di dalam proyek racikan makanan ini. Tentu mereka yang berkerudung. Saya memanggilnya Teh Ira dan Mbak Dian. Kata ‘Teh’ yang disematkan pada seseorang sudah menunjukkan darimana berasal, daratan sunda, tepatnya Bandung. Sedangkan kata ‘mbak’ itu identik banget dengan jawa. Dan memang, Mbak Dian ini dari pulau Jawa yaitu Surabaya. Mengenai olahan makanan, tentu yang sudah banyak makan asam dan garam menjadi the leader. Kebetulan juga berasal dari kota yang memiliki ragam kuliner banyak, Bandung.

Dibawah komandonya, kami berbagi tugas. Mbak Dian merebus mie dan daging ayam. Teh Ira meracik bumbu. Sedangkan mas Dannis yang juga mendadak koki harus memegang panci penggorengan. Bagaimana dengan saya? Saya sendiri hanya meneruskan tradisi nenek moyang, homo sapiens, menumbuk beberapa rempah menjadi bumbu yang entah tidak tau kegunaannya. Tumbuk saja di cobek batu ukuran tidak terlalu besar. Komando tetap dari mereka sang inisiator, stakeholder kunci, Teh Ira.

Mungkin saja 1,5 – 2 jam kami berkutat dengan senjata tajam dan benda berbahaya lainnya di dapur. Makananpun siap tersaji, mie ayam jamur Nijmegen hasil kolaborasi. Citarasanya tidak jauh berbeda dengan yang ada di negeri pertiwi. Plusnya adalah porsinya berlebih, sampai dibungkus dan di bawa pulang untuk sahur. Minusnya paling rada manis dan kurang sambal. Memang cabai di sini adalah makanan sultan, mahal. Sedikit berhemat, kami menggunakan sedikit cabai saja. Kekurangan lainnya adalah saya lupa foto makanannya.

Tepat pukul 21.12, magrib tanpa kumandang adzan menunjukkan waktu berbuka puasa. Sangat berbeda dengan di dataran katulistiwa, magrib di sini adalah waktu isya di Indonesia. Kurang lebih 17 jam menjalankan kewajiban agama.