Sebenarnya bukan hanya lidah, bisa juga jari yang membantu mengetik di keyboard. Saya rasa sudah banyak contoh-contoh bagaimana powerful-nya sebuah kata yang bisa mengubah dunia. Orang mengucap kalimat syahadat (saja) sudah masuk Islam. Satu penggal kalimat yang diucapkan kurang dari 1 detik. Sama halnya dikala saya mengatakan saya terima nikahnya… dst, sudah jadi ikrar kemudian ada dampak dalam hidup saya, punya teman hidup, istri. Kalau kita kembalikan lagi ke esensinya, itu hanya kalimat, ucapan lisan yang bisa saja kita anulir. Ungkapan the power of words trending sepanjang masa. Tidak hanya sekarang. Dahulupun demikian. Bagaimana kata bisa mengubah dunia, mengubah diri kita dan mengubah segalanya. Pertanyaannya adalah, apakah benar hanya kata itu saja? Ataukah sebenarnya ada konsekuensi dibaliknya.

Sama halnya dalam riset, setelah kita bermalam-malam tidak tidur memelototi data yang ribuan itu, saatnya dipilah-pilah. Disortir, kemudian mencari evidence atas literature yang sudah dibaca. Sama ataukah tidak? Apakah ada perbedaan? Ada temuan apa? Apakah ada yang baru? Dan pertanyaan kepoisme khas peneliti pemula, dan itu saya. Dari situ kita harus melaporkan kepada ‘masyarakat’ atau publik. Saya tulis dengan tanda petik, karena memang tidak semuanya, mungkin hanya sebagian kecil saja, kami menyebutnya forum ilmiah, yaitu orang-orang yang memang kerjanya membangun pengetahuan dari membaca dan meneliti. Dari situ kemudian dilontarkan ke forum yang lebih besar, itulah publikasi. Ada laporan yang harus disampaikan oleh lisan dan juga tulisan.

Kembali ke contoh akad ijab kobul di atas, dikala saya mengatakan saya terima nikahnya Silvi… maka yang menjadi istri adalah yang bernama itu. Berbeda kalau saya ganti kata Silvi dengan Ayu atau Tias, konsekuensinya berbeda. Begitulah dengan menulis ilmiah sebagai laporan scientific. Setiap kalimat adalah dalil yang harus dipertanggung jawabkan. Harus merujuk pada etika-etika ilmiah. Itulah kenapa harus ada kutipan atas ide-ide orang lain yang kita gunakan. Peraih nobel asal Hungaria, Albert Szent-Syorgyi pernah mengatakan Research is seeing what everybody else has seen and thinking what nobody else has thought. Di situlah letaknya kenapa harus ada novelty di dalam riset dan kenapa kita harus mengatakan bahwa riset saya berbeda, riset saya akan berkontribusi terhadap ini, atau kebaruan riset saya di metode, data dan seterusnya. Kita harus belajar dari apa yang orang lain sudah pelajari dan pahami, kemudian kita mencari sesuatu yang baru atas gap yang belum nyambung. Itulah tugas kami, peneliti.

Menjaga lisan dan ketikan. Setiap kalimat adalah dalil kebenaran scientific yang kita pertanggung jawabkan bukan ke pembimbing ataupun scientific committee, mereka adalah ‘saringan’ atau ‘filter’ atas apa yang kita tulis ke debat global. Target akhirnya adalah memperkenalkan ide-ide baru ke komunitas scientific global itu. Di sinilah kenapa kalimat menjadi sesuatu yang harus dicermati, itu adalah lisan dari otak kita ke dunia global. Perubahan kata akan mengubah terminologi dan pada akhirnya akan mengubah arah gerbong riset. Ini benar-benar proses belajar karya seni baru. Kebebasan menulis dan kebebasan berujar yang benar-benar harus dipertanggung jawabkan, keren.

Lebih dari 1 tahun saya membaca literatur dan olah data untuk riset, ternyata yang saya lakukan hanya akan berkontribusi pada satu kata, informasi. Just it, no more. Itupun hanya sebagian, bukan semuanya yang saya sendiri tidak tau batasnya. Memberikan informasi baru yang kemudian ditulis di artikel tidak lebih dari 20 halaman yang sebenarnya hanya untuk menjelaskan 1 kalimat saja. Ya Tuhan… benar kata kata orang-orang terdahulu. Kalau kita tulis nikmat Allah menggunakan tinta sebanyak air samudra, itu tidak akan cukup. Benar saja. Nikmat bisa juga saya ganti dengan pengetahuan-Nya.

Belajar etika dari riset

Banyak sumber mengenai belajar etika, salah satunya dari apa yang sedang dilakukan, riset. Kita mengutip artikel orang lain itu sebenarnya bukan untuk memperpanjang daftar pustaka. Tetapi lebih ke etika ‘meminjam’ pengetahuan orang lain untuk memberikan argumen baru. Point-nya di sini. Begitupula dikala akan berargumen, pilihan kata menjadi penting riset tentang A belum ada, saya adalah pioneer-nya😊. Cukup percaya diri sekali. Berbeda kalau dengan menulis kebanyakan penelitian mengungkap ABC, penelitian ini akan berkontribusi pada… Ini karya seni berujar yang saya pelajari hari ini. Dua minggu lalu juga dikala mengganti kalimat: saya tidak paham tulisan anda menjadi bantu saya memahami tulisan anda. Itu pointnya sama yaitu makna tulisan tidak tersampaikan dengan baik tetapi dampak psikologisnya berbeda. Di sini saya belajar etika.

Kita menggunakan kata-kata khusus yang mungkin bakal disebut terlalu monoton, tapi itulah konsistensi terjadi. Ada koherensi ide dan juga terminologi yang memang dipakai atau digunakan. Coba saja cari kata welfare, well-being, dan wealth. Kalau di translate ketiga kata itu maknanya serupa yaitu sejahtera. Sama halnya dikala menggunakan kata persistence, perseverance dan resilience terjemahannya juga mirip-mirip, bersungguh-sungguh, ketahanan dan sebagainya, memiliki makna serumpun. Kenyataannya berbeda. Pada satu titik kita akan melatih lidah dan jari kita untuk konsisten tetapi juga belajar atas makna yang akan diberikan.

Santun dalam berucap. Katakan kebenaran sekalipun itu pahit, bisa juga sampaikan kebenaran sekalipun itu pahit. Kembali kecontoh saya di atas, “saya tidak paham tulisan anda” diganti menjadi “bantu saya memahami tulisan anda” inti maknanya sama tetapi cara penyampaiannya berbeda. Mengatakan kelemahan riset orang lain juga bisa dengan mengatakan kelemahan riset si A adalah…. dia tidak membahas…. dan seterusnya. Tetapi bisa juga menyampaikan fakta lainnya seperti riset si A lebih membahas… sedangkan punya saya akan membahas… agar bisa berkontribusi pada diskusi… Ada cara yang berbeda untuk menyampaikan 1 point yang sama. Itulah pelajaran etika hari ini.