Menulis artikel berbahasa Inggris untuk pertama kali. Sebelumnya hanya translating dari Indonesia ke Inggris. Sekarang benar-benar mencoba menulisnya langsung dari Inggris ke Inggris. Google translate tetap menjadi kuntji, namun fungsinya bergeser. Biasanya dari Indonesia ke Inggris, sekarang berkebalikan yaitu Inggris ke Indonesia. Saya menulis kalimat dalam bahasa Inggris kemudian menerjemahkannya ke Indonesia. Hanya untuk memastikan bahwa Inggrisnya benar dan bisa diterima dalam bahasa Indonesia – menurut saya. Sesekali menuliskannya juga dalam bahasa Prancis kemudian translate ke Inggris. Tergantung jenis/ gaya kalimat seperti apa yang ingin ditulis.

Setiap langkah pertama selalu terasa tidak mudah. Namun jarak ribuan kilometer tidak akan tercapai tanpa langkah awal ini. Lakukan saja, bismillah. Kendala pertama menulis ternyata bukan di tenses tetapi justru di koneksi ide antar kalimat. Sering disebutnya koherensi. Bagaimana setiap kalimat yang merepresentasikan ide tersusun sedemikian rupa dan membentuk aliran penjelasan. Itulah kenapa ada istilah flow in a sentence. Mengalirkan ide dari apa yang dipikirkan dan yang ingin disampaikan. Mungkin ada yang berfikir bahwa bagi yang sudah sering berbagi cerita di blog, mungkin bakal bukan pekerjaan terlalu berat. Namun, ada yang harus dipertimbangkan yaitu tulisan akademik berbeda dengan bahasa popular.

Di bahasa popular, dengan sangat bebas kita menggunakan kata saya, kami, kita sebagai subyek kalimat. Kadang justru memberikan connector di awal kalimat. Contohnya adalah: Dan kita harus memperhatikan ini disamping itu. Kata ‘dan’ diletakkan di depan. Kalau dibaca oleh guru Bahasa Indonesia pasti sudah mendapatkan ceramah 4 – 5 sks. Di tulisan akademik, sepertinya jarang ditemui, meskipun dalam beberapa jurnal yang saya baca ada juga yang menggunakan bahasa santai, rileks, tidak kaku dan yang terpenting adalah short sentence. Sekali lagi ini penting, kenapa? – saya coba jawab sendiri di bawah ini.

Simplicity is the ultimate sophistication – Leonardo da Vinci. Berfikir dan berbuat simpel. Dan kalimat pendek adalah bagian dari simplicity itu sendiri. Kenapa harus simpel? Kita menulis sesuatu untuk orang lain. Memberi tahu mereka bukan hanya bertujuan untuk memberikan pengetahuan tetapi yang terpenting justru adalah mengubah cara pandang mereka. Saya pernah menulis di blog yang sama dan menyinggung the power of words. Bagaimana kekuatan kata bisa mengubah dunia, mengubah diri kita dan semuanya di sekitar kita. Saya rasa bukan mengada-ada dikala Larry McEnerney, 7 tahun lalu mengatakan [do you think that] writing is communicating your ideas to your readers? – No, it is not, professional writing is [about] changing their ideas. Coba saja simak kuliahnya di youtube. Ada 4 kunci yang harus kita perhatikan. Simak saja videonya, bakal lebih jelas kenapa kita harus menulis dan bagaimana dampaknya.

Kembali ke simplicity, membuat sesuatu yang simple ternyata bukan perkara mudah. Banyak buku karya penulis terkenal yang benar-benar ‘hanya’ menggunakan struktur sederhana. Subject – Predikat – Obyek, konsisten seperti itu. Memang itu adalah rumus baku, tetapi tidak menutup kemungkinan mengisi subyek itu dengan kalimat yang berisi S – P – O juga. Pasti sudah tahu apa itu noun clause dan clause-clause lainnya. Semakin pendek semakin canggih menurut saya karena dikala memperpendek kalimat harus memperkaya kosakata. Mengulang sebagian ide kalimat awal ke kalimat selanjutnya adalah cara membuat mengalir. Dan sering sekali panjangnya penjelasan cukup diganti 1 sampai 2 kata. Memanjakan pembaca, dan itu adalah tantangan menulis. Dan tantangan sedang berada di depan saya. Kalau Wiji Tukul mengatakan hanya satu kata, lawan. Saya cukup mengatakan: hanya satu kata, bismillah. Harus melangkahkan kaki, mau atau tidak mau, harus.

Conjunction flood

Selain kebanjiran data, ternyata tulisan yang sudah direvisi lebih dari 4 kali juga kebanjiran conjuction. Kata sambung, demi upaya membuat flow tadi. Mengulang sebagian ide di kalimat awal kemudian dijelaskan kembali. Sama persis dikala kelas 2 SMA, mendapatkan tugas membuat tulisan singkat 1 lembar. Mata pelajaran bahasa Indonesia, waktu itu. Oleh karena itu… Akan tetapi… dan kata penghubung lainnya membanjiri manuskrip dari abstrak hingga kesimpulan. Terkadang senyum-senyum sendiri atas tulisan sendiri, tetapi juga bagaimana memperbaikinya. Ah.. itu tahap lanjut pekerjaan saya.

Vocabularies, the most important. Bagi yang konsen ke struktur kalimat, bolehlah duduk di belakang dulu. Semoga hanya testimoni pribadi, tetapi yang terpenting justru kosakata. Ini bukan hanya menunjukkan arti translasi tetapi makna kontekstual dan terkadang justru makna budaya. Di tulisan berbeda pernah saya singgung welfare, wellbeing, dan wealth untuk menjelaskan arti kesejahteraan. Nyatanya itu berbeda konteksnya. Beda banget. Dan ini penting untuk membuat simplicity tadi. Coba kita praktekkan. Kesejahteraan psikologis adalah…. apakah akan ditulis psychological welfare is…. Dua kata (psychological welfare) itu bisa digantikan oleh well-being. Ringkas sekali dikala kita tahu maknanya, tanpa harus menjelaskan kata demi kata. Dari situ tidak hanya terbentuk koherensi tetapi juga padat.