Yang tersulit dalam menulis itu bukanlah bagaimana menulis tetapi apa yang akan ditulis. Menurut saya ‘bagaimana menulis’ itu berkaitan dengan gaya tulisan, grammar menjadi bagian di dalamnya. Sedangkan ‘apa yang akan ditulis’ merujuk pada isi tulisan dan untuk apa, atau tujuan menulis. Dikala kita sudah mampu menunjukkan jari kita ke tujuan itu maka tahap selanjutnya adalah memperhitungkan siapa yang akan membacanya, readers. Bukan perkara enteng juga setelah tahu siapa yang akan membaca, karena kita harus mempelajari ‘kode-kode’ yang berlaku di komunitas tujuan itu. Dan pada akhirnya kita akan belajar bahasa. Iya..bahasa. Sebagai contoh begini: tidak mungkin kita akan menulis mengenai economic engine yang ditujukan kepada mereka para insinyur mesin. Tetapi mungkin saja bakal pas dan sesuai untuk para ekonom, meskipun ada kata engine di situ. Contoh lain dikala kita menggunakan istilah first law of geography, bukan berarti para pembaca adalah mereka para pemegang gelar sarjana hukum. Dan bukan juga para geographer yang belajar hukum. Sama sekali bukan. Lagi-lagi vocabularies, mempelajari istilah-istilah baku yang berlaku di lingkungan mereka kemudian kita ‘nimbrung’ untuk ikut berdiskusi, mendebat, menyanggah atau justru mendukung. Itu yang saya sebut sebagai ‘kode-kode’ atau dalam bahasa sok ilmiahnya adalah terminology. Setiap kata memiliki tujuan dan artinya masing-masing, kalau di dalam statistik, kami menyebutnya vector. Besaran satuan yang memiliki arah atau tujuan. Kita ambil contoh lagi yang lain. Fog, smoke, dan cloud kalau ditranslasi akan berarti kabut, asap dan awan. Kata fog (foggy) itu muncul pertama kali di Skandinavia pada tahun 1600-an merujuk pada kebakaran semak-semak yang kemudian membentuk asap menyerupai awan (smoke & cloud), fog sendiri diartikan semak-semak di bahasa Irlandia. Jadi ada yang menyimpulkan begitu, fog adalah asap/ kabut yang bersumber dari semak-semak terbakar. Ini yang kemudian saya sebut sebagai makna tujuan atau vector tadi. Sudah tidak mungkin kalau asap rokok kita translasi menjadi fog, melainkan smoke. Nah begitu kurang lebih. Sekali lagi kita ada pada titik untuk belajar bahasa kembali. Mempelajarinya bukan hanya dari sisi translasi tetapi juga dari latar budaya hingga etymology atau asal kata.

Di dalam menulis, tentu ada misi yang dibawa. Ada ‘modal’ yang akan dikenalkan ke mereka. Modal itu sering disebut sebagai novelty atau sesuatu yang bersifat anyar. Contoh lagi, dalam dunia masak memasak, kita bisa menambahkan garam agar ada rasa asin. Dikala garam itu diganti oleh mentega untuk mendapatkan rasa yang serupa namun mungkin justru lebih enak atau lebih sehat maka itulah novelty. Ada fungsi ‘promosi’ di sini maka bahasa yang digunakan juga harus sedikit merayu, persuasi. Mengajak untuk meluangkan waktu, membacanya dan akhir tujuannya adalah mengubah perspektif berfikirnya. “Professional writing is [about] changing their ideas” begitu kata Larry McEnerney dalam kuliahnya. Cek saja di sini: Conjunction flood: balada artikel berbeda bahasa. Jadi bukan hanya menjelaskan seperti pak guru di depan kelas berpidato. Bukan explaining apalagi describing tetapi justru persuasif, meskipun di dalamnya tidak bisa menolak adanya explain dan describe itu.

Setelah tau siapa readers kita, maka selanjutnya yang harus mulai dipikirkan adalah value. Ada sumbangan nilai yang selama ini ‘tidak dianggap’ atau mungkin mendapatkan perhatian sedikit untuk dipromosikan menjadi inovasi baru. Contoh yang menurut saya sangat bangus benget dan selalu menjadi contoh adalah tulisannya Prof. Otto Soemarwoto di buku beliau yang berjudul ‘Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan’. Kalau saya tidak keliru di sekitar halaman 30 – 40 di sub bab mutu hidup. Beliau menjelaskan bagaimana faktor lingkungan lebih berpengaruh terhadap sifat mahluk hidup dibandingkan sifat genetisnya. Beliau mencontohkan jika ada 2 orang kembar identik dimana mereka memiliki kemiripan genetis kemudian dipisahkan di tempat yang berbeda dalam kurun waktu lama maka akan terbentuk karakter yang benar-benar berbeda. Simpel sekali beliau menjelaskan bagaimana proses adaptasi terwujud. Salam hormat untuk beliau yang telah mampu membumikan istilah langit. Itu adalah value yang sangat berguna yang dipelajari dari ilmu biologi dan juga ekologi, dan saat ini menjadi tranding di jagat literatur resilience city. Terutama di Indonesia. Lagi-lagi bahasa. Dan itu yang selama ini saya sebut sebagai seni.

Kumpulan kata yang berada di tangan komedian akan menjadi cerita lucu. Di tangan penyair menjadi puisi dan di tangan penyanyi menjadi lagu. Dan di tangan ilmuan bisa mentranslansi pengetahuan yang komplek nan rumit menjadi informasi yang rasanya mudah sekali dipahami. Rasanya tidak ingin berhenti membaca setiap pilihan yang dia gunakan. Bagi yang suka studi-studi pembangunan, banjir dan climate change coba saja baca buku Climatopolis karya Matthew Khan. Bahasanya mudah, ringan dan mungkin saja bisa mengubah cara pandang kita akan sebuah kota.