Saya mengenal banyak orang batak yang mahir berbahasa Jawa di Semarang. Ada juga teman berasal dari Mataram, juga bicara bahasa Jawa. Dan masih banyak lagi contohnya. Tidak ada kursus bahasa Jawa di sana. Tidak ada, tidak ada sama sekali. Tetapi kebiasaan orang Indonesia (termasuk orang Jawa) yang selalu mengajak ngobrol memaksa mereka belajar dan pada akhirnya bicara bahasa daerah. Awalnya mungkin hanya ‘nggih’ dan ‘mboten’ atau ‘ya’ dan ‘tidak’. Kalimat pendek yang hanya bisa dijawab ‘ya’ dan ‘tidak’, tanpa bisa menjelaskan kenapa ya dan kenapa tidak. Itu adalah bagaimana mereka belajar pertama kali bahasa tanpa ada tutor khusus.

Kondisi itu sepertinya menghampiri. Harus belajar bahasa tanpa tutor melainkan langsung di lingkungan mereka. Sama halnya dikala kita tidak pernah berenang kemudian tidak ada pilihan harus bekerja di air tidak dangkal. Renang menjadi kebutuhan dasar yang musti dimiliki. Tidak peduli menggunakan gaya apa, kupu-kupu, dada, atau gaya bebas. Bukan atlit renang, yang terpenting tidak tenggelam dan bisa melaju dari titik A ke titik B sesuai dengan tujuan yang sudah diniatkan. Proses alami, natural, dari lingkungan dan bukanlah dari text book apalagi youtube yang mengajarkan skill. Meminjam analogi itu, rasanya tidak jauh berbeda dengan bahasa. Mereka, orang Belanda, juga memiliki budaya yang relatif sama dengan di Indonesia. Ajak ngobrol dan berinteraksi satu sama lain. Ngobrol apapun, dari sekedar menanyakan kabar hingga diskusi mengenai bitcoin, yang saya sendiri tidak tau persis apa itu.

Setiap masuk lewat gerbang apartemen, bertemu oma atau opa, berjalan menggunakan alat bantu jalan beroda menyapa ”hallo” atau mungkin hanya “Goedemorgen”. Awalnya hanya menjawab dengan kata yang sama “hallo” dan juga “goedemorgen”, sudah cukup. Rasanya sosialisasi sederhana sudah cukup, tetapi dikala hari kedua atau ketiga bertemu lagi maka kata itu tidaklah cukup. Mungkin akan bertanya mengenai ”kamu siapa?, dan tinggal dimana?” dan tidak mungkin kata pamungkas “Ja” dan “Nee” bekerja lagi. Harus mencari kata-kata lain untuk menjelaskan. Tidak peduli struktur kalimatnya bagaimana. Mau Subyek-Predikat-Obyek atau mungkin Obyek-Subyek-Predikat. Asalkan mereka paham inti yang dibicarakan, ya itulah komunikasi.

Dikala kursus bahasa formal mungkin skill itu akan berlevel dari beginner, elementary, intermediate, dan advanced. Nilai-nilai dari setiap level itu bisa ditunjukkan oleh selembar sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga bahasa yang mengajari kita. Berbeda dikala belajar bukan dari tempat kursus, melainkan langsung ke lingkungan masyarakat, mungkin saja akan ada tingkatan dimana (1) kita tahu sebagian kata-kata bahasa mereka tanpa bisa memberikan respon, (2) kemudian bisa memberikan respon dengan jawaban pendek “Ja” dan “Nee”, (3) mulai bisa memberikan respon dengan kalimat pendek, contohnya: Ik ben Santoso uit Indonesie, (4) mulai bisa merespon dengan penjelasan. dan (5) Berdiskusi dengan kalimat dan budaya mereka. Dari 5 level itu, saya masih di urutan ke dua. Itupun dari evaluasi diri selama diajak ngobrol sama mereka hanya menjawab Ja, Nee, Ik ben… dan seterusnya.

Bahasa adalah alat komunikasi dari apa yang ada di otak dan di hati. Ada bahasa universal lain yang lebih tinggi dibandingkan gramatikal dan alfabet A, B, C hingga Z yang kemudian membentuk kata dan kalimat. Bahasa universal itu berada di lingkungan sosial kita sendiri. Sama dikala kita mengacungkan jempol yang bisa diartikan bagus/ good/ goed. Sama juga dikala ingin mengatakan maaf/ sorry cukup menempelkan dua telapak tangan seperti menyembah. Mereka juga paham atas bahasa universal itu. Yang terpenting dari setiap rangkaian itu adalah berkomunikasi kemudian tambahkan gaya kalimat untuk menjadikannya lebih native. Semuanya masih berproses.

One thought on “Sekolah pergaulan, tidak ada pilihan harus ‘berenang’

Comments are closed.