Autumn atau herfst dalam bahasa Belanda baru berlangsung. Dedaunan hijau telah berubah warna menjadi kuning keemasan dan berjatuhan, berserakan di sepanjang jalan. Suhu udara mulai menurun, kisaran 10° dan sesekali berada di bawahnya. Udaranya kering, tidak lembab dan tentu kurang bersahabat untuk saya yang memiliki alergi dingin dan bisa berakibat asma. Perjalanan 24 km ulang – alik dari kota sangat kecil (Cuijk) ke kota kecil agak gede (Nijmegen) rasanya dingin dari ujung rambut hingga kuku kaki. Meskipun sudah terbalut oleh kaos kaki tebal dan juga penutup kepala wool. Bukan orang kutub, tetap orang katulistiwa yang harus beradaptasi dengan galaunya suhu eropa. Dan belum berhasil.

Energi dari sarapan secangkir kopi pahit dan roti keju rasanya belum memenuhi tanki ‘bensin’ untuk mengayuh pedal sepeda sepanjang itu. Sampai Nijmegen, lapar lagi dan makan lagi. Perubahan alam menuntut perubahan kalori badan, rasanya begitu. Energi yang dikeluarkan harus diisi lagi untuk melawan dinginnya suhu, yang sebenarnya belum benar-benar berada di bawah. Bakal lebih dingin lagi di bulan depan dan depannya lagi.

Menguningnya dedaunan saya coba abadikan menggunakan kamera ala kadarnya. Dan jadilah video di bawah ini. Tidak ahli di bidang videografi, hanya hore-hore saja sambil mengingat Ara, si bungsu, yang selalu mengambil daun kering kemudian disimpannya di buku. Diselip disela-sela buku tulisnya, entah untuk tujuan apa. Memang indah bagaimana alam ini mengatur warnanya dan menyeimbangkannya. Mungkin itu yang ‘sedang dinikmati’ oleh Ara dikala dia menyelipkan daun kering di bukunya.

Disepanjang jalan, memang sampah dedaunan mulai menggunung di pinggir-pinggirnya. Dikumpulkan di bak-bak terbuat dari anyaman besi kemudian diangkut ke TPA untuk selanjutnya diolah menjadi kompos. TPA adalah pabrik pupuk di sini. Bagaimana mereka mengatur dan bersinergi dengan alam, rasanya itu pelajaran terbaik dari pandangan mata dibalik lensa Gopro. Nature-based approach, mereka bilang begitu di teori-teori yang beredar meluas di google. Belajar dari alam yaitu bagaimana alam membuat keseimbangannya kemudian manusia hanya andil memanfaatkannya. Itu pelajaran dibalik dinginnya udara sepanjang hari. Teori dan pengetahuan bukan lagi bahasa langitan, benar – benar diterapkan dan benar-benar menjadi dasar mereka berbuat sesuatu atas alam dan kemaslahan kehidupan mereka.