Bekerja untuk riset saya sendiri, bukan bekerja dalam arti menjadi staff perpustakaan di Pemda Cuijk. Seperti bahasa Prancis, perpustakaan diterjemahkan sebagai bibliotheek dan bukanlah library. Bukanya juga tidak rutin selayaknya perpustakaan di Indonesia. Terkadang jam 08.00 – 17.00, kadang juga jam 13.00 – 20.00. Seperti di kala saya menulis blog ini, datang di pukul 14.00 karena bukanya saja baru jam 13.00. Petugasnya cuma dua, duduk di resepsionis. Mereka melayani peminjaman buku hingga menyapa setiap tamu yang masuk ke perpustakaan. Goetenmorgen, goetenmidag, atau terkadang cuma hai welkom, khas sapaan londo. Tapi itu bukanlah yang menarik bagi saya, bukan juga buku-bukunya yang kebanyakan berbahasa Belanda. Saya tidak mudeng bahasa ini, meskipun sudah lebih dari 5 bulan berada di negeri tulip ini, hanya beberapa kata sederhana dan percakapan pendek seperti saya akan pergi ke kampus, saya mau ini, mau itu. Untuk struktur kompleks, belum bisa sama sekali.

Yang menarik dari perpustakaan ini selain karena lengkapnya fasilitas, juga bagaimana antusiasme warga datang sekedar duduk sambil membaca koran atau justru membawa beberapa buku ke rumah mereka masing-masing. Mereka sudah tidak berumur muda lagi, saya yakin sudah di atas 50 tahun. Mereka datang bersama pasangan mereka masing-masing, bergandengan tangan, mengambil buku, membacanya kemudian meninggalkan ruangan setelah beberapa jam berada di dalam. Minat baca yang luar biasa.

Memang nyaman ruang kerjanya, ada meja besar untuk bekerja, seperti saya saat ini. Menggunakan meja di pojokan ruangan untuk membaca dan mengerjakan paper tugas kampus. Internet di sini memang kenceng, saya bisa terkoneksi dengan jaringan internal kampus untuk memudian akses koleksi jurnal mereka, download, baca dan memasukkannya ke EndNote yang juga diberikan oleh ICT kampus. Di samping saya, ada seorang peneliti yang sedang mengerjakan proyek postdoc bidang kesehatan. Dia memanfaatkan meja dan ruang yang sama. Sesekali ngobrol mengenai riset dan juga metode riset. Kebetulan dia menggunakan kuantitatif, jadi saya bisa unduh pengetahuannya untuk riset saya. Alhamdulillah, ada tutor gratisan dipertemukan.

Kembali ke ruang kerja publik di perpustakaan ini. Selayaknya working space yang dilengkapi dengan dispenser kopi relatif murah, 1 euro. Serasa tidak perlu menyewa ruang kerja mahal seperti cafe di Semarang. Layanan gratisan dari pemda yang sangat nyaman dan juga informatif. Perpustakaan adalah taman baca, dibuat layak dan menyenangkan melebihi gramedia. Bener-bener seperti toko buku lengkap dengan iklan-iklan buku terbaru hingga pelatihan-pelatihan yang ditawarkan baik oleh perpustakaan maupun oleh pemda.

Sesekali saya melirih ke meja ujung, tempat oma dan opa saling terdiam menunduk ke buku yang mereka pegang. Rasanya hidmad sekali. Tidak tau sedang membaca apa mereka, sepertinya enjoy sekali, terpaku di buku mereka masing-masing. Beberapa kali ke sini saya bertemu dengan banyak orang-orang sepuh yang tidak sama, selalu berganti dan tidak pernah kosong. Selalu terisi entah di meja baca atau justru di sofa-sofa tanpa meja. Mereka begitu hidmad dan tidak segera beranjak dari tempat duduknya. Literasi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan mereka tanpa harus dipromosikan tetapi sudah menjadi bagian rutinitas.

Saya malu atas kondisi ini. Membacanya saya karena urusan pekerjaan, riset sekolah. Sedangkan mereka membaca memang untuk hidup mereka tanpa ada target untuk membuat laporan, publikasi apalagi laporan keuangan nan ribet. Dengan kesadaran masing-masing melangkahkan kaki keluar rumah dan menuju perpustakaan. Literasi tidak perlu dipromosikan karena memang sudah menjadi kebutuhan mereka.

Bagi yang suka masak, silakan nongkrong di stand majalah masakan. Atau mungkin ada yang senang membaca buku-buku filsafat dan juga agama, dipersilahkan juga diujung rak ada buku-buku itu. Benar-benar semuanya terawat, terbaca, dan terpakai. Urusan mengembangkan diri benar-benar menjadi tanggung jawab sendiri.