Deadline lagi, hari ini adalah batas waktu saya mengirim hasil review artikel ke IJDRR. Niat awal saya mengalokasikan waktu 1 jam untuk membaca dan memberikan feedback, namun mata saya justru terpaku di artikel dengan jumlah lebih dari 46 halaman. Meskipun berkaitan dengan manajemen bencana tetapi artikel ini tidak berkaitan sama sekali dengan tesis yang sedang saya kerjakan. Sama sekali tidak, justru berhubungan dengan artikel mereka, mahasiswa yang pernah saya bimbing (Contohnya adalah ini, ini dan ini) yaitu mengenai local knowledge. Terpakunya saya atas tulisan ini bukan karena materinya tetapi cara menulis yang begitu runtut dan terhubung seakan-akan rugi sekali dikala saya harus konsisten dengan alokasi 1 jam yang sudah saya rencanakan. Dan akhirnya ini sudah melebihi waktu, tetap saja mouse naik-turun scroll up dan scroll down mencermati bagaimana sang penulis berargumen atas idenya dan menyajikannya dengan begitu perfect (menurut saya). Maaf saya tidak bisa membuka isi artikel ataupun siapa penulisnya, itu bagian dari kode etik yang harus saya pegang. Yang pasti dari 12 artikel (dan ini yang ke-13) yang sudah saya review bersumber dari jurnal yang sama, menurut saya disinilah saya menemukan paku bumi yang menjadikan saya harus berlama-lama membaca. Sedikit mengesampingkan kalau besok adalah deadline untuk pekerjaan yang lain.

Apa yang saya cari ada di sini, koherensi ide yang relatif mirip dengan gaya bahasa Indonesia namun berbahasa Inggris. Gaya yang selama ini selalu mendapatkan gunjingan sebagai Javanglish atau jawa english, ternyata bisa saya temukan dari tulisan orang lain yang bukan berasal dari Indonesia apalagi jawa. Kami reviewer, memang bisa mengetahui siapa nama penulisnya setelah mereview beberapa kali. Untuk review pertama dan kedua, biasanya memang nama penulis dihapus, tetapi setelahnya kami bisa melihat siapa mereka, dan berasal dari mana. Jadi saya bisa tahu persis, dia bukan wong jowo dengan bahasa yang begitu ringkas dan struktur yang tidak jauh berbeda dengan kami, Jawa Indonesia. Saking senengnya atas bacaan ini, akhirnya saya mengambil buku dan ballpoint, mencatat satu-persatu konektor-konektor kunci yang saya anggap menarik.

Vocabularies mining

Ada kamus dan juga ada google translate, kenapa harus mencatat lagi? Iya memang, tapi bagi saya yang memiliki IQ tidak sebagus orang-orang di luaran sana, maka mencatat tetap menjadi instrumen belajar terbaik meskipun klasik. Meringkas dengan menulis ulang (tidak melakukan restatement sama sekali), itu gawean saya di kala mata dan otak sudah capek dengan rutinitas membaca. Dengan menulis, mata tetap bekerja tetapi tidak terlalu berakomodasi, sedangkan otak mulai bisa menurun temperaturnya agar tidak over heat.

Saya tulis satu per satu, bagaimana penulis menghubungkan antara 1 ide dengan ide lainnya. Terkadang juga terasa tidak nyambung, tetapi setelah kita pahami content dan pesan idenya ya sebenarnya nyambung juga. Jadi ide itu bukanlah berdiri sendiri-sendiri atau parsial, menjadi paket dari keseluruhan tulisan. Dia menulis dengan sangat pendek, setiap kalimat tidak lebih dari 3 baris dengan struktur yang begitu jelas yaitu S – P – O, untuk menghubungkan setiap kalimat dia melakukannya dengan 2 cara yaitu: menambahkan connector atau justru tidak. Dikala tidak menambahkan connector, dia menjelaskan ide kalimat inti atau induk kalimat di bagian awal setiap paragraf. Memang kita mengenal induktif, deduktif, dan campuran di dalam menyusun paragraf. Tetapi kenyataannya kebanyakan tulisan ilmiah menggunakan deduktif dibandingkan model lainnya. Sependek pengetahuan saya begitu.

Cara mendebat yang santun ada di tulisan yang harus saya rahasiakan ini. Contoh cara dia mendebat begini: “Pak Wito (2020) menjelaskan bahwa soto di Indonesia memiliki 3 varians yaitu soto Semarangan, soto boyolali dan coto makassar. Kami juga menemukan kategori lain yang selama ini tidak banyak diungkap yaitu: soto magelangan, soto surabaya dan soto madura”. Itu hanya contoh sederhananya, kenyataannya dia membantah sebuah teori yang selama ini viral di dunia disaster risk reduction. Harus angkat topi atasnya. Keren.

Selain itu, rasanya dari proses ini saya juga memiliki jawaban tambahan mengenai apa untungnya menjadi seorang editor dan reviewer jurnal? (baca di sini). Tulisan atas inspirasi dari penolakan undangan mereview artikel dengan mempertanyakan: apa untungnya bagi saya menjadi seorang reviewer? Bagi saya sendiri ternyata dengan mereview memaksa kita untuk membaca, memberikan feedback untuk membantu mereka berfikir lebih kritis. Reviewer bukan pembantai meskipun keputusan rejected terkadang harus kami keluarkan. Kami juga bukan barisan orang yang mencari kelemahan dan kekurangan atas sebuah ide, kami hanyalah partner untuk berdiskusi. Baiklah.. sudah saatnya kembali memanen konektor dan gaya menulis yang santai.