PhD ini mengajarkan saya bahwa ternyata bukan hanya memahami obyek riset atau ‘problem understanding’ tetapi lebih dari itu yaitu trajectory. Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia mungkin bisa disebut sebagai lintasan, trak atau garis yang menghubungkan antar sub topik untuk menjawab isu yang dianggap agak besar. Isu-isu yang diambil dari perjalanan literatur, membaca berbagai literatur internasional dan lokal. Literatur internasional bukan berarti artikel yang diterbitkan di jurnal internasional tetapi lebih pada lingkup bahasan yang benar-benar sedang happening di debat global. Contoh paling gampang adalah perdebatan climate change atau mungkin yang rada spesifik adalah bagaimana mengintegrasikan local knowledge dengan climate change. Itu adalah diskusi global yang memang sedang ‘anget-angetnya’ dibahas, ditunjukkan oleh banyaknya publikasi saat ini.

Untuk ikut nimbrung di situ, kita bukan hanya dituntut untuk memahami apa yang sedang mereka perdebatkan tetapi ikut andil di dalam debat itu. Caranya dengan memilih ‘senjata’ atau materi yang kemudian sama-sama kita lontarkan di dalam forum debat tertulis (baca: publikasi ilmiah). ‘Senjata’ yang dipilih itu bisa diartikan sebagai teori tertentu yang dianggap sudah establish guna ikut menjelaskan fenomena/ isu global dan pada akhirnya terlibat di dalam upaya menanganinya. Maka di sini ada 2 porsi yang harus dipahami yaitu memahami dan upaya menangani. Tidak harus benar-benar menyelesaikan sebenarnya tetapi, upaya mengarah penyelesaian persoalan, itu juga menjadi tantangan di dalam PhD trajectory. Dari sini, sebenarnya dapat dipahami bahwa publikasi itu merupakan bagian dari kontribusi solusi berdasarkan ‘senjata’ yang kita gunakan.

Dalam studi PhD, seorang peneliti dituntut untuk menyelesaikan beberapa paper. Beragam, ada yang 2 paper, ada yang 3 paper ada juga yang hingga 4 – 5 paper. Sangat bergantung pada sekolah dimana belajar dan juga tema riset. Bagi tema-tema besar nan sulit, mungkin 2 paper itu sudah cukup atau setidaknya 3 paper. Tetapi kenyataannya ada juga yang lebih. Apakah jumlah paper menjadi standar PhD? – Rasanya kok tidak. Sekali lagi ini menurut saya. Penentunya adalah trajectory, lintasan riset untuk menjawab pertanyaan besar penelitian. Saya ilustrasikan berdasarkan riset saya sendiri yang menggunakan 3 teori yaitu (1) adaptation theory, (2) theory of planned behavior, dan (2) hedonic price theory yang lebih terkenal dengan hedonic pricing method (HPM). Di HPM ini kita harus menentukan model regresi karena ada asumsi bahwa hedonic model bisa juga disebut sebagai hedonic regression model. Yang menjadi pertanyaan adalah model regresi itu tidak hanya 1 yaitu f(Xi, β) = β0 + β1Xi + εi tetapi banyak banget. Ada regresi linear dan non linear. Ada regresi logistik dan regresi biasa. Ada juga regresi berbobot dan ada pula regresi berbobot berdasarkan geografi. Dan tentu masih banyak lagi di luar sana. Sehingga menentukan model regresi untuk memodelkan harga hedonic, menjadi rukun riset yang hukumnya wajib. Tanpa itu, maka riset tidak akan berjalan. Ibarat memasak, ini merupakan tahapan memilih alat yang cocok agar efektif. Ada tahapan yang tidak boleh dilewati, harus dihadapi dan di lakukan. Itulah bagian cari rantai riset trajectory. Contoh ini adalah rangkaian riset dari sisi metode, sedangkan dalam PhD bukan hanya masalah metode tetapi lebih ke output/ jalur cerita riset dari paper 1 hingga akhir. Story telling berdasarkan paper-paper yang terpisah.

Story telling dari artikel terpecah

Bagi saya, ini yang tersulit yaitu bagaimana merangkai cerita dari artikel terpecah. Kalau cerita itu disusun berdasarkan kontruksi teori yang sudah ada, mungkin tidak akan memiliki pengalaman berbeda. Sebagai contoh begini. Konstruksi rumus pitagoras a2 + b2 = c2 kemudian kita pecah paper 1 akan menjelaskan a2, paper 2 menjelaskan b2 dan paper 3 akan menjelaskan c2 kemudian dibandle menjadi 1 buku tesis. Apakah seperti itu? – jawabannya tidak. Kalau seperti itu maka tesis kita tidak akan lebih dari retelling teori yang sudah disampaikan oleh Pak Pythagoras pada tahun 570 sebelum masehi lalu. Yang harus dijadikan trajectory justru adalah argumentasi teoritis berdasarkan penggabungan bermacam teori untuk menjelaskan 1 fenomena. Seperti orang yang meneliti cancer, apakah harus dijelaskan dari ilmu kedokteran? – Teman-teman statistik banyak yang ikut terlibat untuk memodelkan bagaimana pertumbuhan cancer terbentuk hingga bisa memperkirakan kapan orang tertentu bisa bertahan. Itu adalah kontribusi teman-teman statistik. Sama halnya dikala ada orang yang patah tulang kemudian di pasang pen, itu adalah kontribusi dari teman-teman teknik mesin dalam dunia kedokteran. Jadi sekali lagi story telling dalam membuat trajectory argumen teori tidak dilakukan berdasarkan argumen yang sudah ada. Justru membentuk argumen baru dengan mempertimbangkan argumen/ pendapat-pendapat peneliti sebelumnya.

Stand on the shoulders of giants. Google scholar mengutipnya di bilah pencariannya. Dijelaskan di Wikipedia.org sebagai berikut: “Using the understanding gained by major thinkers who have gone before in order to make intellectual progress“. Kita menggunakan pengetahuan pemikir-pemikir sebelumnya untuk membuat progress intelektual, kurang lebih begitu. Kuncinya adalah di intelectual progress, itulah hasil dari trajectory riset untuk membuat argumentasi teori yang kemudian kita berikan kembali ke publik. Meskipun pada akhir riset tidak menutup kemungkinan hasilnya adalah memperkuat pendapat orang lain, tetapi hampir dipastikan riset PhD akan mengusung sesuatu yang baru entah dari data yang digunakan, metode yang dia pakai, atau justru perspektif teoritis yang berbeda. Dari sinilah cerita intelektual akan segera dimulai.