Ini adalah refleksi riset selama kurang lebih 1,5 tahun. Tepat sesuai dengan kurikulum yang berada di negara saya studi, 1,5 tahun untuk menyusun proposal riset. Dan puji Tuhan, merangkak untuk segera dipertahankan. Ujung dari penggal pertama perjalanan riset yang mungkin akan ditempuh sebelum temperatur udara menjadi hangat. Di balik itu, ada perjalanan hidup yang ingin saya tulis, inspirasi dari apa yang dialami dalam kesendirian, hanya bersenda gurau melalui whatsapp, diskusi virtual dan beberapa kali coding error. Bahkan hingga sekarangpun setidaknya masih menghadapi 3 masalah coding. Belum ketemu solusinya. Menjadi diri sendiri, ini berkaitan dengan tulisan di sini (bertanggung jawab atas lidah). Harus menjadi diri sendiri. Setidaknya ada 4 tahapan menuju pada satu titik kesimpulan. Akan saya jelaskan satu persatu.

Hanya menjadi penerjemah dan tukang ketik. Itu tahapan awal saya masuk ke dunia riset mandiri. Menjadi periset independent. Pertemuan awal dengan supervisor dilakukan secara online di aplikasi zoom. Mereka di Belanda, dan saya ada di negeri katulistiwa. selama 1 jam kami hanya saling bertegur sapa, memperkenalkan diri lebih dalam, membahas perihal administrasi beasiswa hingga membuat janji ulang guna membahas tema riset yang akan dikerjakan. Persis seperti pertemuan pertama kelas conversation bahasa Inggris. Mereka menanggapi ide riset saya dengan cara saling mensinkronkan frekuensi. Berdiskusi sendiri tanpa ada pertanyaan berarti dan substansial. Tidak berhenti di sini, di pertemuan-pertemuan selanjutnya hanya menjadi pendengar setia dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan short answers, seperti praktik IELTS. Yes/No, dan beberapa kalimat pendek. Bahkan ide-ide operasionalisasi riset relatif tidak muncul dari saya, seorang PhD student. Ide justru dari mereka yang terus saling ngobrol berdiskusi hingga pada akhir waktu meeting. Di tahap akhir, ‘bola’ hasil diskusi teoritis kedua supervisor dilempar ke saya sambil bertanya: ‘What do you think?, do you agree? Or do you have any other ideas, let us know’ Dan hampir dipastikan, hanya mengatakan: Yes, I do (agree). Mungkin selama 4 – 5 kali pertemuan seperti itu, dimana setiap pertemuan berdurasi selama 1 – 1,5 jam dengan jeda 2 minggu untuk sinkronisasi ide.

Bertemu petarung dan motivator. Setelah arah riset sudah terlihat, ternyata ada perbedaan peran diantara mereka. Kami fokus di metode riset, data yang mungkin bisa diakses hingga trajectory publikasi dari paper 1 hingga paper 4 (minimal itu), yang kemudian akan menjadi bab di laporan disertasi. Itupun mereka yang berfikir, mereka berdebat hingga pada satu titik bahwa semua ide itu tidak mungkin dilakukan. Ada keterbatasan baik biaya, waktu maupun tenaga. Di sinilah awal mula berargumentasi. Bukan hanya yes/no answer tetapi mulai memberikan pendapat dengan melihat beberapa batasan tadi (biaya, waktu dan tenaga). Metode yang diajukan akan selalu didebat, dibongkar, hingga harus memilih: bahwa itu bisa saya lakukan dan yang ini tidak bisa saya kerjakan. Berdebat dengan hanya 1 supervisor, sedangkan yang lain justru membantu dengan cara memberikan beberapa ‘hadiah’ riset. Contoh hadiahnya adalah: memberikan problem statement, memberikan research question, hingga scoping riset. Seperti di dalam film-film persilatan, yaitu ada satu tokoh yang memang bertarung sedangkan yang lain hanya berdiri di samping lapangan dan mengamati. Hanya mengamati dan di akhir pertarungan dia hanya bilang : perhatikan kuda-kudamu.

Tidak selamanya, sang motivator di pihak kita. Dikala metode riset hingga data sudah semakin jelas tahap selanjutnya adalah berlatih bertarung justru dengan sang motivator. Seorang guru yang awalnya hanya berdiri terdiam di pinggir lapangan, sekarang justru berada di tengah arena dan membuat formasi kuda-kuda siap menyerang. Berbedanya adalah serangan-serangan kritis bukan di metode, melainkan di teori. Saya hanya menjelaskan alur riset dengan mengutip beberapa literatur dan dia akan mengarahkan dengan bertanya (contoh): Does adaptation theory underlie your research? I think the resilience theory is much better. What do you think? Umpan-umpan pertanyaan dimana jawaban atasnya mungkin harus membaca lebih dari 10 – 20 artikel. Di sisi lain, dikala underpinning theory bergeser maka metode dan data yang sudah terumus sebelumnya juga akan berubah. Di sinilah, argumentasi teoritis menjadi kebutuhan. Beragumentasi dengan menggunakan vocabularies baru hasil dari article mining, yang terkadang masih dalam ranah perdebatan. Coba cek saja definisi tentang risiko, ada lebih 5 definisi yang ada di dunia ini. Mana yang harus diacu, sedangkan dibalik itu ada konsekuensi penjelasan, pemahaman hingga penggunaan. Sebagai contoh risiko investasi dengan risiko banjir, itu sudah menunjukkan bidang yang berbeda. Definisinya juga berlainan.

Tidak ada teman, harus menjadi diri sendiri. Di tahap 1, saya hanyalah ‘relatif pasif’, mendengar, menulis dan kemudian berargumen dimana sebenarnya hanya menerjemahkan ide-ide mereka. Tahap 2 dan 3, salah satu dari mereka adalah lawan ‘bertarung’. Di tahap akhir ini, justru tidak ada teman dan tidak ada lawan. Mereka berdebat mengenai tema riset yang akan dikerjakan. Saling mempertahankan pendapat dan idealisme. Mungkin hampir 30 menit, debat teori itu terjadi. Dan di titik akhir, saya harus menyimpulkan: mana yang benar. Dengan hanya menjawab 1 pertanyaan: what do you think? Bagi saya, ini adalah tahapan tersulit, seorang jawa dimana unggah-ungguh selalu dijaga dan menganggap yang senior adalah yang benar. Seorang guru/ ustad tidak pernah salah, ternyata harus dihadapkan pada pertanyaan penjurian. Memilih mana yang benar, ataukah justru memiliki pendapat sendiri. Semuanya dalam bingkai perdebatan/ diskusi teoritis. Independent thinker, menjadi diri sendiri, bukan dirinya apalagi diri mereka. Dan tahap selanjutnya adalah ‘simulasi pertarungan’ dengan lawan eksternal. Bukan lagi dengan mereka seorang guru.