Tidak hanya dingin tetapi juga hujan. Sore ini saya melaju ke Grave, kota kecil berjarak 12,5 km PP (25 km) dari tempat dimana saya tinggal. Sendiri mengayuh sepeda onto sambil memegang gopro. Saya buat film dari perjalanan winter menyusuri sungai Meuse, salah satu sungai besar Belanda yang telah melahirkan banyak sekali ide-ide flood risk management yang begitu terkenal di dunia ini. Setidaknya ada 3 penyokong ide terbesar di dunia mengenai bagaimana yang harus kita lakukan terkait dengan sungai dan banjir. Apakah dengan membangun tanggul-tanggul raksasa, ataukah cukup membiarkannya menggenang di ruang-ruang kosong? Semuanya di bahas. Ketiga penyokong ide itu adalah Inggris, Belanda dan Amerika. Bukan berarti negara lain tidak menyumbang sama sekali, bukan..bukan seperti itu. Setidaknya di tiga negara ini benar-benar diejawantahkan dalam bentuk kebijakan nasional dan bahkan mewarnai kebijakan global minimal di lingkup NATO, uni eropa. Dan titik, cukup sampai sini saja cerita mengenai teori-teori yang memusingkan itu. Saatnya seneng-seneng di suhu 1°C sambil diguyur hujan.

Laju sepeda tidak bisa lebih cepat, sekitar 14 km/jam, pakai sepeda onto, sepeda jadul kegemaran mbah-mbah jaman lawas. Di sini masih popular, masih banyak yang pakai dan tentu tanpa rem tangan. Di sepanjang pinggir sungai Meuse itu banyak orang-orang lokal melakukan olah raga rutin entah hanya jalan bersama anjing-anjing lucu nan galak mereka, sepedaan dan ada juga yang hanya berjalan berdua oma-opa sambil bergandengan tangan. Keramahan mereka seperti orang Indonesia yang berada di tanah eropa. Tatap saja wajah mereka saat berpapasan, pasti mereka akan menyapa meskipun hanya dengan kata ‘allo, hai(k), atau goeten midag. Kata ‘hai’, sengaja saya tambah k menjadi ‘haik’. karena memang mereka melafalkannya seperti itu. Ada -k, dibelakang kata hai. Senyum melebar penuh ramah. Baik yang masih kecil, muda ataupun sudah berumur senja. Sama, ramah sekali. Tidak asing rasanya dengan budaya hangat ini. Seperti di pedesaan Indonesia.

Banyak sekali tempat istirahat di pinggir jalan berupa kursi taman. Saya tidak tau persis berapa jaraknya, tetapi rasanya tidak lebih dari 2 km dipastikan sudah ada kursi-kursi taman untuk istirahat lengkap dengan tempat sampah. Rasanya itu berlaku umum, saat mendekati perbatasan Jerman, rasanya begitu juga. Tidak ada perbedaan sama sekali. Yang membedakan paling cuma tulisan rambu-rambu jalan dari bahasa Belanda menjadi bahasa Jerman. Selebihnya sama. Tidak sedikit pula plat nomor D (Jerman) ditemukan di sini. Di Middelaar, sebagai contoh, banyak kapal-kapal pribadi terparkir berbendera Jerman. Mereka parkir di Belanda, kemudian naik sepeda menuju rumah mereka di Jerman. Sepeda tandem, berdua, ceria sekali mereka meskipun rambut sudah tidak lebat lagi.

Apalagi di Grave ini, kota mungil seluas 3.24 km2 yang berdiri pada tahun 1214. Orangnya super ramah. Waktu hujan, saya ngemper di museum tepat di pinggir jalan, dari kejauhan mungkin berjarak lebih dari 10 m tiba-tiba ada yang menyapa saya. Melambaikan tangan dan tentu mengatakan allo. Ternyata dia ngemper juga. Ngobrollah kami sebatas basa-basi. Tidak sulit bertemu dengan orang-orang Belanda berbahasa Inggris di sini. Kami hanya cekikikan, cerita pengalaman pertama di negeri orang karena salah bahasa. Dia cerita selalu mengatakan bonjour untuk menyapa orang di Prancis entah di pagi, siang atau malam. Dan setelah dia tahu bahwa bonjour hanya digunakan untuk pagi, akhirnya dia tertawa sendiri. Itu pengalaman dia, kesalahan yang justru menjadi hiburan di waktu berbeda. Tidak berbeda dengan saya, serumah dengan orang Belanda, niatnya ngajari bahasa setiap hari. Tapi kenyataannya banyak kosakata Inggris ada juga di Belanda yang artinya berbeda. Alhasil, sering terbalik. Itu tidak bisa dihindari.

Dan yang lebih penting lagi adalah, dibalik tulisan ini sebenarnya ada pekerjaan yang ditinggalkan yaitu harusnya mereformulasi problem statement. Reframing dari tulisan yang sudah ada menjadi bentuk baru karena adanya ide baru. Hanya berhenti di kalimat pertama, setelah itu dilanjutkan di sini. Harus reframing yang artinya harus mendesain ulang apa yang sudah ditulis, dan itu make sense, memang harus reframing. Tapi ada kontra antara batin dan otak. Hati menginginkan adanya kepuasan batin dengan menuruti setiap bisikan-bisikan yang entah berasal dari mana, sedangkan otak rasanya masih berada di frame lama. Dan akhirnya, ya sudah ditunda dulu. Luangkan waktu 20 menit untuk menilis di blog saja. Parah!.