Bersama dengan Willy Zoel Fauzi, biasa dipanggil dengan Willy. Alumni perencanaan wilayah dan kota, Undip. Saat ini sedang menempuh master di Toyo University, Jepang. Dan sepertinya ini kali ketiga bertemu online untuk membicarakan studinya. Awalnya hanya video call menggunakan whatsapp sebelum dia memutuskan mengambil beasiswa JICA. Kali kedua dan ketiganya sudah berada di Jepang, tentu membahas apa yang akan dilakukan: riset. Ada migrasi, yang awalnya studi bencana (hasil riset S1-nya bisa download di sini) ke studi yang sama sekali tidak berkaitan dengan banjir. Tidak masalah, perubahan itu penting. Yang menarik bagi saya adalah cerita di balik mendapatkan beasiswanya dan itu yang akan mewarnai tulisan ini.

Riset S1-nya yang dipaparkan di konferensi Internasional ternyata mendapatkan apresiasi dari calon supervisornya (waktu itu). Itu dari ceritanya, dan akhirnya mendapatkan beasiswa. Apresiasi dari jerih payah studi di S1 hingga harus menulis dalam bentuk artikel. Meskipun syarat administrasi kampus waktu itu cukup diterbitkan di jurnal nasional tidak terakreditasi, tetapi upaya untuk lebih tinggi rasanya menghasilkan reward. Memang tahun 2016 itu belum banyak upaya untuk ambil posisi mempresentasikan hasil riset S1 di ajang internasional. Belum banyak, mungkin hanya beberapa saja.

Rasanya dunia peta tidak bisa terlepas dari Planologi. Tidak peta ya… tidak planologi, itu hanya generalisasi guyonan saya saja. Riset S3 saya juga tidak jauh dari dunia peta. Namun sekarang harus lebih advanced tidak memandang peta sebagai hasil tetapi justru sebagai bahan baku yang kemudian akan diolah lebih jauh. Masa depan adalah masa lalu yang terulang. Dulu statistik itu penuh dengan angka-angka yang sudah hampir pasti ‘sudah jadi’, kemudian diolah untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Sekarang berbeda, data harus diekstrak dari sumber aslinya kemudian diolah baru mendapatkan hasil. Ada proses back-end yang lebih panjang dan rijit, meskipun hasilnya tetap saja sama. Ekstraksi data menjadi sebuah tantangan baru dan itu yang bakal akan dihadapi. Salah satu ilustrasi yang mungkin akan segera di hadapi adalah: bagaimana ekstraksi data dari hasil wawancara? – pasti jawabannya adalah membuat transkrip, dan itu benar. Tetapi bagaimana jikad ata yang dibutuhkan adalah komentar beribu atau berjuta orang mengenai opini mereka terhadap suatu kejadian, apakah akan ditranskripsi satu per satu? Bisa saja, tetapi bakal akan habis waktu untuk itu. Transkripsi otomatis dengan ubah suara menjadi text, itu akan popular kedepan di riset kualitatif.

Begitu juga dengan peta. Perubahan guna lahan, spatial query, overlay klasifikasi tutupan lahan, itu adalah bidang-bidang riset peta masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Yang berbeda adalah bagaimana menanganinya. Dulu, membuat peta artinya mendigitasi peta. Gambar ulang. Sekarang, proses itu sudah tergantikan oleh berbagai tools gratisan di Internet. Butuh waktu 1 – 2 bulan melakukan digitasi (itu dulu), sekarang mungkin 10 menit sudah cukup. Justru yang menjadi tantangan selanjutnya adalah bukan pada memproduksi data, tetapi pada memverifikasi data agar akurat. Sudah banyak data tersedia di internet (baca di sini) tinggal bagaimana kita mengolahnya.