Hari ini indah sekali, rasanya ingin mengungkapnya dalam sebuah sajak. Udara tidak terlalu dingin sekitar 7°C, bersepeda dari kota kecil bernama Cuijk ke kota rada besar, Nijmegen. Tidak ada tujuan lain kecuali hanya untuk beli tempe 3 biji, kecap manis ABC dan cabai rawit 1 pak. Meskipun cukup mahal, tetapi tanpa cabe rasanya tidak ada rasa dunia ini. Namun bersajak bukanlah keahlian, itu varian ungkapan lain bagi mereka yang sudah ahli. Jadi, saya urungkan.

Sekitar 30 km menyusuri sungai Meuse, tempat dimana banyak kapal berbendera Jerman dan Belanda melaju. Entah ada apa, rasanya sungai menjadi bagian dari pemandangan yang tidak mudah untuk mengalihkan. Mata tertancap tajam ke aliran air yang sebenarnya juga tidak jernih. Seneng saja tanpa ada sebuah alasan yang jelas.

Jalur bersepeda anyar, melewati sedikit belantara Belanda menyusuri Meuse yang fenomenal itu. Banyak literatur lahir dari aliran airnya. Room for river yang terkenal seantero planet ini muncul dari sini. Peradaban para bule Londo juga berasal dari sini, aliran air. Seandainya di negeri merah putih ada seperti ini, mungkin saya adalah pelanggan utama. Mungkin saja akan banyak karya yang muncul darinya juga.

Seliweran sepeda dan orang-orang berjalan kaki bersama anjing lucu terus berlalu-lalang. Saya hanya tersenyum dikala bertemu mereka, dan tentu mereka juga membalas sambil: ‘hallo, hai, goten midag’. Duduk di kursi taman tepat di pinggir Sluis Heumen, semacam gerbang tol tetapi untuk kapal di sungai. Sepeda onto saya parkir di pinggir jalan tepat di depan saya duduk. Sengaja saya foto ala kadarnya tanpa memperhatikan seni fotografi. Banyak bocornya, begitu kalau teman-teman komunikas mengomentari. Tapi biarlah, itu artinya memang sudah lengket di kursi dimana saya duduk, tidak mau berpindah mencari angle yang semestinya.

Dinginnya udara rasanya bukan penghalang. Sepeda tetep melaju menuruti jelalatan mata melihat hijaunya hamparan dan tentu kapal-kapal warna-warni di sungai. Indah sekali. Jadi mulai memahami kalimat hiperbolis ini: ‘God created the world but the Dutch created the Netherlands’. Superlatif sekali, tetapi itu semacam apresiasi diri. Sama halnya dikala kita meraih sesuatu kemudian kita memberikan hadiah untuk diri sendiri. Ya..seperti itu. Negara yang lebih dari 50% berada di bawah air laut, tetep exist. Tidak pernah menyalahkan alam dan Tuhan, begitu juga negeri tetangga yang mengirimkan air kemari.