Ada buku bagus berjudul the five love languages, kebetulan baru dibaca oleh istri dan saya. Buku ini menceritakan bahasa kalbu, mengenai bagaimana pasangan mengekspresikan perasaannya yang terkadang tidak terkoneksi meskipun saling memberikan. Ilustrasinya seperti gambar mainan sculptor block di bawah ini. Kita harus memasukkan benda dengan bentuk tertentu harus mengikuti bentuk lubangnya juga. Tidak mungkin bisa kita memasukkan kubus ke lubang lingkaran dan seterusnya. Harus match antara bentuk benda yang kita masukkan dengan penerimanya, maka akan singkron. Begitulah ide dasar cerita buku di atas itu (the five love languages), terkadang pasangan sudah memberikan informasi/ perhatian namun tidak dianggap dan bahkan cenderung terabaikan. Itu mungkin bisa terjadi karena perbedaan ‘bentuk’ dan ‘ukuran’ blok tadi. Itu hanya ilustrasi bagaimana sinkronisasi informasi antara provider dan receiver.

Tidak jauh dari situ, ternyata saya menemukan hal yang tidak jauh berbeda dari riset yang saat ini sedang saya kerjakan. Peran informasi di dalam pasar properti. Ada istilah imperfect information di suatu pasar properti akan mempengaruhi stabilitas harga. Dikala ada informasi yang tidak transparan maka ekspektasi orang atas barang tertentu akan beragam dan pada akhirnya akan membuat keputusan yang dianggap tidak tepat. Sebagai contoh dikala ada transaksi jual-beli rumah di zona banjir namun informasi risiko itu tidak diterima oleh salah satu dari agent (buyers & sellers) maka akan terjadi over/under expectation yang berakibat pada harga tidak normal. Terlalu mahal atau justru terlalu murah. Disinilah peran informasi itu untuk menolong para penjual dan pembeli mendapatkan harga seimbang. Namun itu saja tidak cukup, bagaimana informasi itu disampaikan dan diterima juga berperan. Ini yang kemudian disebut dengan komunikasi.

Ini sangat berkaitan dengan dunia kita sehari-hari, saya rasa. Informasi itu penting, komunikasi juga begitu. Dikala ada block yang menjadi barier komunikasi maka akan terjadi informasi yang terputus dan ini cukup berbahaya. Sama halnya dikala kita menerima informasi yang tidak benar, hoax atau data-data yang tidak valid, maka keputusan atasnya bisa kita prediksi: bias dan tidak tepat. Dan itu yang saat ini berada di tengah-tengah kehidupan kita. Media sosial sebagai media informasi rasanya cukup erat dengan dunia kita dan akhirnya terkadang menjadi salah satu rujukan untuk berpendapat bahkan berperilaku. Lagi-lagi informasi dan komunikasi itu berperan di dalam bertindak, termasuk membuat keputusan, membuat kebijakan dan membuat inovasi karya.

Rumor dan humor. Tidak jarang rumor justru dijadikan bahan becandaan di lingkungan kita. Bukannya diverifikasi justru menjadi bahan becandaan, bahkan yang tidak ada saja dianggap ada dan kemudian disebar-sebarkan hingga terkesan itu adalah valid. ‘Sudah ada public opini jadi sudah pasti informasi itu benar’, kurang lebih begitu yang menjadi dasar melakukan validasi informasi. Dan itu banyak banget di lingkungan kita hidup, bahkan lingkaran informasi tidak valid itu begitu masif dan terus diproduksi baik yang tertulis maupun yang hanya terucap. Wah..parah. Lagi-lagi informasi dan komunikasi akan berpengaruh pada bagaimana kita memandang dunia termasuk berperilaku.

Contoh gampangnya begini: dikala kita hanya membaca dan menonton berita-berita tentang korupsi di Indonesia, maka secara tidak sadar kita akan melakukan judgment: Indonesia adalah negara korup. Terlepas itu benar atau salah, tetapi karena otak kita terus dijejali informasi negatif dibandingkan dengan positifnya maka itulah yang terjadi. Promosi gratis mengenai keburukan bangsa dibandingkan promosi kebaikan negeri katulistiwa. Lagi-lagi itu informasi akan menentukan bagaimana kita berpersepsi.