Alhamdulillah, belum publish tetapi sudah dipresentasikan di forum Asian Development Bank (ADB) Institute. Ini akan menjadi paper pertama dari rangkaian riset PhD dimana muara akhirnya adalah membuat instrumen baru pengukuran risiko banjir pesisir. Bersama mereka beberapa peneliti yang sudah menamatkan studi S3-nya dari benua Amerika, Eropa, Asia dan Ostrali, kami mendiskusikan Resilient compensation and restitution for post-disaster recovery in Asia and the Pacific. Inshaallah hari ini dan besok, diskusi dengan mereka akan berlangsung. Hanya 8 paper yang diterima untuk kemudian akan dijilid menjadi book chapter. Saya tidak tau persis berapa yang mengirim extended abstract kemudian mereka seleksi dan keluarlah 8 paper itu.

Di forum ini, saya memaparkan artikel berjudul: leaving the coast: the response of property markets to coastal flood risk (slide saya lampirkan). Ini adalah rangkaian dari trajectory riset yang sedang dilakukan. Masih belajar menulis dan belajar presentasi dengan bahasa ala-ala orang Londo, sok inggris. dengan logat dan struktur jawa. Miriplah dengan rekan-rekan yang berbahasa Inggris namun berasal dari India dan Pakistan, logat mereka tidak bisa dihilangkan. Begitupula saya, logat jawa.

Theoretical framework adalah kunci. Saya belajar dari tradisi riset di Belanda yang sebelumnya saya tulis di sini. Ternyata tidak begitu rugi dengan menyelesaikan proposal 1,5 tahun hingga menelurkan apa yang disebut dengan conceptual theory. Meskipun ‘hanya’ akan dibuktikan oleh beberapa paper sebagai syarat administrasi kelulusan. Tetapi ternyata itu menjadi pondasi yang cukup diperhitungkan di dalam diskusi global terutama lembaga-lembaga yang mengedepankan riset sebagai landasan mereka membuat kebijakan dan program. Seperti ADB, mereka tidak membuat kebijakan namun membuat program-progran skala global untuk kemudian diperkenalkan di negara-negara yang dirasa memerlukan. Ternyata ungkapan: ah..itu hanya teori tidak berlaku di sini. Sindiran itu mungkin hanya untuk mereka yang tidak mau membahas dan membuktikan teori. Berbeda dengan di negara maju dan negara yang akan maju, teori adalah benar-benar argumen dasar yang perlu dipertimbangkan dan diperdebatkan sebelum membuat program, kebijakan dan juga keputusan. Saya mulai mensyukuri di titik ini. Teori bukan lagi: bunga mawar yang indah di tengah bulan purnama. Itu pernyataan kolega senior menggambarkan teori yang romantis tetapi tidak aplikatif. Ternyata di lembaga global tidak begitu.

Applied research (sebelumnya saya menulis ‘problem solving’ di sini), ternyata yang kemudian dianggap sebagai inovasi di dalam dunia kebijakan global. Dari teori dasar yang kita kontruksi kemudian dicoba untuk diterapkan. Contoh aplikatifnya begini: saya menggabungkan theory of planned behavior dan hedonic theory untuk membuat instrumen autonomous adaptation yaitu adaptasi volunteer yang dilakukan oleh para pembeli rumah. Mungkin akan berkontribusi pada diskusi insentif dan disinsentif kalau di lingkup Indonesia. Membuat soft instrument untuk mengontrol pemanfaatan lahan agar adaptif terhadap banjir pesisir. Kurang lebih begitu ide anehnya.

Salah kandang: tidak selamanya outlier buruk

Terinspirasi dari Pak Anang, gunakan instrumen orang lain yang dianggap advanced ke lingkup pekerjaan kita, maka akan dianggap kebaruan. Saya justru sedikit berbeda, orang plano yang terperosok di ‘kandang’ orang-orang urban economic. Menggunakan spatial query, spatial big data dan tentu remote sensing dan GIS ke lingkup diskusi mereka. Teori hedonic itu sangat lekat di teman-teman ekonomi, biasanya digunakan untuk mengestimasi harga properti dan juga land value capture (LVC). Banyak instrumen yang harus dipertimbangkan salah satunya adalah transportation cost yang diestimasi melalui jarak. Bukan barang baru bagi anak-anak planologi mengukur jarak menggunakan ‘parut’ bernama GIS. Ah.. anak semester 2 planologi Undip pasti sudah bisa menggunakan itu. Apalagi yang sudah menempuh S2, mereka pasti sudah kenal apa itu open route service (ORS), atau cukup estimasi saja di QGIS dan ArcView. Rada advanced sedikit menggunakan google direction API, lebih valid karena pengguna android di Indonesia lebih dari 90% (lihat grafik di bawah ini).

Source: StatCounter Global Stats – OS Market Share

Menjadi outliers (baca di sini) tidak selamanya berarti buruk, justru terkadang bisa dipandang sebagai inovasi. Meskipun di dalam statistik, outliers itu justru sering membuat stress karena ada data yang sangat berbeda dengan populasi secara umum. Namun, kenyataannya bisa jadi outliers itu adalah sebuah inovasi itu sendiri. ‘Sedikit lebih beda lebih baik’ – itu kata Pandji di stand-up comedy-nya (tonton di sini). Berbeda di dalam statistik itu justru outliers, treatment yang biasanya dilakukan adalah menghapusnya. Begitupula di kehidupan sosial kita. Menjadi beda itu tidak mudah. Bahkan anak saya yang beragama Islam namun tidak berkerudung saja dianggap kurang baik (baca di sini). Di dalam dataset, itu disebut outliers. Kenyataannya berbeda itu tidak mudah meskipun itu adalah sebuah inovasi dan tidak berarti buruk.

One thought on “Mengenalkan property right sebagai salah satu instrumen adaptasi banjir

Comments are closed.