Masih belajar bahasa, Inggris adalah salah satunya selain Belanda. Dan bersama beliau berdua ini saya terus terinspirasi. Inspirasi pertama dari Prof. Sunarti, yang menurut saya ungkapan: never stop learning because life never stops teaching – Kiril Korshikov pantas disematkan kepada beliau. Belajar terus dan yang pasti disiplin. Saya pernah absen selama 2 bulan dari kelas online ini karena sedang terkena ‘wabah’: Seasonal Affective Disorder (SAD) atau winter blues dan beliau tetap lanjut. Wow, chapeau🧢. Dedikasi belajar yang luar biasa, tidak luntur. Hal lain yang juga menjadi inspirasi adalah: mendengarkan dan akan memberikan feedback substantif. Feedback yang menukik seperti Bu Maya. Perspektif dan angle yang benar-benar baru, berbeda dan tentu akan membawa insight baru. Dan memang itulah fungsi diskusi.

Inspirasi kedua adalah dari gurunya, nama pendeknya Mas Adi, seorang youtuber (subscribe di sini). Melanjutkan sekolah di pendidikan bahasa Inggris setelah dirinya menjadi guru Inggris. Nah… itu sama seperti seorang penyelam yang belajar selam. Atau seorang pemilik warung makan yang kursus masak. Hanya butuh selembar kertas bernama ijazah. Sedangkan skill dan ilmu sudah ada di dirinya. Kejamnya administrasi, skill harus diakui dari lembaran-lembaran kertas. Jadi ingat lowongan pekerjaan dari google yang tidak mempersyaratkan pendidikan formal di dalam list persyaratannya. Dan itu mungkin hanya ada di orang-orang nyentrik super unik. Orang yang belajar mandiri hanya bermodal mulut untuk bertanya dan kuota internet nonton youtube. Self learning atau yang sering disebut sebagai otodidak. Belajar sendiri kemudian baru belajar teorinya. Prosesnya dibalik.

Dua inspirator di atas, rasanya cukup menarik menjadi pelajaran bagi saya, secara khusus. Tidak hanya memaku diri pada posisi nyaman dan juga bagaimana belajar informal kemudian baru ke ranah formal. Jadi teringat video youtube dari Prof. Renald Kasali berjudul: yang bergelar kalah (tonton di sini). Prof Kasali mengungkapkan adanya ledakan non degree tetapi mereka benar-benar memiliki skill yang patut diperhitungkan. Dari Fiki Naki yang menguasai 8 bahasa asing dari youtube dan tukang las yang bisa membuat helikopter. Yang cukup menarik adalah Fiki Naki ini sekarang menjadi brand ambassador ruang guru. Menjadi pertanyaan sekarang: apakah dia menguasai skill-nya dari ruang guru? Rasanya perlu menjadi salah satu bentuk keajaiban dunia melalui dunia internet saat ini. Mereka terbangun dari kesadaran bahwa internet adalah sumber dan ruang belajar. Dan memang, saya belajar spatial data science juga dari adik saya sendiri kemudian belajar dari youtube kemudian baru mengikuti kursus online yang itupun tidak diteruskan. Saya drop out dari salah satu kelas online data science di Indonesia.

Belajar bukan berarti transfer pengetahuan dari provider ke receiver, saya menangkapnya begitu. Guru bukan lagi sebagai provider, sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan. Mereka termasuk saya hanyalah enabler dari berbagai sumber informasi yang sebelumnya sudah mereka terima. Mereka terima dari internet, ya kita juga harus menyambanginya: internet. Mereka terima dari buku, ya berarti kita juga harus mengikutinya. Tidak hanya dari satu sumber. Semakin menarik saja perjalanan bersama mereka yang selalu memberikan warna pada ragam cara hidup termasuk belajar dan mengajar.