Dari obrolan ngawur kami: “statistik itu bukan ilmu pasti, tapi lebih ke karya seni”. Lagi-lagi itu adalah obrolan ngawur dengan Andi tanpa referensi. Dia dan saya beranggapan bahwa sebenarnya statistik itu lebih pada kita bercerita menggunakan angka. Story telling tapi menggunakan angka-angka statistik guna menyajikan bukti. Kalau di dalam dunia tulis-menulis, ada ragam tulisan popular yang digunakan untuk membumikan ilmu pengetahuan ke masyarakat luas, maka fungsi statistik tidaklah jauh berbeda. Justru ada 2 fungsi yaitu: mensitesakan pengetahuan abstrak menjadi solid dan menyebarkan informasi scientifik ke publik dengan lebih mudah dan gamblang. Seperti dikala kita melihat sebuah grafik yang menanjak, tanpa mengetahui judul dan datanyapun kita akan bisa mengatakan kalau ada sesuatu yang naik. Entah apapun itu. Maka rasanya tidak salah dikala gambar digunakan sebagai media menceritakan sesuatu. Representasi dari suatu pesan yang disampaikan.

Statistik adalah milik negara kuantitatif, bukan negara api apalagi bangsa pengendali udara, rasanya perlu dipertimbangkan saat ini. Di dunia digital seperti sekarang ini, rasanya itu tidak absolut 100% benar. Bisa juga metode-metode ini digunakan untuk ragam kualitatif. Saya ambil contoh membuat content analysis dengan cara menstranskrip wawancara kemudian kita analisis untuk menentukan inti pembicaraan. Contohnya saja adalah membuat word cloud (contoh baca di sini). Itu sangat bisa dilakukan menggunakan software statistik gratisan. Jadi saya rasa, suatu saat sangat mungkin riset-riset kualitatif menggunakan software statistik seperti RStudio ataupun Python (baca di sini).

Kembali ke obrolan kami: karya seni dari kumpulan angka. Untuk mencapainya sepertinya tidak cukup hanya mengandalkan syntax. Bagi Andi, yang sekolah di STIS, sepertinya ingin mengatakan bahwa: jangan pusingkan pembaca dengan hanya membaca angka. Gesture ide itu sangat terlihat dikala dia berusaha menggabungkan seni dengan statistik. Cara dia memilih warna, bentuk hingga diagram, itu rasanya diluar kapasitas orang-orang yang bekerja di back-end atau di dapur. Dia orang front-end atau bisa juga diibaratkan front-office dimana tampilan itu segalanya. Karya dia yang lain adalah desain jurnal riptek (lihat di sini) dan juga jurnal pengembangan kota (lihat di sini). Tampilan adalah bagian dari branding dan juga karakter suatu perusahaan. Begitu dikala kita bicara perusahaan. Seni sebagai bagian dari kreativitas diperlukan agar informasi bisa disampaikan dengan begitu mudah ke pembaca.

Tidak berhenti di RStudio dan Python yang selama ini menjadi gaman atau senjata utamanya di dalam bekerja, mulai merambah ke ranah seni statistik. Menggunakan tableau, dan ini sesuatu yang benar-benar baru bagi saya. Katanya sih tinggal drag and drop kemudian secara otomatis akan terbentuk grafik hingga peta. Syaratnya satu, data harus sudah bersih, itu katanya. Saya sendiri hanyalah followernya semata. Dikala dia mengenalkan RStudio, saya ikuti kemudian sekarang dia mengenalkan platform baru ini, ya saya ikuti lagi. Berseni menggunakan angka, itu tujuan yang ingin dicapai agar memudahkan dan meringkas informasi.

Sudut pandang lain: statistik masa kini

Kalau kita mengikuti perkembangan dunia teknologi maka rasanya apa yang sudah dijelaskan di atas perlu ditambahkan satu lagi: Aritificial intelligence (AI). Rasanya ini menjadi produk lanjutan ilmu-ilmu statistik. Terutama mereka yang berkecimpung di komputasi statistik. Pernah dibahas sebelumnya di sini, mengutip bukunya Larissa Suzuki (baca di sini) bahwa dalam perkembangannya data science justru memproduksi pengetahuan baru. Itulah kenapa machine learning, deep learning, transfer learning dan lain sebagainya begitu viral. Mungkin saja, ini bisa dianggap sebagai fungsi ketiga saat ini. Membiarkan ‘robot-robot digital’ bernama syntax bekerja mandiri untuk kepentingan manusia.

Data mining contohnya, itu kan sebenarnya pekerjaan mesin untuk kita, manusia. Data dipanen dari website dan juga dari peta-peta digital yang disediakan google. Dan itulah kenapa saya pernah menulis: tidak selamanya GIS bicara membuat peta tetapi cukup membacanya. Karena data-data statistik sudah tersedia baik di bing, google dan here.com kemudian kita tinggal memanennya. Melanggan API yang sudah disediakan kemudian kita tinggal running software maka data-data itu sudah berada di folder komputer kita setelah beberapa menit (baca di sini).