Sudah menjadi kebiasaan! Bagi mahasiswa yang sudah menyelesaikan studi di negeri 3 warna untuk menghibahkan harta karun mereka. Bisa diberikan secara cuma-cuma, atau bisa juga dibayar dengan harga di bawah nilai semestinya. Contohnya perkakas di bawah ini ditawarkan €50 untuk meja & kursi IKEA masih ditambah lampu belajar. ‘Wah murah banget’. Begitu juga untuk kulkas 2 pintunya. Itu malah lebih ekstrim lagi: ‘give away’, alias gratisan saja. Daripada dibuang, yang konsekuensinya harus bayar. Lebih baik dihibahkan atau dijual murah. Buang perkakas & sampah di sini memang justru membayar.

Bukan hanya perkakas, bumbu-bumbu dapur juga sering menjadi ‘harta karun’ yang beredar di lini Whatsapp baik di group PPI atau melalui private message, alias jaringan pribadi. Tiba-tiba ada WA begini (kurang lebih): ‘mas mau bumbu-bumbu ini? Kebetulan mbak bunga (bukan nama sebenarnya) back for good’. Tentu cukup menjawab: boleh atau mungkin tidak. Apakah ini hanya kebiasaan orang Indonesia? Tidak, saya rasa. Sebelum musim dingin, seorang PhD student dari Pakistan juga tiba-tiba kirim WA menawarkan harta karun peninggalannya. Di website intranet kampus, terkadang juga ada yang menawarkan barang-barang bekas bahkan rumah. Website seperti olx.co.id juga menjadi market place favorit di sini, namanya Marktplaats.

Kembali ke harta karun apa yang ditinggalkan. Semisal bumbu, biasanya lebih ke bumbu instant dari bumbu rawon hingga rendang. Yang cukup menarik adalah Indomie selalu absen. Selalu tidak ditemukan dari ‘harta’ yang dijejer rapi kemudian difoto. Selalu saja absen. Indomie, cukup mudah didapatkan di sini. Tidak harus ke toko asia, toko-toko khas negeri 3 warna juga banyak menyediakan seperti Kruidvat, Albert Hijn dan Jumbo. Ada di waralaba-waralaba itu. Dan sepertinya sebagian teman-teman Indonesia tetap menempatkan Indomie sebagai alternatif makanan pokok. Terutama dikala ‘malas masak’ atau darurat lapar di malam hari. Sedu Indomie, dan perutpun terisi.

Indomie selalu absen dari harta karun. Ada 2 indikasi: (1) habis sudah dinikmati, ataukah (2) tidak mengkonsumsi. Bagian yang terakhir rasanya kok susah diterima. Bagi yang fanatik dengan diet ketatnya, bisa jadi. Namun secara umum, tetap saja lidah negeri ya lidah Indomie. Jadi biarkan saya berasumsi bahwa laris manis Indomie sepertinya tidak hanya terjadi di negeri sendiri, juga terjadi di sini. Meskipun tetep harus jujur bahwa rasanya tidak selezat di Indonesia. Lebih enak makan Indomie di warung burjo, sepertinya ada yang berbeda dengan bumbunya.