Kesempatan ngajar mereka lagi, mahasiswa semester 7 Planologi Undip. Seneng rasanya bisa bertemu mereka dan tentu yang tidak kalah penting adalah berdiskusi. Sudah di semester tinggi, pertanyaan mereka sangat berbobot. Harus mengingat beberapa referensi dan menganalisis baru kemudian menjawab setiap pertanyaan. Di mata kuliah pilihan ini, hanya ada 9 mahasiswa, memang sedikit, namun jadi lebih fokus. Materi kuliah saya sajikan di bawah ini, dimana judul tulisan ini sebenarnya diambil dari materi kuliah mengenai penilaian kerentanan dan bagaimana kita berdamai dengan ketidakpastian masa depan. Lebih ke konsep dasarnya semata.

Dimana posisi penilaian kerentanan di dalam manajemen risiko? Jawaban atas pertanyaan itu merupakan tujuan dari cerita yang saya sampaikan dalam kurun waktu 1,5 + 0,5 jam. Satu setengah jam untuk cerita sedangkan selebihnya adalah menjawab 4 pertanyaan berbobot dari mereka. Pertama saya membuka dengan probability theory yang mendasari pola pikir perhitungan risiko. Menerka peluang dan konsekuensi, dimana itu sama persis dengan dikala kita bermain dadu. Di pelajaran matematika SMA, kita diajari bagaimana peluang atas sebuah dadu 6 sisi yang dilempar, berapa peluang keluarnya dadu nomor 1? – Kurang lebih begitu. Itu adalah yang melandasi bagaimana kita berfikir di dalam penilaian risiko. Ada masa depan yang sebenarnya tidak pasti namun kita coba terka. Berapa peluangnya? Teori dasar itu berlaku bukan hanya untuk risiko bencana tetapi risiko untuk hal lain juga seperti risiko investasi, risiko asuransi dan macam-macam. Tidak spesifik mengenai bencana.

Berbeda cerita dikala kita mempertimbangkan bencana, terutama yang disebabkan oleh alam. Ada hubungannya dengan ekologi dan juga manusia sebagai salah satu unsur pembentuknya. Dikala ada peluang menimbulkan kerugian bagi manusia dan/ atau ekologi, maka itulah yang kemudian disebut sebagai risiko. Sehingga bisa disimpulkan bahwa sebenarnya penilaian risiko itu adalah upaya melihat masa depan (termasuk ketidakpastiannya) secara sistematis. Dikala mengetahui risiko-risiko masa depan, maka diharapkan kita bisa menyiapkan diri untuk menghadapi kondisi terburuknya. Adaptasi, mitigasi dan antisipasi menjadi tindakan yang mungkin bisa dipertimbangkan agar kerugian tidak terjadi atau setidaknya dikurangi. Kurang lebih begitu, bahasa sok teoritisnya.

Kemudian bagaimana menangani risiko itu? Memanfaatkan model SPRC: Source, Pathway, Receptor dan (Negative) Consequence, rasanya bisa kita lakukan. Sebelum ke model itu, kita akan melihat bagaimana sejarah penanganan risiko di masa lalu (klasik) dan sekarang (modern). Kita meminjam penanganan banjir sebagai contoh. Di masa lalu, risiko lebih di tumpukan pada kemampuan engineering defense seperti tanggul dan dam guna menanggulangi limpasan air. Jangan sampai air menggenang ke daratan. Dan salah satu contohnya adalah tanggul laut di Belanda. Memang melindungi negara ini dari luapan air laut dan juga limpasan air dari negara tetangga seperti dari Jerman. Mengingat Belanda adalah negara di hilir sungai Eropa. Setidaknya ada 2 ancaman utama yaitu banjir dari laut dan banjir kiriman dari negeri tetangga. Tanggul dan DAM menjadi solusi yang mereka pilih. Konsekuensinya adalah; biaya mahal baik untuk membangun maupun untuk maintenance. Itu dianggap sebagai manajemen risiko banjir klasik dimana posisi analisis risiko lebih pada kekuatan tanggul untuk menghalau air. Kalau dikaitkan dengan model SPRC, maka fokusnya lebih pada sumber masalah atau Source.

Menyadari mahalnya pembangunan dan maintenance, kemudian tahap selanjutnya analisis risiko tidak hanya ditumpukan pada sumber masalah (source) melain juga mempertimbangkan receptor atau penerima. Tujuan dari penanganan banjir sebenarnya adalah agar kerugian tidak terjadi dan bukanlah menjamin daratan tetap kering. Oleh karena itu, ide untuk memberikan ruang untuk air muncul. Artinya air limpasan akibat banjir dibiarkan untuk meluap dan masuk ke daratan asalkan tidak menggenangi permukiman, sektor perdagangan dan sektor strategis ekonomi lainnya. Ada fungsi ruang yang diberikan untuk air, dan receptor dibangun di zona-zona yang tidak berfungsi sebagai tangkapan air. Itulah ide dasar room for river (di Belanda) atau space for water (di Inggris). Alih-alih pendekatan rekayasa, melainkan tata ruang (baca lebih lanjut di sini).