Dibalik regresi spatial tingkat lanjut. Spatial econometric saat ini cukup popular untuk menjelaskan urban spatial planning, yaitu tata ruang perkotaan yang sebenarnya bukanlah ‘hanya’ produk regulasi melainkan juga ada peran pasar. Hubungan saling mempengaruhi antara pasar dan regulasi pemerintah di atas lahan menjadikannya penggunaan ruang yang saat ini kita kenali. Menjalarnya kota, sprawl, bisa juga dipahami sebagai bagaimana supply mengikuti demand yaitu pasar. Ada demand maka ada supply, bisa juga sebaliknya tetapi berlaku unsur limitasi. Yang lebih sering terjadi adalah demandnya seperti apa kemudian supply bisa mengikuti. Ekonomi banget, memang dan itulah urban economics yang mungkin relatif jarang kita pahami sebagai exposure pembentuk ruang kota.

Investasi ekonomi ruang seperti pembangunan pabrik di lokasi tertentu kenyataannya mempengaruhi perubahan harga lahan di sekitarnya. Tanah yang berdekatan dengan fasilitas kota itu semakin tinggi, mahal untuk kalangan orang tertentu. Karena mahal inilah maka orang yang bisa akses tidaklah banyak, hanya orang berkantong tebal saja. Mungkin hanya orang kaya, dan orang yang berpenghasilan rendah justru mungkin akan menjualnya. Ada perubahan kepemilikan ruang dari mereka yang berpenghasilan rendah ke berpenghasilan tinggi. Begitupula banyak tanah kosong yang kemudian terbangun rumah-rumah besar untuk mereka yang berduit. Itu bisa disebut sebagai penyebab peningkatan harga. Penggunaan lahan akan mengikuti harga lahan begitupula pengelompokan warga di tengah belantara kota, atau segregasi spatial. Fenomena gentrifikasi ini bisa dijelaskan dari urban economics. Kota sebagai sebuah proses.

Kembali ke ilustrasi mengenai investasi pabrik yang berpengaruh pada nilai lahan. Peningkatan nilai ini ternyata tidak serentak. Lebih dekat ke pabrik lebih mahal dibandingkan yang menjauhinya. Sama persis dengan buku-buku analisis lokasi yang digawangi oleh Alonso, Webber, dan Von Tunen, semakin mendekati kota semakin mahal. Itu terjadi karena biaya transportasi, dan ini akan dijelaskan pada tulisan yang lain. Ada hubungan jarak dengan harga. Yang perlu diperhatikan adalah jarak ini tidak serta merta diukur berdasarkan garis lurus dari titik rumah tinggal ke titik fasilitas atau Euclidean distance, tapi lebih ke route distance: shortest atau fastest distance.

Ada beda harga berdasarkan jarak. Di statistik ruang klasik, ini bisa dijelaskan menggunakan Moran-I, namun itu saja tidak cukup. Bagaimana dinamika perubahan harga itu? – pertanyaan ini sepertinya harus dijawab melalui statistik lebih klasik lagi yaitu spatial lag of X (SLX). Lag : ketertinggalan, ini yang melandasi dasar pemodelan dinamis harga lahan yang pada akhirnya menentukan siapa yang akan menempati ruang itu. Ada nilai tertinggal di dalam penyesuaian harga, dan inilah kuntji dari SLX, bagian dari geographically weighted regression.

Dibalik beda harga mengikuti jarak adalah adanya penyesuaian harga yang tertunda. Itulah arti dari lag dalam perspektif teori ruang ekonomi. Dari sinilah maka kita bisa menjelaskan apa itu: spillover effect, domino effect, dan ripple effect yang sebenarnya itu adalah fungsi ekonomi ruang dan pada akhirnya berpengaruh pada siapa yang bisa mengakses ruang itu dan alhasil akan seperti apa bentuk ruang kota kita. Proses itu akan dijelaskan melalui teori individual equilibrium, nanti.