Menelisik lebih dalam adanya perbedaan ukuran di antara lokasi yang berbeda. Seperti yang kita pahami bahwa data spasial memiliki nilai ukuran dan lokasi. Perbedaan nilai ukuran dari suatu lokasi dibandingkan dengan lokasi lain bukanlah suatu kebetulan. Mungkin saja ada pengaruh ruang yang membentuknya. Contoh paling umum adalah adanya perbedaan harga tanah antara pusat kota dengan pinggirannya. Kenapa ini bisa terjadi? – tentu dengan sangat mudah bisa kita jawab karena perbedaan nilai strategis lokasi yang ditunjukkan oleh kelengkapan infrastruktur kota. Di dalam teori lokasi, itu yang sering kita kenal sebagai kualitas lokasi. Perbedaan kualitas lokasi ini akan menentukan siapa yang mampu membeli bidang tanah dan pada akhirnya akan menentukan pula untuk apa bidang tanah itu. Beda harga lahan dari pusat kota ke pinggiran yang cenderung menurun itu selanjutnya disebut sebagai spatial diffusion of land price. Bisa juga kata land itu diganti dengan property. Dua bidang ini memiliki kedekataan/ persaudaraan yang cukup dekat.

Kembali ke kualitas lokasi, kedekatan ke fasilitas perkotaan ternyata menjadi penentu bagaimana lokasi memiliki nilai ekonomi di dalam ruang. Kalau kita telisik lebih jauh, ini sangat gamblang dijelaskan oleh Alonso di bukunya location and land use bahwa kedekatan ke lokasi fasilitas berkaitan dengan penghematan biaya transportasi. Asumsi yang dibangun adalah semakin dekat ke fasilitas perkotaan maka semakin murah biaya transportasinya. Ini juga yang mendasari gagasan bahwa sebenarnya property (sebagai konsumsi rumah/ housing consumption) itu sebaiknya tidak hanya dipandang dari sisi konsumsi semata tetapi juga produksi. Orang memilih tempat tinggal yang dekat ke tempat kerja (misalnya) dan juga ke fasilitas perkotaan sebenarnya bisa juga dipandang sebagai pertimbangan produksi disamping konsumsi. Itulah kenapa transportation cost menjadi pertimbangan utama dalam pemilihan lokasi tempat tinggal. Pertimbangan itulah yang mendasari kenapa kualitas lokasi berbeda antara satu tempat dengan tempat lain yang kemudian direpresentasikan oleh perbedaan harga lahannya. Dengan kata lain harga merupakan indikasi kualitas lokasi itu.

Menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah kualitas lokasi itu tetap, ataukah justru dinamis? Fakta yang tidak bisa dihindari adalah ternyata harga tanah di pusat kota jarang sekali turun, justru semakin lama semakin naik. Kecuali ada kejadian luar biasa seperti bencana atau perang maka harga tanah di pusat kota bisa turun. Fluktuasi harga (baik naik atau turun) itu sebenarnya mengindikasikan bahwa kualitas lokasi tidaklah bersifat stagnan. Dia sangat fluktuatif mengikuti dinamika global maupun dinamika lokal. Kita akan bahas satu persatu. Dinamika global itu bersifat exogenous (tekanan dari luar), yang kemudian mempengaruhi kualitas lokasi. Contoh riilnya adalah adanya investasi dari orang-orang luar yang masuk pada suatu lokasi tertentu. Mereka investasi dengan mendirikan pusat perbelanjaan, mendirikan pabrik, atau mendirikan pusat ekonomi yang berdampak pada meningkatnya nilai lahan. Itu adalah faktor eksternal yang masuk kemudian meningkatkan nilai lahan dan pada akhirnya locational quality berubah. Kondisi sebaliknya adalah adanya dinamika lokal yang bersifat endogenous. Dari dalam, adanya perubahan dari struktur kualitas lokasi kemudian terjadilah perubahan harga. Contoh paling gampang adalah adanya penurunan kualitas lingkungan (misalnya: kumuh), kemudian akan menurunkan harga. Atau justru perubahan positif, dari kumuh menjadi rapi maka akan menaikkan harga. Dan ternyata perubahan harga yang sebenarnya merepresentasikan kualitas lokasi itu menular.

Efek marginal spasial

Dinamika harga properti ternyata menular atau menjalar. Perubahan itu tidak bersifat lokal tetapi justru menjalar ke tempat lain di sekitarnya. Ini yang sering disebut sebagai limpahan spasial atau dalam bahasa statistik ruang disebut: spillover. Ada efek domino dari satu lokasi menjalar atau melimpah ke tempat lain di sekitarnya. Apa yang menyebabkan limpahan spasial itu? kembali ke paragraf sebelumnya: global dan/ atau local exposure. Karena adanya shock, menjadikan perubahan struktur kualitas lokasi dan pada akhirnya mengubah harga kemudian menjalar ke lokasi sekitarnya. Kurang lebih begitu alur ceritanya. Perbedaan harga (yang hanya berfungsi sebagai proxy data saja) antara satu lokasi dengan lokasi lain itu yang selanjutnya bisa kita selidiki berdasarkan efek marginal spasial. Ada beda ukuran di lokasi tidak sama.

Di dalam model regresi spasial, fenomena global ini bisa dijelaskan oleh variabel prediktor sedangkan fenomena lokal ditunjukkan oleh variabel dependent-nya. Adanya perubahan nilai baik Y sedangkan nilai X-nya tetap, merupakan fenomena spillover di Y. Begitupula kalau teridentifikasi adanya perubahan nilai di X sedangkan nilai Y tetap maka ada fenomena spillover di X. Di dalam spatial statistics itu bisa dijelaskan melalui spatial autoregressive model (SAR) dan spatial lag model. Apakah hanya untuk menjelaskan nilai ekonomi ruang yang banyak digunakan di spatial econometric? Peter Congdon (2022) mencoba memprediksi nilai transmisi covid-19 menggunakan model yang sama (spatio-temporal autoregressive model)