Ayo hijrah: berhenti menjadi generasi itu

Waktunya hijrah, dunia telah berubah, ayo hijrah. Selama ini hijrah sering sekali dikaitkan dengan berpindahnya seseorang yang memuat dua hal yaitu berpindah tempat, dari satu lokasi ke lokasi lain dan bisa juga diartikan berpindahnya dari satu kondisi atau status tertentu ke kondisi/ status lain. Kebanyakan juga menyempitkan pandangan hijrah ini dalam sudut pandang agama. Mereka yang berhijrah adalah orang-orang yang sebelumnya mengenal sedikit agama menjadi pribadi yang lebih banyak mengenal agama dengan berbagai aksesorisnya, kurang lebih demikian pandangan sebagian dari kita. Definisi kedua mengenai hijrah menginisasi saya menulis artikel ini namun bukan dari perspektif agama, tetapi dari diri sendiri.

wisuda.jpg

Ayo berhijrah dari generasi dependent menuju generasi independent. Jangan puas menjadi generasi manja, jadilah generasi smart penuh ide, penuh masukan dan penuh inovasi. Bukan sebaliknya, menjadi generasi penuh ketergantungan, selalu mengutuk kegelapan dan mengeluhkan setiap pil pahit kehidupan. Jangan terus mengeluh, sambat atas setiap tantangan. Jangan lagi manja, yaitu mengharapkan segalanya terkondisikan dengan baik sesuai yang kita inginkan. Tidak akan seru, tidak ada tantangan dan tentunya tidak ada pelajaran hidup sama sekali. 

Dahulu kita selalu mendapatkan fasilitas hidup yang kita gantungkan kepada orang tua kita masing-masing. Tidak perlu memikirkan bagaimana jerih payah orang tua mendapatkan rejeki, yang penting kita bisa makan lengkap dengan lauk dan terkadang jajan di luar rumah tanpa memikirkan berapa nominal rupiah yang kita minta. Fasilitas premium seorang anak yang dependent kepada orang tua. Jika tidak sesuai kita bisa sedikit memprotes, merayu agar bisa memenuhi kebutuhan sesuai dengan keinginan. Kita menganggap diri ini sebagai pribadi yang idealis dan memang pantas mendapatkan apa yang seharusnya diraih. Kita bebankan hidup kita kepada orang lain, meskipun itu adalah orang tua kita sendiri. 

Tidak jauh berbeda dengan saat ini, diera kita sudah mulai dewasa atau bahkan menua. Banyak keluhan atas pekerjaan, atas negara, atas pemerintah bahkan atas keluarga begitu mudah kita dengarkan dari satu orang dewasa ke orang dewasa lainnya. ‘Pemerintah kita ini nggak benar…’; ‘Sistem tata kelola tempat kerja ini tidak adil…’ dan masih banyak lagi ragam keluhan yang bisa kita nikmati dari hari kehari. Entah urusan pekerjaan, urusan sosial dengan sesama kolega bahkan kepada instansi dimana kita bekerja. Mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Kapan kita akan belajar jika segala sesuatunya sudah sesuai dengan yang diharapkan tanpa ada upaya dari kita sedikitpun? – Semua ada proses dan prosedurnya. Sama halnya seorang mahasiswa yang ingin mendapatkan gelajar sarjananya, ada proses dan tahapan yang harus dia tempuh. Satu mata kuliah demi mata kuliah harus ditempuh dan di bagian akhir harus mempertanggungjawabkan hasil riset sederhananya di depan tim penguji. Kan begitu prosesnya bukan?

Sama halnya dalam hidup kita ini! Hijrah dari yang buruk ke yang baik jangan hanya diartikan dulu tidak berjenggot sekarang menjadi berjenggot. Dulu tidak berhijab sekarang berkerudung dan seterusnya. Bukan hanya tampilan fisik tetapi lebih kepada perbaikan pribadi menjadi yang lebih oke, responsive dan maju. Jangan lagi menjadi pribadi dependent yang hanya mengharapkan segala sesuatu sudah baik tanpa ada usaha berarti.

Jangan lagi mengutuk kegelapan, karena kita dihidupkan untuk menjadi penerang. Ini bukan kiasan, tetapi pengingat bagi saya sendiri dan juga bagi kita semua. Bukan sebagai pribadi yang sempurna, itulah kenapa kita harus bermasyarakat, bersosial dan saling mengingatkan dan bukan menjerumuskan. Setiap penyakit pasti ada obatnya begitupula untuk setiap kesalahan pasti ada perbaikan kemudian berdiri tegak untuk menjadi pribadi baru yang lebih maju, independent dan menjadikan masa lalunya sebagai pengingat dia. Tidak ada orang hebat yang selamanya hebat, begitupula orang hebat yang memang dilahirkan menjadi hebat dari bayi hingga ajalnya. Jangan lagi menjadi generasi dependent yang selalu menuntut fasilitas premium untuk menikmati kehidupan kita. 

Jangan lagi mengeluh, jangan lagi mengambil waktu orang lain untuk dipaksa mendengarkan setiap keluhan. Kita berada di posisi yang sama yaitu belajar, belajar dan belajar. Tidak ada kata yang lebih baik dari belajar ini untuk menarasikan kehidupan kita. Kita lahir memang untuk belajar. Pribadi yang merugi adalah mereka yang tidak ada perbaikan dari dirinya di masa lalu, begitulah slogan yang sering dikampanyekan di setiap pengajian. Dan itu bisa kita pahami di kala kita belajar. Jangan hanya membaca buku, tetapi juga perlu membaca kondisi, situasi sosial dan jadilah bagian yang menenangkan kondisi itu bukan sebaliknya, penyulut kekalutan dan kegelapan. Jangan nyinyir lagi, kita butuh penyemangat agar hidup kita lebih baik. Jangan lagi menjadi generasi itu, kelompok sosial yang hanya bisa mencari kesalahan orang lain, kesalahan negara, kesalahan pemerintah tanpa ada kontribusi sedikitpun kecuali cibiran-cibiran yang menjadi sampah visual dan sampah digital di dunia maya. 

Terpaksa harus bikin kelas online pribadi

Ini sebenarnya ‘proyek kecelakaan’, tidak ada niat sebelumnya untuk membuat kelas online pribadi yang dikelola sendiri memanfaatkan server gratisannya moodlecloud.com. Karena alasan keterbatasan referensi di Program Studi Di luar Kampus Utama (PSDKU) PWK Undip Pekalongan mengharuskan saya meminta bantuan tim IT kampus untuk membuat 1 kategori khusus PSDKU di website kuliah online kampus. Sayang, permohonan saya ini tidak ada jawaban apakah akan dibuat ataukah tidak. Menunggu lebih dari 3 bulan dan tidak segera muncul slot PSDKU di website kuliah virtual kampus. Ya sudah, mungkin mereka sedang lelah, saya coba berselancar di internet mencari berbagai platform gratisan yang bisa saya manfaatkan. Banyak sebenarnya, salah satunya adalah google classroom yang juga pernah saya ulas di blog ini. Tetapi karena ada term and condition yang mensyaratkan bukan untuk perkuliahan di kampus maka akhirnya saya urungkan. Tidak jadi menggunakan google classroom. Alasannya sangat logis, yaitu google sudah menyediakan google apps for education gratis untuk sekolah maupun perguruan tinggi. Kita bisa memanfaatkan google apps ini, tetapi kita harus mensinkronkan DNS domain dengan google. Sedangkan saya sendiri tidak memiliki akses ke control panel domain/ website kampus. No choice, thinks, learn and make a crazy thing. 

ffce91ef-aed9-414d-9a94-9a64392c5aae

Mendapat suntikan ide dari adik yang kebetulan seorang sarjana komputasi statistik, menyarankan saya untuk mencoba moodle, akhirnya saya putuskan mencoba dan membuatnya. Kebetulan kelas online kampus juga menggunakan moodle classic yang tidak pernah diupdate. Benar-benar classic!. Di moodlecloud.com saya melanggan hosting gratisan milik moodle, mendapatkan fasilitas yang rendah yaitu space 200 MB, dan akun maksimal 50 user. Meskipun mendapat layanan yang rendah, tetapi saya tetap bisa memiliki nama website khusus yaitu kelassarif, sama persis dengan nama blog ini pertama kali saya buat untuk sharing pengalaman dan pengetahuan selama mengajar di kampus.

Meskipun layanan di moodle ini sangat lengkap tetapi saya hanya memanfaatkannya sebagai file management saja. Storage sebesar 200 MB tidak saya manfaatkan sama sekali. Terlalu sendikit! jadi seluruh file materi perkuliahan untuk mahasiswa tidak saya upload ke moodle tetapi saya buat dalam bentuk visual story page dan membuat embed di material page di moodle. Mengingat akun yang disediakan juga terbatas yaitu 50 akun (maksimal), maka saya membuat 1 akun khusus mahasiswa, saya share akun dan passwordnya ke mereka. Dengan leluasa mereka bisa login dan melihat materi perkuliahan yang sudah pernah saya sampaikan di dalam kelas. Artinya storage 200 MB, tidak digunakan sama sekali, begitupula dengan keterbatasan akun. Memang langkah ini tidaklah ideal, harusnya setiap mahasiswa memiliki akun, mereka bisa login secara pribadi dan bisa mengerjakan tugas-tugas yang saya kirimkan secara online. Tetapi mengingat keterbatasan itu, saya tidak memiliki banyak pilihan.

storage
Storage di moodlecloud tetap 0 MB, dari 50 user hanya terpakai 5 user

Di tulisan ini, saya tidak akan memberikan tutorial bagaimana membuat moodlecloud, sudah banyak yang mengulasnya. Bagi yang tertarik dengan kelas online ini, silakan browsing saja dan ikuti langkah demi langkah. Di blog ini saya hanya ingin menjelaskan berbagai keuntungan yang saya dapatkan dengan membuat kelas online ini, yaitu:

File management. Alasan utama saya sebenarnya adalah sebagai media untuk manajemen file perkuliaha. Saya membutuhkan ini ketimbang harus memberikan file PPT atau file PDF ke mahasiswa. Dulu saya menyerahkan file-file seperti itu sebagai bahan bagi mereka untuk belajar. Tetapi setelah saya temukan banyak sekali file-file materi kuliah saya di internet di portal-portal sharing data, maka saya putuskan tidak akan memberikan file lagi ke mahasiswa. Kenapa? karena file materi perkuliahan itu bersifat dinamis, kita akan mengupdate setiap tahunnya sesuai dengan isu-isu terbaru yang berkaitan dengan materi yang akan kita ajarkan di depan mahasiswa. Artinya bisa saja materi yang kita ajarkan hari ini bakal dianggap tidak relevan lagi di masa depan. Bisa karena teorinya sudah berubah atau bisa juga studi kasus yang digunakan untuk memperjelas literatur juga sudah usang. Alasan itulah yang memaksa saya harus menghentikan penyebar luasan file PDF maupun PPT secara langsung ke mahasiswa.

Konsekuensi dari keputusan itu adalah saya harus menyediakan materi perkuliahan yang bisa diakses secara langsung, tidak bisa didownload dan diupload lagi. Mahasiswa bisa mengakses materi kapan saja, dimana saja dan menggunakan device apa saja. Bisa handphone, tablet atau bahkan komputer mereka masing-masing. Saya memilih visual story page menggunakan adobe spark yang juga saya ulas di blog sederhana ini.

Moodle
Tampilan kelas online di moodlecloud.com

Integrasi materi kuliah. Tujuan kedua saya membuat kelas online ini adalah untuk membuat integrasi materi kuliah dalam bentuk html. Materi dalam bentuk visual story page tadi saya embed dengan page yang ada di moodle. Sehingga mahasiswa tidak lagi mendownload & membaca materi PDF tetapi justru membaca secara langsung materi kuliah di browser google chrome atau di safari.

materi kuliah
Materi kuliah setelah embed di moodle

Bagi saya, ini cukup membantu pekerjaan saya. Setidaknya saya punya file manager online yang bisa saya update setiap saat. Mahasiswa juga dimudahkan untuk mengaksesnya. Bagi yang tidak bisa online di browser, ada layanan moodle mobile juga yang bisa di download dari playstore maupun apple store. Mudah, sangat mudah.

Migrasi dari google classroom ke Moodle

Mulai semester gasal tahun 2019, saya memutuskan memigrasi kelas online yang sebelumnya di google classroom ke moodle yang di laman kulon.undip.ac.id. Kulon sendiri merupakan akronim dari KULiah ONline. Menggunakan aplikasi moodle, yang sebelumnya sudah saya coba pelajari dari tutorial di youtube.com dan beberapa review di blog. Meminta bantuan Dr. -Ing. Prihadi Nugroho, untuk membuat akun dan juga ruang kelas online pertama. Mulai sekarang mata kuliah statistik perencanaan untuk mahasiswa baru, angkatan 2019 sudah bisa diakses di kelas online ini. Pada saat awal login, aplikasi ini cukup membingungkan karena saya berperan sebagai student dan tidak memiliki kewenangan membuat kelas online. Lagi-lagi menghubungi Pak Prihadi, meminta bantuan mengubah peran saya dari student menjadi teacher. Dan hanya dalam hitungan menit di sela-sela kegiatan perkuliahan studio, akhirnya jadi juga kelas online pertama di moodle ini.

Migrasi ini merupakan respon atas larangan penggunaan google classroom untuk kegiatan perkuliahan di kampus maupun sekolah. Tidak diijinkan oleh google, karena perusahaan raksasa Amerika ini telah menyiapkan Google suite for education. Layanan ini tidak berbayar, gratis layaknya gmail secara umum lengkap dengan layanan google classroom dan juga email google dengan menggunakan afiliasi kampus. Kapasitas google drive yang diberikanpun lebih besar dibandingkan dengan yang gmail. Karena sudah ada layanan khusus google untuk pendidikan itulah maka google classroom di kampus harusnya menggunakan layanan G Suite for education. Memang masih ada beberapa kelemahan seperti tidak bisa menerima mahasiswa dengan alamat email umum (gmail) atau email selain yang didaftarkan di afiliasi kampus menggunakan G Suite ini. Artinya mahasiswa kampus A tidak bisa mendaftar di kampus B, begitu pula sebaliknya. Karena batas tersebutlah maka google classroom tidak bisa saya gunakan lagi untuk menyimpan seluruh materi perkuliahan.

ffce91ef-aed9-414d-9a94-9a64392c5aae

Tidak kalah dengan google classroom, moodle memiliki fasilitas yang jauh lebih lengkap mulai dari penugasan (assignment), membuat forum, chat, pilihan, database, quiz, hingga materi perkuliahan. Ada 21 features yang bisa disediakan oleh moodle ini. Dari seluruh layanan, saya baru menggunakan 1 feature yaitu menyajikan materi perkuliahan dalam bentuk visual story page. Halaman html materi saya buat menggunakan adobe spark kemudian dilakukan integrasi (embed) di page. Mahasiswa dapat mengakses seluruh materi di komputer/ laptop, handphone serta tab. Install moodle classic yang bisa didownload di playstore maupun apps store kemudian masukkan URL kulon.undip.ac.id, mereka bisa akses materi perkuliahan dengan mudah dan mobile. Ruang kerja online baru saja tercipta. Moodle di kulon.undip.ac.id. Meskipun tidak se user friendly google classroom tetapi layanannya sangat beragam, komplit dan bisa diakses oleh berbagai gadget. 

Place attachment dalam pemilihan nama daerah

Setelah beberapa kali mengikuti focus group discussion (FGD) penataan wilayah Kota Semarang di beberapa kecamatan, saya belajar banyak hal salah satunya adalah place attachment. Ini adalah istilah/ terminologi yang banyak diperbincangkan di dalam disiplin ilmu psikologi terutama mereka yang belajar psikologi ruang dan psikologi lingkungan. Definisi place attachment sendiri adalah hubungan emosional antara seseorang dengan lingkungan. Hubungan ini sangat erat kaitannya dengan pengalaman seseorang terhadap kondisi lingkungan tempat tinggalnya. Lamanya tinggal, seseorang akan terus belajar dan memahami bagaimana kondisi dan perilaku lingkungan. Orang-orang yang tinggal di pesisir, misalnya, mereka tahu kapan air pasang akan terjadi, ombak besar akan terjadi dan mereka juga paham apa yang harus dilakukan untuk menghadapinya. Inilah place attachment, hasil hubungan sirkuler atau hubungan saling mempengaruhi antara biotik dengan abiotiknya, antara manusia dengan lingkungannya. Hubungan ini tidak hanya mempengaruhi kemampuan manusia beradaptasi terhadap lingkungan, bahkan ada hubungan emosional.

Saya melihat bahwa hubungan emosional ini juga berpengaruh di dalam diskusi pemilihan nama baik nama kecamatan maupun kelurahan. Sebelumnya saya beranggapan bahwa hangatnya diskusi bakal terjadi saat penentuan batas kelurahan mengingat banyak sekali perubahan fisik lingkungan. Ambil contoh ada beberapa kelurahan yang terpotong dan terpisah oleh jalan tol. Awal perkiraan saya di sini, tetapi ternyata berbeda disaat pelaksaan FGD. Diskusi hangat justru bukan di penataan wilayah dan penegasan batas tetapi justru di pilihan nama. Ingin menunjukkan jatidiri kewilayah melalui penamaan, saya rasa ini yang saya tangkap dari setiap usulan nama. Ada beberapa alternatif nama yang diusulkan. Pertama, ada yang mengusulkan nama berdasarkan sejarah masa lalu daerah. Mereka selalu mengkaitkan dengan cerita-cerita terdahulu dan juga peninggalan/ petilasan yang hingga saat ini masih ada. Seperti nama Kyai yang ‘babat alas’ wilayah itu dan bisa juga karena petilasan orang-orang berpengaruh di masa lalu yang hingga saat ini masih ada. Mereka tidak ingin lepas dari sejarah masa lalu ini. Kedua, ada usulan berdasarkan bentangan alam, yaitu kondisi fisik alam yang ada di wilayah itu seperti sendang, rawa, perbukitan dan sebagainya. Nama-nama seperti Rowosari, Telogorejo, dan Telogosari sebagai contoh, itu memiliki hubungan dengan kondisi bentangan alamnya. Mereka memiliki telaga atau mungkin rawa sehingga bentangan alam itu dijadikan tetenger dan diabadikan menjadi nama daerah. Ketiga, ada usulan berdasarkan tetenger alam yang juga berhubungan dengan sejarah masa lalu. Seperti ‘ringin telu’ artinya pohon beringin berjumlah 3. Keempat, nama berdasarkan fenomena alam seperti Tambaklorok, ternyata nama ini berasal dari kata dasar ‘mlorot’ yang artinya turun. Sebenarnya agak sulit menemukan istilah mblorot ini ke dalam bahasa Indonesia, tetapi ilustrasinya adalah jika kita duduk di suatu tebing yang miring kemudian kita turun dengan cara berseluncur di tanah, itulah mblorot dalam bahasa Jawa. Kemudian apa yang mblorot di Tambaklorok ini? jawabannya adalah abrasi yang mengikis tanah di pesisir sehingga seperti mblorot.

Nilai-nilai lokal ini begitu terpatri dan menjadi identitas kewilayahan warga. Tidak ingin meninggalkan nilai-nilai lokal ini menjadi alasan mendasar masyarakat mengusulkan nama-nama kelurahan dan juga nama kecamatan. Ini yang saya pahami sebagai usulan nama berdasarkan place attachment itu. Ternyata Kota Semarang yang sudah begitu maju dan bagian dari metropolitan Kedungsepur tetap menjaga nilai-nilai lokal. Di dalam FGD ini juga diikuti oleh tokoh-tokoh masyarakat yang sudah berusia tidak muda lagi. Mereka yang kita percaya memahami sejarah dan jati diri kewilayah diundang dan diminta pendapatnya. Sangat runtut menjelaskan setiap detail sejarah wilayah, yang mohon maaf tidak bisa saja ceritakan di blog ini karena merupakan bagian dari pekerjaan yang belum bisa di release ke publik.

Lebih lanjut, bagi mereka yang kebanyakan adalah pendatang dan tidak begitu paham mengenai seluk beluk sejarah daerah cenderung memilih arah mata angin sebagai nama daerah, yaitu utara, timur, selatan dan barat. Mereka menambah arah mata angin di belakang nama sebelumnya yang sudah ada. Tidak ada pertimbangan historis begitupula dengan ciri khas setiap daerah. Mereka lebih cepat membuat keputusan dan kemudian disetujui bersama.

Kembali ke place attachment, ada nilai-nilai lokal yang benar-benar menjadi pertimbangan utama. Berdiskusi, berdebat memberikan argumentasi berdasarkan ‘data-data’ yang hanya ada diingatan mereka masing-masing. Mereka yang bisa menyajikan informasi lebih detail, runtut dan bersuara lebih keras biasanya dialah yang menjadi rujukan. Mungkin ini yang kemudian ada tahapan politik di masyarakat bawah, mempengaruhi. Hal menarik lain yang saya tangkap adalah ternyata nama daerah berdasarkan nilai-nilai sejarah jauh lebih penting dibandingkan diskusi batas wilayah. Banyak batas kelurahan yang bergeser karena pembangunan, tetapi ternyata mereka tidak mempersoalkan lebih panjang. Justru nama daerah inilah yang menjadi diskusi hangat. 

Tak disadari indexing menjadi bagian hidup kita

Hari ini setelah FGD di Kecamatan Semarang Utara untuk membahas penataan wilayah Semarang, seperti biasa kami mencari tempat makan siang. Rasanya sudah menjadi rutinitas tim setelah bekerja bareng. Tim gabungan dari kolega Fisip dan PWK untuk membantu pemerintah kota. Meskipun masing-masing dari kami sudah menenteng nasi kotak lengkap dengan snacknya, tetapi rasanya belum komplit kalau belum makan bareng di restoran. Sambil ngobrol, menikmati makanan yang tersedia. Meskipun sudah lebih dari 10 tahun tinggal di Kota Semarang, nyatanya kami berempat belum hafal setiap sudut kota. Clingak-clinguk bingung mencari informasi tempat makan yang enak, dekat dan luas parkirnya. Bertanya ke para pegawai kantor kecamatan setempat, pak satpam hingga tukang parkir. Semuanya hanya bilang: ‘banyak pak di sepanjang jalan tinggal milih saja’. Tidak ada rekomendasi khusus kemana kami harus pergi dan makanan apa yang sebaiknya dinikmati.

Tidak kunjung ada kepastian, akhirnya mencari tempat makan lewat aplikasi google di smartphone. Ketik: tempat makan sekitar Semarang Utara, dan akhirnya disajikan berbagai macam alternatif rumah makan. Terlalu banyak pilihan membuat kami kebingungan juga mau memilih yang mana. Akhirnya pemegang smartphone melihat informasi lebih detail di rating konsumen dan komentar para konsumen. Oh ada rumah makan dengan bintang 4,8. Ini rumah makan dengan rate bintang paling unggul rupanya. Akhirnya kamipun bersepakat mendatangi tempat makan itu yaitu Seafood Pak Sangklak berlokasi di Jalan Telaga Mas Raya Kec. Semarang Utara. Keputusan pilihan kami berdasarkan nilai statistik yang dibuat oleh google.

Indexing manual jaman sekolah

Jauh sebelumnya, rasanya sebelum menentukan tempat makan selalu bertanya. Minta pendapat, minimal bertanya: ‘enak nggak masakan di tempat itu?’ – kurang lebih demikian. Kemudian dikala lebih banyak orang memberikan pendapat serupa maka akan semakin yakin atas opini mereka. Jika kebanyakan mengatakan enak maka mungkin kesimpulannya juga memang enak. Begitu opini yang terbangun kemudian mempengaruhi keputusan kita. Proses manual, informal dan tidak terrekap itu rasanya diperhatikan oleh google. Disaat kita meninggalkan tempat makan, asalkan GPS di smarphone aktif, kita sering diminta oleh Google untuk memberikan ulasan. Review kita dipampang dan dapat dibaca oleh publik. Sesekali menambahkan foto-foto otentik hasil jepretan sendiri. 

Rasanya itu bukan hanya berlaku untuk dunia kuliner, alias makan – memakan. Jauh beberapa puluh tahun lalu, dikala kita masih sekolah entah SD hingga sudah kuliah, sebenarnya kita sendiri juga melakukan ‘tindakan indexing’ ini, Disadari maupun tidak disadari, tetapi kita melakukan. Baik, ijinkan saya menjelaskan lebih detail. Dikala kita mencatat setiap pelajaran yang diberikan oleh bapak/ ibu guru, mungkin beberapa di antara kita juga memberikan tanda di catatan yang kita anggap penting. Saya sendiri sangat ingat banget bagaimana sirkulasi darah di dalam tubuh yang dahulu di ajarkan oleh Guru Biologi di SMP. Untuk mempermudah saya ‘menghafal’ waktu itu, saya menstabilo setiap informasi penting, termasuk sirkulasi darah itu. Setiap membuka buku, langsung dengan jelas terlihat: ini penting dan itu tidak terlalu penting. Ya.. minimal sebagai notasi, atau highlight atas informasi-informasi penting dari pelajaran sekolah. Secara sadar sebenarnya kita membuat indexing atas kata-kata penting itu. Bedanya dengan google adalah kita tidak membuat database.

Kemudian, saat kuliah. Di tahun 2000-an, tepatnya tahun 2001 saya masuk pertama kali kuliah, sangat popular buku binder yang berisi kertas-kertas looseleaf yang dengan mudah bisa kita masukkan dan dilepas dari binder ini. Selain itu, ada pembatas warna-warni di binder yang bisa kita manfaatkan untuk membatasi materi antara satu perkuliahan dengan perkuliahan lain. Sebagai contoh: warna merah untuk materi kalkulus, warna hijau untuk kuliah statistik, dan seterusnya. Sebenarnya kita juga melakukan indexing. 

Merapikan dan membuat database indexing 

Di tingkat akhir kuliah S1, mahasiswa diminta membuat skripsi. Penelitian kecil dengan cara mengumpulkan data dan kemudian mendiskusikan dengan literatur dasarnya. Bagi yang menggunakan pendekatan kuantitatif, tentu bermain dengan angka-angka statistik tidak bisa dihindarkan. Angka di sini bisa berfungsi sebagai pembeda atau kode setiap data tetapi bisa juga memiliki satuan tertentu. Jika kita salah memperlakukan data itu maka akan mendapatkan kesimpulan yang salah juga. Sebagai contoh saya ingin menjumlahkan 5 kg gandum dengan 10.000 rupiah, apakah bisa kita simpulkan jumlahnya 10.005? – tidak. Beda jenis datanya. Data kuantitatif yang kita kumpulkan di dalam penelitian S1 ini biasanya kita tabulasi, dimasukkan di dalam tabel. Bisa manual atau menggunakan software. Salah satu teknis paling dasar di dalam olah data ini adalah membuat klasifikasi, mencari perbedaan dau persamaan untuk kemudian kita simpulkan artinya. Untuk membuat pengelompokan ini tentunya kita juga melakukan apa yang disebut dengan coding, Berapa jumlah responden yang berjenis kelamin laki-laki? berapa yang perempuan? berapa yang berpendidikan tinggi? dan sederet pertanyaan lainnya bisa dengan mudah kita hitung setelah kita membubuhkan kode/ notasi. Ini juga indexing dan juga database sederhana.

Membuat database super komplek, inilah yang dilakukan oleh Google. Apakah di saat kita mencari informasi di internet menggunakan layanan google.com memang benar-benar mencarinya? – Tidak. Sebenarnya kita mencari di database-nya google. Dia melakukan pemanenan data kemudian di-index dan di masukkan ke dalam databasenya. Termasuk Rumah Makan Pak Sangklak, tempat kami makan ini. Google mengindex seluruh informasi yang ada di internet dan tidak manual, menggunakan robot digital. Dia mencari informasi di seluruh jagat raya kemudian memasukkan ke dalam database google. Indexing yang dilakukan Google ini sebenarnya juga sama prinsipnya dengan apa yang kita lakukan dengan membuat stabilo di catatan kita, atau mungkin membuat pembagi di buku binder kuliah kita. Jadi, ini adalah keniscayaan yang harus diterima dan memang telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. 

Indexing di dunia penelitian dan perdosenan

Di dunia dosen, indexing seperti Scopus dan google scholar sudah bukan barang baru lagi meskipun keberadaannya sering membawa polemik. Banyak yang setuju tetapi tidak jarang juga berseberangan. Kalau sudah memiliki Scopus ID dan kemudian memiliki portofolio hasil publikasi di Scopus rasanya ada perasaan bangga tersendiri, mungkin demikian untuk sebagian orang. Pasalnya tidak jarang seorang peneliti memamerkan Scopus ID nya di profil peneliti baik di CV maupun di personal blog. Namun tidak sedikit pula yang tidak setuju dan cenderung memojokkan Scopus. Dianggap produk industrialisasi hasil riset dan publikasi dan memang yang memilikinya adalah raksasa publiser dunia yaitu elsevier. Bahkan sampai ada yang malu, dan mencurahkan ‘kekesalannya’ di surat kabar berjudul ‘aku malu menjadi dosen di Indonesia’. Meskipun tidak setuju dengan sistem perscopusan dan dunia indexing, tetapi sebenarnya tulisan itupun juga terindex minimal di google. 

Seperti restoran yang kami pilih tadi, rate tertinggi kami artikan bagus, enak dan memang layak dikunjungi. Begitu halnya dengan seorang peneliti. Mereka yang memliki rate tinggi yang ditunjukkan oleh h-index konon sering diartikan inilah yang berjaya, pantas menjadi rujukan dan lain sebagainya. Jadi, kalau saya sendiri kenapa harus risau dengan dunia indexing. Itu bagian dari kehidupan kita kok. Google dan scopus hanya membantu merapikan dan membuatnya ke dalam database besar. Kenapa harus malu menjadi dosen di Indonesia? kenapa sampai harus mengeluh. Indexing adalah bagian dari kehidupan kita yang sudah ada sejak jaman dulu, hanya saja teknologinya baru muncul belakangan ini. Dan kebetulan pemerintah menjadikannya rujukan, dan itupun tidak salah.

Menjadikan scopus sebagai barometer hasil riset oleh pemerintah itu tidak salah. Sama sekali tidak salah menurut saya, sejauh kita belum bisa membuat teknologi yang sepadan. Jikalau kita sudah bisa membuat teknologinya yang sepadan, nah bolehlah kita anggap Scopus dan pengindex lain itu sebagai rival, 

Berbagi cerita dari meja redaksi Riptek

Cover modul online Riptek
Cover modul online Riptek

Satu bulan lalu tepatnya hari selasa 26 Maret 2019, di depan peserta sosialisasi hasil penelitian Kota Semarang. Riptek, jurnal ilmiah yang dikelola oleh Bappeda Kota Semarang diperkenalkan. ‘Sisipan’ informasi di tengah-tengah paparan penelitian. Meskipun sedikit tidak nyambung dengan tema besar kegiatan, launching pertama Jurnal Riptek ini perlu dilakukan sebagai wadah hasil penelitian terkait dengan Kota Semarang. Riset-riset yang banyak dilakukan di Kota Semarang baik oleh warga Kota Semarang melalui kampus-kampus di sini maupun mereka yang terlibat di dalam hibah penelitian Internasional dari lembaga global seperti World Bank, USAID, Mercy Corps dan masih banyak lagi tentunya. Banyak, banyak sekali. Setiap proyek-proyek studi yang digawangi oleh OPD-OPD di pemerintah Kota Semarang juga bisa menjadi beberapa sumber yang perlu diakomodasi sebagai hasil riset dan pada akhirnya dipublikasikan ke dalam artikel jurnal ilmiah. Nah… jurnal Riptek bisa menjadi ruang publikasinya.

Menggunakan platform OJS (Online Journal System), jurnal digital Riptek dibangun dan dipublikasikan di portal http://www.riptek.semarangkota.go.id. Berbeda dengan jurnal Riptek sebelulnya yang baru mempublikasikan dokumen artikel dalam bentuk portable document format (PDF) di web Bappeda Kota Semarang, di platform OJS ini juga mengelola proses editing setiap artikel. Seluruh proses pengolahan artikel akan direkam dan diarsipkan secara rapi di sistem OJS. Kelengkapan administrasi jurnal online baru diupayakan dengan mendaftarkan ISSN – Online di PDII LIPI. Syarat administrasi ISSN Online ini sangat perlu sebagai syarat dasar agak jurnal cetak juga boleh dionlinekan menjadi jurnal online. Selain itu, kebutuhan dasar agar bisa diindex oleh DOAJ (Directory Open Access Journal). Sebegai mesin pengindex tingkat menengah perlu juga diperhitungkan di dalam pengelolaan jurnal digital.

Selain portal online, redaksi jurnal riptek juga akan memiliki modul pengelolaan jurnal. Modul ini masih dalam proses penyempurnaan yang nantinya juga akan bisa diakses umum dan juga open access. Isinya sangat operasional dan teknis pengelolaan OJS. Dari seorang calon penulis yang akan mengirim artikelnya ke OJS hingga seorang jurnal manager di dalam mengelola website jurnalnya. Komplit.

Tidak berhenti di OJS dan modul. Dilengkapi juga dengan video tutorial pengelolaan jurnal yang juga bisa diakses publik di channel youtube. Sehingga diharapkan selain membaca modul, seorang pengelola jurnal juga bisa melihat secara langsung video tutorial di youtube. Setiap langkah penggunakan tools di OJS diilustrasikan di video tutorial dengam sangat rinci dan jelas. Masyarakat umum dan tentu mereka yang tertarik dengan dunia riset dan publikasi akan dimudahkan.

Video tutorial penggelolaan OJS

Berkolaborasi membenahi peta kota

Hari ini (16/5), kami tim Planologi berkolaborasi dengan kolega dari FISIP. Bersama dengan lebih dari 200 perangkat kelurahan dan kecamatan di Kota Semarang membenahi peta administrasi. Perkembangan kota yang menyebabkan perubahan rupa bumi perlu disadari dan diakomodasi dalam updating peta. Dan kami bersama-sama berdiskusi, memandangi layar kaca dan LCD proyektor untuk memastikan peta kami sudah up to date ataukah belum. Kolaborasi apik ini rasanya belum banyak, dan bagi saya sendiri inilah pengalaman pertama.

Bagi anak-anak Planologi, istilah SHP, ArcGIS, Google Earth dan sederet istilah yang lekat dengan dunia peta bukanlah hal asing. Sangat popular, sangat sering kami bicarakan, kami gunakan dan kami ajarkan. Namun bagaimana dengan mereka yang lebih sering mengurusi administrasi kota? Bukan hal umum tentunya. Sama halnya dikala kami dari Planologi diminta mengurus administrasi, tentu kikuk, dan tidak lancar. Ya… ada plus dan minus. Namun yang perlu dipahami adalah tidak semua orang peta paham lokasi, begitu pula sebaliknya orang yang paham lokasi belum tentu paham peta. Inilah alasan kenapa kami harus berkolaborasi.

Bagi kami, orang-orang Planologi, peta merupakan salah satu alat untuk menggambarkan suatu wilayah. Peta adalah data, kurang lebih demikian. Tetapi berbeda bagi mereka di pemerintahan baik yang ada di pusat maupun di daerah. Peta bisa berarti gambaran kewenangan, bisa juga menggambarkan kedaulatan. Ya..kurang lebih demikian diskusi kami berjalan. Dinamisnya diskusi terus mengalir hingga lupa waktu. Semuanya terkendali, sesuai dengan harapan dan berbuah hasil berupa kesepakatan.

Tidak menggunakan software canggih nan mahal. Cukup memanfaatkan google earth dan google map, kami menelurusi setiap jalan, sungai dan gang-gang kampung untuk memastikan itulah batas fisik administrasi yang memisahkan antara satu kelurahan dengan kelurahan lainnya. Penelusuran ini tentu tidak kami lakukan secara nyata, kami cukup memanfaatkan software yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kami. Apakah itu sudah cukup? Tidak, tidak jarang kami harus mengecek kondisi lapangan menggunakan fasilitas virtual lainnya, google street view. Biasanya dikala kami kebingungan arah menentukan dimana titik lokasi kantor kelurahan atau kantor kecamatan. Telusuri setiap ruas di zona virtual dan kami dapatkan, terima kasih google.

Ya.. ini adalah evolusi besar dunia peta. Bukan lagi barang eksklusif para pemilik ‘modal’ besar yang mampu membeli GPS atau mungkin citra satelit. Raksasa internet Amerika dengan cuma-cuma membuka aksesnya kepada publik.

Bagaimana kami berkolaborasi?

Seperti yang sudah saya singgung di atas. Mereka yang paham peta belum tentu paham lokasi, sebaliknya mereka yang paham lokasi belum tentu paham peta. Ini menjadi landasan kami bekerjasama. Tim planologi memegang beberapa software, dimana Google Earth menjadi software utama kami bekerja. Para perangkat kelurahan dan kecamatan dipandu oleh rekan-rekan FISIP memandu diskusi dan menunjukkan setiap titik-titik batas di peta. Mereka pasti menanyakan ‘tetenger’ atau penanda batas yang sangat melekat ke collective memory mereka. Tetenger itu sangat mereka tau dan ingat tetapi terkadang tidak tau dimana lokasinya di peta, selanjutnya adalah tugas kami menemukannya. Setelah ketemu, baru mendiskusikan arah, barat-timur, utara-selatan. Arah ini harus disepakati, ke arah kiri artinya ke barat ke arah kanan artinya ke timur, ke atas adalah arah utara dan ke bawah adalah arah selatan. Kesepakatan ini penting untuk mengarahkan kursor mouse saat akan menggeser peta di google earth.

Setelah kesepakatan didapatkan, langkah selanjutnya adalah mendigitasi, menjiplak garis-garis di peta ke dalam garis-garis vektor. Garis hasil ‘jiplakan’ inilah hasil digitasi peta itu. Kenapa harus dijiplak? Jawaban teknis adalah karena kami membutuhkan data vektor yang bisa memberikan informasi mengenai panjang, lebar, dan data lain yang bisa kita tambakan. Kalau peta citra (foto) tidak bisa belum bisa memberikan informasi yang dibutuhkan. Ini domain kami, seorang planolog. Mereka yang berasal dari kelurahan dan kecamatan berperan sebagai penunjuk arah.

Digitasi selesai, tahap selanjutnya adalah membuat kesepakatan dan berita acara. Siapa yang memberikan arahan dan apa yang sudah diputuskan harus bisa diverifikasi. Kurang lebih begitu, berita acara dan penyepakatan bukanlah domain kami. Itu adalah keahlian mereka teman-teman dari Fisip. Nah.. ini menjadi alasan kedua kenapa harus berkolaborasi. Dari pekerjaan ini, rasanya ada sesuatu baru yang bisa dipelajari. Peta adalah alat untuk kami bisa bekerjasama, berkolaborasi dan menyepakati. Dan tidak berlebihan rasanya dikala harus berterima kasih kepada Google.

Kerjasama tim kunci kualitas studio

Studio, mata kuliah praktik perencanaan dan desain perkotaan mahasiswa Planologi, selalu memiliki cerita tersendiri di balik ‘riuhnya’ tugas dan kuliah. Mungkin sebagian mahasiswa menganggap mata kuliah ini sebagai monster yang cukup ditakuti, tugasnya banyak, deadline hampir tiap minggu, lembur dan menghabiskan uang saku cukup besar. Harus lembur bareng-bareng, ngeprint beratus-ratus lembar, itupun tidak cukup, harus menyiapkan peta ukuran besar hingga membuat video dokumentasi. Super sibuk, dan harus koordinasi. Tidak jarang ada pula mahasiswa yang free rider, ikut kumpul kelompok tetapi nggandul tidak tentu arah, pokoknya ikut saja dengan kontribusi ala kadarnya. Tidak bisa dipungkiri seluruh anggapan itu, memang demikian. Waktu saya menjadi mahasiswa juga mengalami hal serupa bahkan permasalahan utamanya terkadang bukanlah deadline dan substansi studio yang njlimet tetapi justru pada proses koordinasi antar anggota tim yang melelahkan.

Tugas besar – kelompok besar, sebenarnya balance. Tenaga banyak bersama-sama mengerjakan tugas kelompok yang super berat. Namun kenyataannya justru pada pembagian tugas yang cukup menyita emosi dan terkadang justru menjadikan tugas tidak efektif. Mereka yang ‘pintar menjelaskan’ meskipun bekerja sedikit sering dianggap yang paling berani ngomong dan pada akhirnya mendapatkan nilai apik. Tidak salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Memang ada ‘tidak salahnya’ terutama di masa saya menjadi mahasiswa, mereka yang bermodal baju perlente dan presentasi yang mencampur bahasa Indonesia dengan Bahasa Enggrais sering tampil di depan, tentu nilai keaktifan tinggi dan pada akhirnya A.

Dari pengalaman saya, itu adalah bentuk intelektual semu. Terbukti kok di saat masuk semester pertengahan hingga akhir. Mereka yang bermodal speaking semata tidak bisa survive disaat sudah membahas kajian-kajian detail. Bahkan dulu (2003-2004) ada teman dengan gaya boss mendapatkan tugas membuat poster kelompok. Dikerjakan sih tetapi dibuatnya di Microsoft Word ukuran A4 dan berisi foto besar di tengah kemudian dikelilingi foto-foto kecil di sekelilingnya, diberi garis dan panah tanpa desain sama sekali. Jelek, jelek sekali desainnya seperti prakarya anak SMP dan bukan seperti anak Planologi yang pernah mendapatkan matakuliah teknik komunikasi.

Saya melihat dari sepuluh anggota kelompok, mungkin hanya 3 – 4 otang yang benar-benar menjadi motor penggerak tim. Benar-benar berfikir, menyusun konsep, mengedit laporan dan mengeprintnya. Yang lain bagaimana? – ya begitulah, pelengkap keramaian tanpa hasil berarti. Menjadi super sibuk dan super kritis dikala mau ujian akhir semester. Copy file studio, bertanya detail setiap sub bab dan menghafal setiap penjelasan dari koordinator dan konseptor. Ya.. begitulah kurang lebih.

Meski demikian, kerja tim kecil (meskipun tidak absolut 100%) tetap saja akan berarti dan akan menghasilkan produk. Solidaritas tim kecil (dari tim besar) akan mewarnai kinerja tim, dan pada akhirnya adalah kualitas laporan. Saya juga demikian di saat menjadi mahasiswa. Selalu saja menjadi koordinator, bertugas mengumpulkan anggota tim, memimpin jalannya diskusi dan dikala deadlock, ya mengkonsep dan membagi tugas dan sering juga mengerjakan sendiri di rentalan. Tidak jarang mereka yang mendapatkan tugas dikerjakan sekenanya bahkan suatu waktu, di saat sudah mendekati deadline, saya menagih bagian tugas dari seorang teman. Apa yang saya dapatkan? – sebuah amplop berisi disket (waktu itu belum ada flashdisk) dan surat yang berisi permohonan maaf tidak bisa mengerjakan bagian tugas. Deadline hanya kurang beberapa jam, tugas belum dikerjakan, belum diketik dan tentu belum di print apalagi dijilid. Alhasil saya harus keluar-masuk rental komputer, membuat laporan dan tetap menulis namanya di cover laporan. Rugi..rugi banget rasanya waktu itu.

Kejadian seperti itu berlangsung hingga semester-semester akhir. Tepat di semester 6 dikala tugas kuliah sudah mulai individu, mereka yang bekerja dengan ‘hanya mengandalkan verbal’, mulai ketahuan belangnya. Mulai keteteran, meski tetap bisa survive. Memilih tema Tugas Akhir juga bukan dari hasil membaca buku text apalagi jurnal tapi cukup membaca tugas akhir kakak kelas, utak-atik sedikit metode, tema dan lokasi riset dan jadilah proposal TA. Tidak ada inovasi sama sekali.

Kembali ke studio! Kerja tim tidak bisa ditawar, memang harus team work meskipun hanya sekian persen dari seluruh jumlah anggota. Tiga sampai 4 orang saja cukup sebenarnya, asalkan ikhlas dan berorientasi pada hasil yang bagus. Tetap jadi dan pasti jadi. Mereka yang hanya mengandalkan kemampuan verbal tidak perlu dihiraukan, kita mengukir hidup kita masing-masing kok, dan Tuhan tidak pernah tidur. Di kala teman-temanmu tidur, panjatkan doa setinggi-tingginya ke hadapan-Nya dan biarkan Dia yang akan mengukir hidupmu. *duh jadi mendadak ustad. Tapi memang itu salah satu bentuk menghibur diri sendiri saat itu, dan alhamdulillah apa yang pernah saya ucapkan dalam Doa, terwujud.

Proses review cepat: jangan seneng dulu!

Menjadi kebahagiaan tersendiri bagi penulis, disaat mendapatkan jurnal yang memberikan review cepat. Merasa tidak di PHP – alias pemberi harapan palsu. Iya.. memang sering sekali disaat kita submit artikel di jurnal tertentu, harus menunggu waktu yang cukup lama, tidak di balas sama sekali, hingga terkadang data yang digunakan sudah masuk waktu expired date. Meskipun tidak ada batas waktu kapan expired date suatu data riset itu terjadi, tetapi dari obrol-obrolan sesama dosen dan bertanya kepada mereka yang jauh lebih senior, biasanya batas waktu 2 tahun dianggap batas waktu sebuah riset dan data di dalamnya masih dianggap up to date untuk dipublikasikan. Nah, tetapi tidak jarang proses submit – review – revisi – re-submit ke suatu jurnal bisa memakan waktu hingga lebih dari 2 tahun. Jenuh, di PHP suatu jurnal nasional terakreditasi. Tidak perlu saya sebutkan nama jurnalnya, setidaknya saya sudah 2 kali berurusan dengan lamanya prosea review jurnal tersebut. Memang tidak bisa disangkal dengan hasil reviewnya, memang bagus, detail dan terkadang kita sebagai penulis mendapatkan pencerahan atau justru ilmu baru. Kenapa bisa demikian? Ya..karena temuan riset kita yang ditulis di artikel itu justru mendapat komentar dan masukan sebaliknya, berbeda banget dan jauh dari apa yang sudah kita tulis. Ini yang saya maksud, benar-benar ada dialog/ diskusi antara penulis dengan editor bahkan reviewer, meskipun kita tidak mengenal satu sama lain. Blind review, kurang lebih begitu role play-nya.

367545421_30d9463649_o
Sumber: https://www.flickr.com/photos/davidsilver/367545421 dengan lisensi Attribution-NonCommercial-ShareAlike 2.0 Generic (CC BY-NC-SA 2.0)

Karena prosesnya yang lama banget (meski hasil reviewnya bagus), jadi terkadang bikin males juga. Harus menunggu lama. Cek email tiap hari, sambil berharap bakal ada email balasan dari editor, dan…dan..dan..nihil, tidak ada hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Tepatnya 2 tahun! Artikel di submit, ditunggu kurang lebih 7 bulan baru mendapatkan balasan lengkap dengan hasil review. Alhamdulillah major revision, banyak banget salahnya dan harus dielaborasi kedalam perbaikan artikel. Direvisi sesuai permintaan editor dan reviewer, disubmit lagi ke editor dan tidak dibalas. Setiap ditanyakan bagaimana status artikelnya? Tidak di balas, ditanya lagi tidak dibalas lagi hingga 2 tahun. Nah…sampai capek rasanya. Tepat di tahun ke-2 terbitan artikel di jurnal itu publish online, harap-harap cemas apakah artikel saya ikut dalam list terbitan terbaru itu? Dan ternyata tidak ada lagi. Entah kapan akan diterbitkan. Kirim email lagi menanyakan status artikel, tidak dibalas lagi. Dan akhirnya saya putuskan untuk withdraw alias ditarik untuk tidak dipublikasikan. Email permohonan withdraw itupun tidak dibalas. Entah kenapa!

Singkat cerita artikel yang sudah ditarik itu saya submit ke jurnal lain yang juga nasional terakreditasi (terakreditasi B waktu itu), sistem akreditasinya berbeda dengan saat ini yaitu sinta 6 hingga sinta 1. Saya submit ke jurnal baru dengan melampirkan hasil review dan juga email pemberitahuan penarikan artikel. Tidak menunggu lama, mungkin hanya 1 bulan, sudah diberitahu bahwa artikel saya sudah diterbitkan dan dapat diakses online. Wah..seneng sekali.

Dari cerita itu, akhirnya saya mulai berfikir untuk tidak submit artikel lagi di jurnal lama, yang lama proses review dan terus memberikan PHP. Mending di jurnal yang ‘baru’, prosesnya cepet dan tidak PHP. Sedikitnya sudah ada 3 artikel yang terbit di jurnal nasional terakreditasi (baru) ini. Prosesnya cepet!

Mulai berfikir ulang

Siapa yang tidak ingin artikelnya cepat terbit? – Saya rasa hampir semua dosen menginginkan artikelnya cepat direspon, sedikit revisi dan segera terbit. Manusiawi menurut saya, sangat normal. Tetapi coba ditelisik lebih dalam lagi mengenai kualitas reviewnya. Meskipun memiliki standar akreditasi yang sama, nyatanya memiliki kualitas review yang jauh berbeda. Di jurnal yang memberi PHP dan hingga 2 tahun tidak menerbitkan artikel saya itu, memang kualitas reviewnya sangat bagus. Saya mengatakan sangat bagus karena memang detail bukan hanya titik, koma, tanda baca dan kesalahan penulisan saja yang dikoreksi tetapi memang hingga kedalaman analisis, debat literatur dan bahkan debat antara penulis dengan editor & reviewer jurnal secara daring.

Sedangkan untuk jurnal baru yang mungkin tidak lebih dari 6 bulan sudah memberikan kepastian untuk menerbitkan artikel memiliki bobot review yang biasa saja. Sangat rendah bahkan, contohnya adalah mengomentari format ketikan yang tidak rapi, merekomendasikan untuk mengutip artikel dari jurnal yang dia kelola dan meminta untuk memperpendek judul artikel. Tidak ada masukan untuk substansi artikel sama sekali. Tidak ada! Benar-benar hanya formating artikel saja.

Bagi pengelola jurnal seperti saya, memang ada standar administratif yang kita pahami dan kita gunakan. Contohnya adalah harus ada gap analisis di bagian pendahuluan dan adanya discussion dan feedback di bagian akhir pembahasan terhadap literatur yang kita acu. Administratif sedikit ke substansial seperti itu cukup mudah kita penuhi. Namum terkadang yang perlu diperhatikan adalah apakah yang kita kutip sudah benar? Apakah ada kebaruan lain dari diskusi literatur terbaru? Terkadang ini masih luput dari jangkauan saya sebagai peneliti pemula. Sehingga peran reviewer dan editor untuk ikut serta mengkritisi substansi artikel sangat dinantikan.

Dari pengalaman ini, mulai berfikir bahwa jangan hanya mengandalkan review cepat tapi kualitas biasa saja. Atau mulai beranjak ke level yang lebih tinggi yaitu di international journal bereputasi. Ya.. meskipun belum juga berhasil di level Int’ journal ini. Terakhir bulan lalu, artikel saya submit di jurnal internasional kelompoinya MDPI, selang 4 jam sudah dibalas oleh assistant editor dan di-reject. Hehe..belum beruntung.

Kembali ke topik, jangan senang dulu dengan proses review cepat jikalau hasil reviewnya masih rendah. Lihat saja di website PAK Ristekdikti yang sering mengungkap temuan-temuan akademik dari plagiasi hingga temuan proses review yang dianggap kurang kredibel. Lengkap dibahas di situ.

Greenshot 2019-05-05 22.22.32
Salah satu temuan PAK Dikti (sumber: http://pak.ristekdikti.go.id/)

*mulai introspeksi diri.

Solusi legal menggunakan grammarly gratis

Grammar checker seperti grammarly.com sangat membantu bagi saya yang kemampuan bahasa Inggrisnya masih rendah. Masih sering menulis dengan grammar yang keliru, tidak tepat. Kesalahan yang paling sering dilakukan adalah tidak membubuhkan artikel di depan kata benda. Maklum, di Bahasa Indonesia tidak menggunakan artikel di setiap kata bendanya. Perbedaan grammar ini antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris menjadikan sering terlupakannya artikel. Tentu tidak hanya itu, penulisan yang tepat juga terkadang masih terkendala. Karena persoalan itu, maka grammar checker seperti ini sangatlah membantu.

Persoalan selanjutnya adalah grammarly.com bukanlah software gratisan. Hehehe… gratisan tetep jadi prioritas asal bukan bajakan. Alhamdulillah kalo yang bajak-bajakan sudah mulai ditinggalkanlah, inshaf, menggunakan hardware dan software original sekarang. Namun meski begitu, software gratisan atau freeware tetep jadi buruan utama. Nah… freeware semacam grammarly ini belum banyak beredar. Harus subscribe dan membayar setiap tahunnya. Lebih dari Rp. 1.000.000,- setiap tahunnya, wow mahal. Iya mahal, kenapa? Ya.. karena setiap tahunnya bukan hanya melanggan grammarly tetapi juga office 365 dimana harganya sekitar Rp. 1.200.000,- setiap tahunnya untuk edisi Home. Artinya jika harus melanggan 2 software sekaligus setiap tahunnya, jelas berat diongkos.

Untung Grammarly.com cukup baik hati. Gratisannya ada untuk google chrome dan juga bisa aktif kita ‘mainkan’di google doc. Layanan anyar cukup membahagiakan. Mulai berbondong-bondong migrasi, menggunakan google doc ketimbang memanfaatkan office 365, ini khusus dikala ingin menulis artikel dalam bahasa Inggris. Berjalan mulus, legal dan cepat. Pakai tethering menggunakan telkomsel juga bisa berjalan lancar tanpa jeda. Alhamdulillah. Tidak hanya di google doc, software ajaib ini juga bisa kita nikmati di google chrome seperti yang sudah saya singgung di atas. Misalnya kita menulis email menggunakan Bahasa Inggris, aktifkan saja grammarly for chrome maka akan secara otomatis mengoreksi grammar Bahasa Inggris kita. Fiture yang cukup berguna lainnya adalah adanya suggestion sehingga di kala kita ingin menulis email, maka akan ada suggestion text, memperingan otak untuk loading.

suggest google doc
Koreksi grammarly di google doc

Lumayan bisa memberikan koreksi untuk basic grammar terutama dikala ada kata benda tidak menggunakan artikel atau membubuhkan tobe dikala belum ada verb. Namanya juga basic, jadi layanannya masih yang level terendah. Untuk sentence suggestion hingga readibility kalimat harus upgrade ke versi premium dan – bayar. Meskipun bisa memberikan suggestion perbaikan tetapi pengetahuan dasar bahasa Inggris tetap harus dimiliki bagi seorang penulis. Tidak bisa hanya mengandalkan grammarly untuk memastikan bahwa bahasa Inggrisnya benar dan baku. Di sini, grammarly hanya membantu.

Office online
Grammarly tidak berjalan di Microsoft Office (meskipun online)

Layanan premium grammarly di google doc ini tidak berlaku untuk microsoft office. Meskipun menggunakan microsoft word online dengan memanfaatkan google chrome, namun layanan gratisan ini tidak bisa bekerja. Hanya untuk google chrome dan google doc namun tidak untuk microsoft office (meskipun online – sekali lagi). Secara otomatis fungsi grammarly akan non-active, mati dan tidak berfungsi. Jadi berfikir berkali-kali untuk melanjutkan subscription office 365 atau justru mulai pindah ke google doc.