Berkolaborasi membenahi peta kota

Hari ini (16/5), kami tim Planologi berkolaborasi dengan kolega dari FISIP. Bersama dengan lebih dari 200 perangkat kelurahan dan kecamatan di Kota Semarang membenahi peta administrasi. Perkembangan kota yang menyebabkan perubahan rupa bumi perlu disadari dan diakomodasi dalam updating peta. Dan kami bersama-sama berdiskusi, memandangi layar kaca dan LCD proyektor untuk memastikan peta kami sudah up to date ataukah belum. Kolaborasi apik ini rasanya belum banyak, dan bagi saya sendiri inilah pengalaman pertama.

Bagi anak-anak Planologi, istilah SHP, ArcGIS, Google Earth dan sederet istilah yang lekat dengan dunia peta bukanlah hal asing. Sangat popular, sangat sering kami bicarakan, kami gunakan dan kami ajarkan. Namun bagaimana dengan mereka yang lebih sering mengurusi administrasi kota? Bukan hal umum tentunya. Sama halnya dikala kami dari Planologi diminta mengurus administrasi, tentu kikuk, dan tidak lancar. Ya… ada plus dan minus. Namun yang perlu dipahami adalah tidak semua orang peta paham lokasi, begitu pula sebaliknya orang yang paham lokasi belum tentu paham peta. Inilah alasan kenapa kami harus berkolaborasi.

Bagi kami, orang-orang Planologi, peta merupakan salah satu alat untuk menggambarkan suatu wilayah. Peta adalah data, kurang lebih demikian. Tetapi berbeda bagi mereka di pemerintahan baik yang ada di pusat maupun di daerah. Peta bisa berarti gambaran kewenangan, bisa juga menggambarkan kedaulatan. Ya..kurang lebih demikian diskusi kami berjalan. Dinamisnya diskusi terus mengalir hingga lupa waktu. Semuanya terkendali, sesuai dengan harapan dan berbuah hasil berupa kesepakatan.

Tidak menggunakan software canggih nan mahal. Cukup memanfaatkan google earth dan google map, kami menelurusi setiap jalan, sungai dan gang-gang kampung untuk memastikan itulah batas fisik administrasi yang memisahkan antara satu kelurahan dengan kelurahan lainnya. Penelusuran ini tentu tidak kami lakukan secara nyata, kami cukup memanfaatkan software yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kami. Apakah itu sudah cukup? Tidak, tidak jarang kami harus mengecek kondisi lapangan menggunakan fasilitas virtual lainnya, google street view. Biasanya dikala kami kebingungan arah menentukan dimana titik lokasi kantor kelurahan atau kantor kecamatan. Telusuri setiap ruas di zona virtual dan kami dapatkan, terima kasih google.

Ya.. ini adalah evolusi besar dunia peta. Bukan lagi barang eksklusif para pemilik ‘modal’ besar yang mampu membeli GPS atau mungkin citra satelit. Raksasa internet Amerika dengan cuma-cuma membuka aksesnya kepada publik.

Bagaimana kami berkolaborasi?

Seperti yang sudah saya singgung di atas. Mereka yang paham peta belum tentu paham lokasi, sebaliknya mereka yang paham lokasi belum tentu paham peta. Ini menjadi landasan kami bekerjasama. Tim planologi memegang beberapa software, dimana Google Earth menjadi software utama kami bekerja. Para perangkat kelurahan dan kecamatan dipandu oleh rekan-rekan FISIP memandu diskusi dan menunjukkan setiap titik-titik batas di peta. Mereka pasti menanyakan ‘tetenger’ atau penanda batas yang sangat melekat ke collective memory mereka. Tetenger itu sangat mereka tau dan ingat tetapi terkadang tidak tau dimana lokasinya di peta, selanjutnya adalah tugas kami menemukannya. Setelah ketemu, baru mendiskusikan arah, barat-timur, utara-selatan. Arah ini harus disepakati, ke arah kiri artinya ke barat ke arah kanan artinya ke timur, ke atas adalah arah utara dan ke bawah adalah arah selatan. Kesepakatan ini penting untuk mengarahkan kursor mouse saat akan menggeser peta di google earth.

Setelah kesepakatan didapatkan, langkah selanjutnya adalah mendigitasi, menjiplak garis-garis di peta ke dalam garis-garis vektor. Garis hasil ‘jiplakan’ inilah hasil digitasi peta itu. Kenapa harus dijiplak? Jawaban teknis adalah karena kami membutuhkan data vektor yang bisa memberikan informasi mengenai panjang, lebar, dan data lain yang bisa kita tambakan. Kalau peta citra (foto) tidak bisa belum bisa memberikan informasi yang dibutuhkan. Ini domain kami, seorang planolog. Mereka yang berasal dari kelurahan dan kecamatan berperan sebagai penunjuk arah.

Digitasi selesai, tahap selanjutnya adalah membuat kesepakatan dan berita acara. Siapa yang memberikan arahan dan apa yang sudah diputuskan harus bisa diverifikasi. Kurang lebih begitu, berita acara dan penyepakatan bukanlah domain kami. Itu adalah keahlian mereka teman-teman dari Fisip. Nah.. ini menjadi alasan kedua kenapa harus berkolaborasi. Dari pekerjaan ini, rasanya ada sesuatu baru yang bisa dipelajari. Peta adalah alat untuk kami bisa bekerjasama, berkolaborasi dan menyepakati. Dan tidak berlebihan rasanya dikala harus berterima kasih kepada Google.

Collaborative authorship di microsoft word atau google document

tips-for-easy-text-selection-in-microsoft-word-401476222

Menulis bersama atau collaborstive authorship saat ini menjadi kebutuhan baru di dunia pendidikan dan penelitian. Mahasiswa Planologi yang hampir seluruh tugas kuliahnya berkelompok mengharuskan mereka bisa bekerjasama di dalam proyek-proyek mahasiswa dan menulisnya bareng-bareng. Setiap mahasiswa yang terlibat di dalam tugas kelompok itu harus berkontribusi baik tenaga pikiran dan juga tulisan. Bukan hanya mereka, dosen pendamping yang berkewajiban untuk melakukan penelitian juga harus melakukan hal serupa. Menulis bersama dengan peneliti partner dan mempublikasikan bersama. Ya ini sekelumit bagaimana collaborative authorship diperlukan.

Untuk melakukannya cukup mudah. Bisa hanya memanfaatkan berbagai file yang diketik secara terpisah kemudian digabungkan menjadi 1 file. Cara lama, bagi tugas materi yang harus ditulis/ diketik ke dalam file-file yang berbeda. Kemudian dibagian akhir ada 1 orang yang bertugas untuk menggabungkannya. Keunggulan teknik ini adalah tanpa harus terkoneksi internet, mengetik di microsoft word kita masing-masing kemudian simpan ke dalam file *.doc, di bagian akhir adalah menggabungkan ke dalam 1 file. Masa dikala teknologi cloud computing belum popular seperti saat ini. Namun karena sudah ada cloud computing dimana satu file bisa kita simpan di cloud server dan bisa kita akses dengan berbagai devices seperti PC komputer, laptop, iPad, Tablet hingga smartphone, maka tidak sesulit masa lalu lagi. Cukup kita bekerja di satu file yang sama untuk menghasilkan karya tulis dan laporan bersama. Tidak lagi meng-copy file menggunakan flashdisk kemudian kita lakukan pengeditan. Akan terjadi replikasi file dari satu menjadi dua menjadi tiga dan seterusnya tergantung jumlah penulis yang terlibat dalam proyek itu. Tidak efisien sama sekali. Belum lagi kalau ada satu komputer terinfeksi virus maka virus tersebut akan ikut ter-copy di flashdisk yang kita gunakan. Menjalar kemana-mana, dari satu komputer terinfeksi menular ke komputer lainnya.

Teknologi saat ini yang memudahkan kita terhubung satu sama lain harus dioptimalkan. Buat collaborative authorship. Dengan tujuan yang sama, kita hanya menggunakan 1 file yang digunakan oleh banyak orang dalam kurun waktu yang sama. Ini sangat mungkin dilakukan saat ini. Cloud computing sudah ‘mewabah’ dari yang berbayar hingga yang gratisan. Harus dimanfaatkan. Caranya juga cukup mudah hanya mengundang partner dengan cara memasukkan alamat email, kemudian akan terkirim undangan ke email partner. Di saat penulis partner menyetujui undangan itu maka secara otomatis sudah terjadi collaborative authorship.

Teknik sederhana itu bisa diterapkan baik di microsoft word maupun di google document. Caranya sama seperti yang sudah saya tulis di atas, undang penulis partner. Apa keuntungan yang bisa kita dapatkan? Kita bekerja di satu file yang sama. Satu kali kerja, dan bukan 2 kali kerja. Sangat efisien. Disamping itu, jikalau kita ingin melakukan collaborative authorship dengan partner yang berada di tempat jauh, luar negeri misalnya, maka proses ini sangat membantu.

Manfaatkan open data: praktek perencanaan kota di era digital

Era digital saat ini harusnya mengubah proses perencanaan dan perancangan kota. Dunia digital telah memudahkan kita mengakses berbagai informasi termasuk data. Ditambah dukungan pemerintah Indonesia melalui keanggotaannya di dalam Open Government Partnership melalui diundangkannya Keputusan Presiden No. 13 Tahun 2014 tentang penetapan keanggotaan Indonesia pada Open Government Partnership. Dampak positifnya adalah tentu kita akan semakin mudah mendapatkan data-data yang bersifat publik resmi dikeluarkan oleh pemerintah. Tidak hanya mendapatkan data, tetapi data-data itu juga dikumpulkan ke dalam 1 portal pangkalan data dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah di kota dan kabupaten.
open data di http://www.data.go.id
Gratis, tidak perlu membayar, kecuali untuk data-data khusus. Dalam perencanaan dan desain perkotaan tentu berperan signifikan. Di kala kita membuat proposal teknis, dokumen pedoman perencanaan, tidak lagi hanya berisi gambaran umum dan instrumen survei tetapi harusnya sudah memberikan informasi mengenai issu dan permasalahan wilayah perencanaan. Problem-based planning yang sering diajarkan ke mahasiswa planologi semester 4 misalnya, tentu sudah sangat mudah mendefinisikan masalah dan potensi di wilayah perencanaan. Melalui kajian terhadap dokumen-dokumen data yang diberikan oleh portal pangkalan data, tentu dengan cukup mudah kita bisa menelisik persoalan lapangan, mensintesakannya menjadi isu dan mencari komoditas unggulan sebagai salah satu potensi lokal.
Open data!, ini era baru keterbukaan data saat ini. Salah satu dukungan pemerintah untuk meningkatkan peran aktif masyarakat guna menganalisis, mengkritisi dan (jangan lupa) memberikan masukan berdasarkan data-data guna memberikan masukan rasional. Era baru, rational planning, dimana data menjadi ‘bahan baku’ utama memberikan policy analysis yang nantinya bisa diberikakan kepada policy maker berdasarkan akal sehat, rasional dan masuk akal. Bisa dianggap rasional dan masuk akal dikala masukan/ rekomendasi memang berdasarkan analisis.
Kembali ke mahasiswa Planologi! Di tahun 2003 – 2005, di kala saya harus menjadi salah satu koordinator ‘sapu jagad’ laporan akhir studio, data di kala itu sangatlah mahal. Benar-benar mahal, foto copy buku kabupaten/ kota dalam angka di BPS saja Rp. 300,- per lembar, dan kita harus memfotocopy berlembar-lembar ditambah series 5 tahun biasanya. Sangat mahal! Tidak jarang teman yang sedikit curang tapi cukup menyelamatkan adalah mencurinya, memasukkan ke dalam tas dan di bawa ke kos-kosan. Curang, tapi cukup menyelamatkan kondisi kantong yang terus menipis. Dan saat ini semua data-data mahal itu tersedia gratis, bebas download di internet. Resmi!.
Di masa saya menjalani studio, data kita perlukan untuk dianalisis kemudian kita sintesakan menjadi potensi dan masalah. Analisis data ini menjadi laporan tersendiri setelah survey yaitu di laporan fakta dan analisis. Dari potensi dan permasalahan inilah peroses perencanaan kemudian dilakukan, yang intinya adalah (1) solusi apa yang bisa diberikan untuk mengatasi masalah, dan (2) bagaimana kita akan mengubah kota/ wilayah yang kita rencanakan dalam kurun waktu 10 – 20 tahun ke depan. Proses proyeksi dan prediksi wilayah perencanaan kita lakukan berdasarkan data time series. Inilah alasan utama kenapa kita harus memfotocopy dokumen dalam kurun waktu 5 tahun ke belakang, untuk apa? untuk melihat trend data. Mahal!
Fungsi survei
Survei merupakan kebutuhan esensial di masa saya studio (2003 – 2005). Hanya dari survei kami bisa mendapatkan data-data yang diperlukan. Itupun tidak jarang kami harus mendapatkan data-data aneh, yaitu data yang tidak ‘nyambung’ atau data yang saling berbenturan. Sebagai contoh, saya pernah mendapatkan ada jumlah penduduk di suatu daerah yang dibagi berdasarkan kelompok umur berbeda dengan jumlah penduduk yang dibagi berdasarkan pendidikan. Jumlah penduduknya berbeda, kok bisa? itulah masa lalu. Di tambah dikala kita mendapatkan peta yang berasal dari instansi berbeda, disaat kita tampalkan di AutoCAD, koordinatnya melenceng jauh, tidak berada di satu koordinat yang sama.
Itulah masa lalu, survei adalah tahapan utama mencari dan mengkompilasi data. Saat ini bagaimana? tentu berbeda. Data sudah tersedia, hingga observasi lapanganpun bisa dilakukan secara digital. Jika ingin terlihat lebih live, anda bisa memanfaatkan VR (virtual reality) di HP yang kita tempelkan ke mata kita. Seakan-akan kita benar-benar berada di lokasi. Google street view bisa digunakan untuk melakukan observasi ini.
Hasil-hasil riset yang sudah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kita juga dengan mudah kita akses, download dan analisis. Jangan sekali-kali di COPY-PASTE ya, itu tindakan plagiasi dan PASTI KETAHUAN. Banyak software-nya kok. Pakai saja google scholar, microsoft academic search atau yang lebih berbobot gunakan saja DOAJ.org dan Scopus.com. Masukkan kata kunci di bilah search dan run. Seluruh artikel terpublikasi online akan terjadi di halaman web browser anda. Mudah sekali.
Kemudahan-kemudahan mendapatkan data ini harusnya mengubah proses perencanaan konvensional. Di dalam proposal teknis harusnya sudah menyajikan informasi mengenai potensi dan permasalahan. Sebuah tahapan yang dulu saya lakukan setelah survey dan ada di laporan fakta & analisis. Setelah informasi potensi dan permasalahan tersaji di laporan proposal maka proses suvey hanya berfungsi sebagai langkah verifikasi data dan melengkapi data yang kurang. Preferensi masyarakat mengenai wilayah perencanaan serta preferensi mereka mengenai harapan terhadap kota mereka harusnya yang perlu digali di dalam proses survei. Datang ke rumah-rumah warga, minum kopi sambil wawancara santai saja sudah lebih dari cukup.

Mobile reference: era baru literasi digital

Sebelum revolusi industri 4.0, literasi digital belumlah booming seperti saat ini. Harus meminjam buku-buku tebal di perpustakaan, menandainya, kemudian membuat catatan-catatan kecil di kertas terpisah. Post it mulai popular di masa ini untuk penanda baca. Bahkan beberapa penerbit buku juga memberikan bonus penanda baca berupa kertas bergambar atau penggaris yang bisa diselipkan di sela-sela buku. Satu tas ransel sekolah mungkin hanya bisa muat beberapa buku saja, tidak bisa mewadahi lebih dari sepuluh apalagi ratusan buku. Itulah masa lalu yang serba manual dan cukup membutuhkan upaya besar. Berbeda kondisinya dengan saat ini. Data-data manual, literasi berupa buku dan kertas berbondong-bondong beralih ke digital. File fisik berubah menjadi file digital yang dengan mudah kita lampirkan dalam email, baca di laptop, handphone maupun tablet. Mudah sekali.
Banyak aplikasi pendukung kerja literasi saat ini. Aplikasi ini berupa aplikasi pencarian referensi, aplikasi penyimpanan dan organisasi referensi hingga aplikasi indexing untuk mengetahui dampak dari sebuah referensi untuk dirujuk. Untuk aplikasi pencarian literatur tentu kita sudah sama-sama tau yaitu Google, Bing, atau yahoo. Tetapi khusus untuk karya ilmiah sangat tidak disarankan menggunakan aplikasi umum ini. Sangat disarankan memanfaatkan google scholar, scopus, doaj, microsoft academic search atau langsung saja ke publisher jurnal seperti sciencedirect miliknya elsevier, sage publication miliknya sage, emerald, MDPI dan tentu masih banyak lagi. Katalog perpustakaan saat ini sudah digantikan oleh search engine machine yang semakin hari semakin update dan semakin canggih.
Untuk menyimpannya juga mudah. Tidak usah membawa flasdisk atau hardisk external bergiga-giga. Cukup kita simpan ke beberapa software yang juga disediakan gratis hingga berbayar. Anda bisa menggunakan mendeley, endnote, atau zotero. Sebenarnya masih banyak lagi sih, tetapi saya sendiri baru mencoba 3 jenis reference manager itu. Mendeley adalah varian software reference manager yang paling agresif perkembangannya. Menyediakan dalam bentuk desktop hingga mobile dan paling penting adalah gratis. Sedikit berbeda dengan endnote yang mengharuskan kita membayar sejumlah dolar.
Indexing seperti scopus, google scholar, dan ESCI juga membantu kita menemukan artikel yang relevan dengan apa yang kita cari. Jika anda ‘malas’ mencari setting saja mode otomatis di peer.us (penjelasan mengenai peer.us bisa di lihat di artikel: Manfaatkan peerus untuk monitor perkembangan tema risetmu). Setiap menit peer.us akan mengupdate artikel yang kita minta dan akan memberikan notifikasi ke email kita secara rutin. Set up saja notifikasinya, bisa setiap hari, setiap minggu, atau setiap bulan.
Nah yang tidak kalah penting adalah media artikel atau jurnal ilmiah yang akan disajikan dalam bentuk mobile. Responsive website, ini contohnya bagaimana website yang tadinya hanya diakses di komputer saat ini mulai banyak diakses menggunakan smartphone. Responsive website adalah konsep desain website yang secara otomatis akan menyesuaikan ukuran hingga susunan website dari bentuk aslinya, kemudian secara otomatis akan di resize dalam bentuk tablet hingga mode yang lebih kecil yaitu smart phone. Bukan hanya resize tetapi susunan komposisi website juga secara otomatis menyesuaikan.
Awalnya di website, saat ini artikel jurnal juga sudah banyak yang disediakan dalam bentuk html dan responsive. Membaca artikel ilmiah dalam bentuk html di google chrome, kemudian kita download dan sinchronyze dengan seluruh gadget yang kita miliki. Sebagai contoh kita membaca artikel di laptop kemudian kita download dan secara otomatis file yang kita download tersimpan di handphone dan ipad. Inilah varian baru sinchronyze database memanfaatkan sistem cloud. Endnote dan mendeley sudah mengaplikasikannya. Jadi dengan sangat mudah dikala kita membaca artikel, tinggal kita export saja artikel itu ke akun mendeley kita dan secara otomatis akan muncul di berbagai gadget. Mudah, murah dan cepat.
Target utama sistem sinchronyze ini bukan hanya pada penyediaan database yang mudah diakses dimanapun, tetapi lebih dari itu yaitu tetap membaca literatur dimanapun dengan menggunakan media apapun. Ini rupanya yang melatarbelakangi para publisher menyediakan berbagai media artikel dalam bentul html. Kenapa html? sistem responsive hanya bisa diterapkan di format website, bisa php atau html. Khusus artikel yang tidak membutuhkan database, jelas html yang lebih tepat. Dengan format html, kita bisa membaca artikel layaknya website. Setelah dibaca jangan lupa disimpan di reference manager. Download-simpan di folder-upload ke reference manager! itu dulu. Dulu memang seperti itu, kita harus mendownload setiap PDF yang dibaca kemudian masuk ke reference manager seperti mendeley atau endnote untuk diupload. Sekarang tidak! Selesai baca cukup sinchronyze saja.
Sinchronyze di Mendeley
Tidak harus mendeley sebenarnya, Endnote juga memiliki teknologi serupa. Namun khusus para pembaca yang sering berselancar di sciencedirect.com maka akan dimanjakan oleh Mendeley. Cukup single sign-on untuk masuk ke science direct dan juga ke mendeley. Kita bisa login menggunakan akun email insitusi kita di sciencedirect kemudian artikel yang kita baca bisa kita export dan secara langsung akan masuk ke akun mendeley kita. Baca artikelnya bisa memanfaatkan berbagai device, bisa di komputer, handphone ataupun tablet. Gambar di bawah ini sistem sinkronisasi yang saya maksud disaat saya membaca artikel di google chrome-nya iPad.
Sinchronyze artikel ke mendeley

Jadi selain mendeley berfungsi sebagai reference manager dan citation tools, dia juga sangat berguna untuk mensinkronisasi seluruh artikel ke dalam database kita. Video dari screen recording di bawah ini menunjukkan bagaimana artikel yang sudah dibaca kemudian disimpan di database mendeley. Kebetulan artikel yang saya baca berasal dari sciencedirect dimana portal ini menyediakan fasilitas export to mendeley secara langsung. Jadi cukup mudah. Bagaimana kalau kita membaca artikel bukan dari sciencedirect.com?

Kita tetap bisa melakukan synchronize artikel jurnal di portal selain sciencedirect. Langkah awal yang harus dilakukan adalah menginstall add on mendeley untuk google chrome. Install Mendeley web importer untuk chrome di chrome store. Install saja dan kita bisa mendownload metadata serta artikelnya langsung ke mendeley sama persis dengan di sciencedirect.com, lebih jelasnya bisa dilihat di video berikut:

Menelisik lebih dalam indexing jurnal digital

Awalnya tulisan ini saya siapkan untuk buku yang sedang di gagas oleh komunitas pena, tatapi karena harus berisikan tips dan trik kepada penulis maka saya urungkan. Sejatinya tulisan ini berisi peringatan atau semacam gambaran mengenai sistem indexing jurnal digital dimana lebih berguna untuk para editor jurnal digital.
sumber: pxhere.com

Jangan sepelekan hutan belantara bernama internet. Mulailah membuka mata akan teknologi yang semakin hari semakin pintar. Jejak digital kita semua ada di sana. Identitas ku, kamu dan kita semua sudah menjadi konsumsi publik di dunia maya bernama internet. Pernahkah kalian melihat-lihat barang di bukalapak.com atau di tokopedia.com kemudian secara otomatis tampil di laman lain yang kita buka? Tidak akan aku jelaskan di sini, banyak sekali ulasan tentang teknologi ini yang disebut dengan cookies.

Setan: inilah perbuatan robot digital
Sekarang coba kita mengingat lagi kehebohan di dunia maya tanah air pada tahun 2018 lalu. Di saat kita menulis kata ‘setan’ di google maka akan muncul gambar-gambar seram dan juga foto salah seorang tokoh politik nasional di sana. Kemudian tahun 2016, kita juga dibuat heran oleh google yaitu di kala kita menulis ‘sungai bersih karena foke’ seakan-akan google menolaknya dan justru menyarankan ‘mungkin yang anda maksud: sungai bersih karena ahok’. Kenapa google begitu ‘cerdas’ hingga bisa memberikan saran dan memunculkan foto-foto sesuai dengan kata kunci tertentu? Itulah kehebatan SEO atau search engine optimization. Teknologi anyar yang terus menjadi perbincangan para pakar IT, marketing hingga politisi.
Seluruh tulisan yang kita unggah akan direkam oleh aggregator. Di saat kita menulis status di twitter atau mungkin di facebook maka tulisan itu akan menjadi ‘data’ yang masuk ke database dan masuk ke server yang tersebar di seluruh dunia. Disaat membuat status di twitter, tulisan kamu tidak hanya disimpan oleh twitter tetapi juga oleh mesin-mesin penambang data (data mining). Mereka terus menambang setiap kata yang kita unggah di lini masa untuk kepentingan mereka. Dianalisis, kemudian bisa digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan marketing hingga politik. Itulah kenapa di saat kita menelisik barang di bukalapak dan berpindah ke laman lain, barang yang kita lihat muncul kembali.
Indexing Jurnal Digital
Itulah kehebatan dan kecanggihan internet dewasa ini. Data manual berubah ke data digital. Sama halnya dengan jurnal ilmiah elektronik yang saat ini juga booming di Indonesia. Capaian publikasi Indonesia cukup fantastis dibandingkan negara-negara tetangga di ASEAN. Meskipun masih di bawah Singapore tetapi banyak release berita yang memberikan informasi bahwa capaian publikasi Indonesia sudah di atas Vietnam dan Pilipina. Setiap hari secara real time kita bisa mengecek perkembangan itu. Cek saja di google scholar atau di scopus.com. Mudah, cepat dan akurat. Inilah era indexing, dari data yang tersimpan itu akan sangat mudah di tambang/ mining dan masuk ke repository-repository antah berantah tersebar di jagat maya. Tidak usah jauh-jauh melirik teknologi negara tetangga, negara kitapun juga melakukan data mining atas jurnal-jurnal yang sudah diterbitkan. Sebut saja sinta yang bisa diakses di http://sinta2.ristekdikti.go.id/, atau yang lokal jawa Tengah juga ada di jaringan penelitian jawa tengah di link http://jarlitbangnov.bappeda.jatengprov.go.id/.
Setidaknya ada 2 metode indexing saat. Yang pertama adalah dengan mengupload atau menyetor identitas artikel atau yang sering disebut dengan meta data ke mesin pengindex secara langsung. Contohnya adalah aku sebagai editor jurnal digital mengunduh meta data setiap artikel yang sudah diterbitkan kemudian mengupload kembali metadata it uke doaj.org atau mungkin ke crossreff.org. Artinya kita harus meng-upload metadatanya agar masuk ke database doaj dan crossreff. Yang kedua adalah tanpa meng-upload tetapi mesin-mesin aggregator dunia seperti google scholar mengirimkan robot digitalnya kemudian akan mengunduh meta data secara otomatis, merangkainya kembali dan memasukkan ke database mereka. Tidak ada proses upload ataupun download, biarkan saja, nanti secara otomatis Googlebot akan mengunduh metadata yang memang terbuka.
Etika publikasi elektronik
Proses penyusunan meta data yang terbentuk secara otomatis dengan memanfaatkan robot digital dan secara manual itulah menjadikan meta data di internet harusnya sama. Kenapa harus sama? Karena sumbernya sama persis hanya proses inputing ke database-nya yang berbeda. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana jika ada perbedaan? Nah ini yang harus diperhatikan.
Jangan sekali-kali artikel yang sudah diupload di internet didownload, kita ubah kemudian di upload kembali. Konyol, ini sangatlah konyol dan maaf bodoh. Jangan karena hanya file dimana kita dengan mudah bisa mengubahnya setiap saat kemudian kita bisa melakukannya dengan begitu bebas. Artikel yang sudah kita upload di internet secara otomatis akan diunduh meta datanya oleh robot digital, kemudian meta data yang sama kita unggah di aggregator lain seperti doaj dan crossreff. Karena keinginan untuk merevisi, entah apapun alasannya, kemudian artikel itu didownload dan direvisi dan diupload kembali maka akan membentuk meta data baru.
Untuk mempermudah ilustrasinya begini, aku menulis artikel dengan judul “MENELISIK lebih dalam indexing jurnal digital”, artikel ini aku upload ke internet apapun websitenya. Maka secara otomatis robot digital akan menerima bahwa ada file baru berjudul itu dan memasukkannya ke database mereka, sebagai contoh ke google scholar. Begitupula meta data yang aku upload ke doaj dan crossreff.org. Kemudian, aku menemukan ada kesalahan di judul maupun isinya. Aku download artikel itu dan aku ubah judulnya menjadi “MEMBAHAS lebih dalam indexing jurnal digital”. Proses yang sama aku lakukan, upload lagi ke internet. Maka akan terdapat 2 meta data yaitu meta data artikel 1 dan artikel 2. Akan ditemukan ketidak cocokan diantara kedua meta data tersebut. Alhasil dapat dengan mudah kita simpulkan telah terjadi fabrikasi ataupun penyalahan etika publikasi artikel. Jangan sekali-kali memanipulasi artikel yang sudah upload ke internet. Pastikan sudah final dan benar untuk dipublikasikan kemudian silakan upload ke internet.

Akreditasi tanpa fabrikasi

Nikmat mana yang kau dustakan! lama banget ingin bisa menulis kalimat itu sebagai salah satu ekspresi rasa syukur yang teramat tinggi kepada Tuhan YME. Dan akhirnya bisa mengucapkannya bahkan menuliskannya di blog pertama di bulan Desember ini. JPK atau Jurnal Pengembangan Kota yang dikelola oleh Laboratorium Pengembangan Kota dimana saya bekerja alhamdulillah naik kelas, terakreditasi kementerian riset, teknologi dan pendidikan tinggi. Naik kelas karena awalnya berada di Sinta 3 dan saat ini sudah berada di Sinta 2 atau kalau mengacu pada sistem akreditasi lama berada di jurnal nasional terakreditasi B. Seneng dan bangga tentunya. Kebanggaan lain adalah jurnal ini sejatinya adalah jurnal mahasiswa, menampung artikel-artikel hasil tugas akhir mahasiswa yang memang diwajibkan untuk dipublikasikan di jurnal nasional minimal ber ISSN. Dan tentunya dari proses poles sana poles sini, tolak artikel sana, tolak artikel sini bisa melaju menjadi salah satu jurnal top nasional, terakreditasi Sinta 2.
Hasil penetapan akreditasi JPK, masih menunggu penerbitan SK
Jatuh bangun seperti anak ayam yang ingin belajar terbang, meskipun memang bukan kodratnya untuk terbang. Hehehe… ambil ancang-ancang panjang, berlari kencang dan mulai mengepakkan sayap berbulu jarang. Dan apa yang terjadi, jatuh, terkapar dan tidak bisa terbang sampai akhirnya saat ini bisa menjadi ‘kuthok’ anak ayam yang mulai bisa mandiri. Bukan mengada-ada ilustrasi itu, memang begitulah adanya. Tahun 2013 adalah terbitan awal JPK dimana hanya terbit 1 kali berisi 7 artikel tanpa edit, dan setelahnya tidak terbit selama 2 tahun, mantap bukan! Awal tahun 2015 mulailah tertib menerbitkan artikel dengan kualitas apa adanya asal terbit dan asal layout. Yang penting memiliki artikel dan lepas dari cek similarity-nya turnitin.com bisa kita pertimbangkan masuk ke jurnal tak berbayar ini. Beranjak mulai melakukan call for papers, banyak yang menolaknya karena memang tidak terakreditasi waktu itu. Tetapi lambat laun, tidak sedikit para calon penulis yang mulai tertarik, mengirim artikelnya dan redaksi kebingungan untuk menolaknya. Iya bener, banjir artikel setelah kita call for paper (2016) tetapi kualitas artikel yang diberikan masih rendah seperti sumber referensi yang minimalis, sedikit, tidak ada 5 referensi atau mungkin banyak referensinya tetapi semuanya berasal dari google.com. Serius ini, tidak jarang redaksi menemukan artikel dengan referensi yang bersumber dari google.com, tidak ditulis website aslinya.
Dikembalikan, meminta penulis untuk merevisi sesuai dengan kaidah yang sudah diatur oleh pedoman akreditasi jurnal dan tidak kembali. Di kala artikel yang dianggap bagus, kita coba mereview seserius mungkin mengirimnya ke reviewer Indonesia namun bereputasi internasional. Akhirnya kami bisa menghimpun begitu banyak masukan baik dari editor maupun reviewer. Mungkin saja di setiap kalimat ada komentar untuk memperbaiki atau justru meminta rujukan kutipan. Kita kirim ke penulis dengan harapan mereka bersedia memperbaiki, mengembalikan dan evaluasi kembali untuk selanjutnya di terbitkan. Dan apa yang kami dapatkan? Tidak ada, jangankan revisian artikel, balasan email saja tidak kami terima. Nihil.
Tahun 2017 adalah peruntungan pertama mengajukan akreditasi. Belum cukup percaya diri sebenarnya, mengingat ada 2 tahun terbitan yang akan dinilai dimana tahun 2015 cukup yah begitulah, apa adanya, kalau untuk terbitan 2016 sudah lumayanlah. Tapi karena dorongan LPPM Undip yang memasukkan JPK kedalam short list jurnal di lingkungan Undip yang siap diajukan akreditasi, akhirnya adrenalin editor lumayan terpacu. Segala bujuk rayu dari kolega yang juga mengelola jurnal begitu gencar dan cukup menghipnotis, akhirnya diputuskan ‘baiklah, kita ambil peruntungan ini’. Kita siapkan website jurnal, membuat artikel html, melengkapi artikel dalam bentuk PDF. Tidak ada poin nilai sebenarnya dengan membuat varian ini, tetapi karena ingin menunjukkan hal yang berbeda dan bagus di desain, maka itupun tetap saya lakukan.
Tampilan artikel dalam bentuk HTML. Artikel asli dapat dilihat pada link: https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/jpk/article/view/586/html

Tidak mungkin mengubah isi substansi artikel yang sudah diupload di OJS, tersubmit di crossreff melalui DOI dan tentu sudah masuk juga ke google scholar. Selain tindakan bodoh, itu adalah tindakan tercela menurut saya. Artikel yang sudah terbit didownload, diubah substansinya sedemikian rupa kemudian diupload kembali. Meskipun itu sangatlah mungkin di lakukan. Tindakan itu adalah tindakan fabrikasi yang dilakukan oleh editor dengan tujuan untuk meningkatkan nilai setiap artikel dan pada ujungnya adalah dapat terakreditasi. Kenapa saya bisa menulis demikian? Yang karena ada ketidak sinkronan antara identitas artikel, minimal judul, penulis, afiliasi dan abstrak yang kita temukan di CROSSREFF, DOAJ dan Google Scholar. Harusnya identitas artikel di ketiga mesin pengindek ini sama, harus sama karena berasal dari sumber yang sama juga. Yang membedakan adalah cara mereka mendapatkan identitias artikel yang disebut dengan metadata. CROSSREFF dan DOAJ mendapat metadata dari file yang kita upload, sedangkan google scholar secara mandiri melakukan data mining kemudian menyusun metadata sendiri. Dua metode yang berbeda inilah celah yang harus disadari dan ‘kebodohan fabrikasi oleh editor’ bisa kita lacak.

Bagaimana fabrikasi dilakukan oleh editor? Simpel, untuk mendapatkan nilai yang tinggi setiap artikel setidaknya memuat judul yang menunjukkan hasil dan bukannya proses, ada gap analysis di bagian pendahuluan, syukur-syukur memuat state of the art dan ada feedback terhadap literatur utama di bagian diskusi, yaitu bagian akhir analisis sebelum kesimpulan. Yang menjadi pertanyaan, jika artikel yang dimuat berasal dari mahasiswa S1, apakah kualitas artikel mereka sudah sejauh itu? sudah ada gap analisis melalui komparasi berbagai literatur dan artikel yang sebelumya sudah diterbitkan kemudian dia bisa mencari celah penelitian yang perlu ditambahkan, di situlah state of the art bisa diberikan. Kebanyakan artikel mahasiswa S1 belum bisa sampai ke kualitas ini. Sayapun demikian. Karena kendala itulah tidak sedikit editor melakukan ‘editing’ dengan cara menambahkan referensi baru di bagian daftar pustaka agar terlihat lebih banyak referensi dari jurnal. Kemudian melakukan pembenahan di bagian pendahuluan, diberikan gap analisis dan state of the art, tanpa ada persetujuan penulis. Kenapa? Lha penulisnya saja tidak begitu paham mengenai gap analysis dan state of the art, ingat sumber artikelnya adalah dari tulisan tugas akhir S1. Itulah praktek tercela yang sangat bodoh, sangat mudah kita telisik hanya dengan mencarinya di google scholar, crossreff dan DOAJ yang menerapkan makanisme pemanenan metadata berbeda, benar-benar berbeda.
JPK Sudah berada di Sinta 2, Akreditasi oleh Ristekdikti, 2018

Dan tentu JPK tidak melakukan praktek bodoh nan tercela ini. Dan alhamdulillah JPK terakreditasi Ristekdikti sinta 2.

Mulai menggunakan R, sebuah aplikasi anyar statistik

Mulai berkenalan dengan R, sebuah aplikasi anyar nan canggih yang dibuat oleh Universitas Auckland, Selandia Baru. Sebelumnya R ini diinisiasi oleh Ross Ihaka dan Robert Gentleman. Selain sebagai alat analisis, R sebenarnya juga bahasa pemrograman yang dikembangkan oleh statistikawan. Cukup lama sebenarnya, yaitu tepatnya tahun 1993, pertama kali aplikasi ini dirilis ke publik. Meski demikian, popularitas software ini belumlah lama, mungkin baru beberapa dekade ini. Dan khusus untuk mahasiswa Statistik Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Undip ini adalah kali pertama mereka mendapatkan pengenalan aplikasi R untuk statistik. Tidak mudah memang, bukan hanya aplikasinya tetapi statistik sendiri juga bukan materi yang gampang untuk dipelajari dalam kurun waktu pendek. Cukup lama memahaminya begitupula mahasiswa harus memahami pula beberapa dalil atau asumsi-asumsi yang digunakan di dalam statistik.
Kembali ke R, software ajaib ini merupakan software gratis. Berbeda dengan SPSS yang berbayar dan tidak murah tentunya. Di bawah tim pengembangnya, R ini memiliki lisensi publik atau GNU General Public License yang artinya kita bisa ikut andil membangun software ini. Bagi saya, ini merupakan pekerjaan yang tidak mungkin dilakukan, bagaimana mau membangun software, mempelajari cara kerjanya saja baru di mulai saat ini. Perkembangan R di dunia cukup bisa diandalkan. Saat ini R sudah masuk ke dalam 10 software terpopuler di dunia. R sendiri berada di peringkat 7 persis di bawah PHP dan justru sudah melampaui JavaScript.

Sumber: https://spectrum.ieee.org/at-work/innovation/the-2018-top-programming-languages

Cara menginstall R ke dalam desktop cukuplah gampang. Pertama yang harus dilakukan adalah mengunduh installer R dari website penyedianya yaitu r-project.org. Versi terbaru saat saya mengunduh adalah R versi 3.5.1 yang sangat compatible dengan High Sierra dan El Capitan khusus untuk Macintosh. Khusus untuk Mac, aplikasi R bisa diunduh di link berikut: https://cran.r-project.org/bin/macosx/R-3.5.1.pkg (link aktif saat didownload tanggal 20 November 2018). Setelah proses download adalah menginstallnya.

Aplikasi R saja tidaklah cukup, masih memerlukan aplikasi/ software tambahan yaitu R studio. Aplikasi R studio berfungsi sebagai ‘ruang ide’ yang berisi kompilasi code completion, syntax highlighting, smart indentation, dsb. R studio disediakan oleh rstudio.com. Aplikasi tambahan ini disajikan gratis hingga berbayar cukup mahal. Bagi pemula, yang masih belajar pemrograman menggunakan R, saya rasa menggunakan yang versi gratis sudahlah cukup. Bagi pemula seperti saya, R studio gratis sudah lebih dari cukup. Software R studio untuk macintosh dapat diunduh di link berikut: https://www.rstudio.com/products/rstudio/download/ (link aktif saat didownload tanggal 20 November 2018). Adapun untuk detail instalasi R dan R studio saya sajikan dalam bentuk screen recording di bawah ini.

Similarity index tinggi belum berarti plagiasi

Hari selasa tanggal 9 oktober 2018, sebuah email masuk dari panitia sebuah konferensi internasional yang saya ikuti di bulan juli tahun yang sama. Sebenarnya bukan murni saya, lebih tepatnya adalah mahasiswa yang tugas akhirnya saya bimbing. Dia mempresentasikan di ajang internasional diselenggarakan oleh salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Email di hari selasa (9/10/2018) ini berjudul Plagiarism Check, memberitahukan bahwa similarity index artikel kami lebih dari 20% tepatnya 32% yang artinya ada kemungkinan plagiasi sebesar itu. Email yang saya maksud terlampir di bawah ini. Sengaja saya buat blur alamat email pengirim hingga identitas-identitas lain yang berhubungan dengan seminar, untuk menjaga privasi panitia. Disamping itu, tujuan tulisan ini dibuat bukan untuk menjelaskan kronologi namun lebih pada pelajaran yang bisa saya ambil.
Email dari panitia mengenai pemberitahuan plagiarism check
Email itu dikirim oleh panitia karena memang ada alasan yang harus diperhatikan yaitu artikel yang kami tulis diupload di mesin pengecek plagiasi turnitin.com. Hasil pengecekan menunjukkan similar index artikel sebesar 32% dimana berasal dari sebuah artikel yang telah diupload di portal yang sama melalui akun universitas diponegoro. Terlihat di gambar di bawah ini bahwa sumber utama (32%) similarity adalah artikel mahasiswa yang telah disubmit/ upload di Undip. Cukup kaget, sangat kaget. Mahasiswa yang menjadi penulis pertama artikel inipun kaget dibuatnya. Dugaan pelanggaran moral yang cukup luar biasa, dan sangat besar yaitu menjiplak, plagiasi atau mencontek. Namun apakah demikian? Tidak, tentunya tidak. Saya cukup memahami bagaimana mesin ini bekerja. Terus kenapa bisa begitu?
Hasil pengecekan panitia terhadap artikel tersubmit
Jawabannya! Inilah pelajaran berharganya yang perlu saya share di tulisan ini. Langkah preventif sebelumnya saya lakukan dengan cara mengunggah draft pertama artikel tersebut ke portal yang sama yaitu turnitin.com. Di akun turnitin saya, artikel tersebut saya upload dengan menggunakan mode standard paper repository. Sebenarnya ada 2 pilihan yaitu no repository dan standard paper repository. Di kala kita memilih no repository, ini berarti bahwa artikel yang kita unggah tidak akan tersimpan di repository/ database turnitin.com akan tetapi jika kita pilih standard paper repository maka artikel kita akan tersimpan di database turnitin dan akan bergabung dengan artikel-artikel orang lain dari seluruh dunia. Kemudian bagaimana dengan artikel saya yang menjadi contoh kasus dalam tulisan ini? Artikel yang saya submit ke panitia konferensi diugggah ke turnitin.com dan men-scan artikel yang sama di database turnitin yang sebelumnya saya unggah. Artinya artikel yang diunggah oleh panitia dianggap plagiat atas artikel yang sama dimana artikel sebelumnya ini saya upload di portal yang sama.
 
Itulah titik persoalannya. Artikel di panitia menscan draft artikel yang sebelumnya saya upload, dimana dua artikel ini tidak dipublikasikan sama sekali. Pelajaran yang bisa kita petik dari kasus ini adalah:
  1. Sebaiknya tidak menggunakan standard paper repository, karena seluruh artikel yang kita unggah akan tersimpan di database turnitin dan akan bercampur dengan seluruh artikel di seluruh dunia.
  2. Akan lebih baik jika menggunakan mode no repository artinya artikel tetap terunggah tetapi hanya di inbox akun kita dan sama sekali tidak akan terunggah/ upload di database turnitin.com. Dengan menggunakan mode ini maka kita akan bisa melakukan scanning atas artikel yang kita upload dengan seluruh sumber baik yang berasal dari turnitin maupun dari sumber internet lainnya. Sebalinya, artikel yang kita upload (mode: no repository) tidak akan dijadikan sebagai salah satu sumber pengecekan atas artikel orang lain yang discan.
  3. Bagaimana jika kamu sudah terlanjur unggah dengan mode standard paper repository? Sama dengan yang telah saya lakukan, saya menggunakan mode standar paper repository sehingga terjadilah dugaan-dugaan seperti itu. Jika ini yang terjadi maka jangan sekali-kali mendelete/ menghapus artikel yang sudah kita upload. Kenapa? karena jika kita hapus artikel tersebut maka artikel tersebut hanya akan terhapus di inbox akun turnitin kita akan tetapi tidak akan terhapus dari database turnitin. Artinya jika ada artikel yang diupload di turnitin untuk scanning maka artikel yang telah kita hapus tersebut tetap akan menjadi sumber acuan pengecekan similarity. Fungsi lain dari tidak boleh dihapusnya artikel di mode ini adalah disaat ada dugaan plagiarism atas artikel kita yang sebenarnya menscan artikel kita sendiri, maka dengan sangat mudah kita memberinya sanggahan dengan memberikan bukti-bukti otentik.
Kembali ke artikel saya di atas. Artikel yang saya upload di turnitin.com sebagai langkah preventif saya sajikan di gambar berikut ini. Similarity indexnya sangat rendah yaitu cuma 3% itupun bukan berasal dari substansi artikel tetapi lebih keafiliasi penulis dan beberapa daftar pustaka yang dianggap sama (similar). Angka 3% merupakan angka yang sangat ditoleransi masih di ambang normal.
Tampilan draft artikel pertama di turnitin.com
 
Similarity index (3%) dari draft artikel pertama sebelum di kirim ke panitia seminar
Setelah kami jelaskan ke panitia, syukur alhamdulillah panitia konferensi memahami persoalan tersebut seperti yang ditunjukkan oleh gambar email di bawah ini. Tentu mereka memahami karena seluruh sumber primary resources di akun turnitin panitia juga memberikan keterangan bahwa sumber utamanya adalah artikel yang diupload di akun turnitin Undip dengan kode artikel tertentu. Sehingga sangat mudah bagi panitia untuk mengeceknya setelah kami juga mengirimkan pdf hasil scan draft pertama artikel kami sendiri.
 
Email balasan dari panitia yang menyatakan memahami dan menerima sanggahan
Dari pengalaman ini bisa kita tarik kesimpulan bahwa similarity index tinggi belum tentu tindakan plagiasi. Kenapa demikian? karena ada dua artikel yang sama dimana diupload di turnitin di rentang waktu berbeda. Artikel kedua di upload yang kemudian menscan artikel pertama sebagai sumber. Kemudian yang perlu diperhatikan adalah terkadang langkah preventif seperti ini justru bisa menjadi ‘masalah’ tersendiri jika kita menghapus file yang telah kita upload. Sehingga untuk langkah preventif akan lebih baik jika mode penyimpanan tidak menggunakan standard paper repository tetapi justru menggunakan no repository.
 

Bagaimana dengan yang telah dilakukan oleh panitia? Tentu apresiasi yang sangat tinggi saya sampaikan ke panitia atas komitmennya terhadap standar kode etik publikasi. Apa yang sudah dilakukan panitia justru ‘menyelamatkan’ para penulis. Namun, akan lebih baik jika mereka juga meminta/ request ke sumber utamanya dengan hanya click satu tombol request maka secara langsung turnitin akan memberikan email secara otomatis ke akun yang dianggap memiliki sumber primer itu. Apakah langkah ini sudah dilakukan? Jika sudah tentu saya akan mendapatkan email request tersebut karena artikel itu saya upload menggunakan akun pribadi saya sebagai langkah preventif atau mencegah.

Email request artikel asli sebagai primary resources

Kurang lebih isi emailnya seperti gambar di atas. Panitia yang melakukan scanning atas artikel bisa request atau meminta paper yang asli di primary resources untuk kemudian dibandingkan. Dengan menekan tombol request maka secara otomatis turnitin akan memberikan email seperti di atas, dimana disaat kita reply maka secara otomatis akan masuk ke email panitia yang request tersebut.

Cara Sinkronisasi ORCID dengan Crossref

Biar lebih kekinian mengikuti zaman, saya coba membuat catatan kecil tutorial sederhana melakukan sinkronisasi ORCID Profile dengan Crossref. Pentingkah? Mungkin tidak hehehe. Menjadi sedikit penting bagi teman-teman yang senang melakukan penelitian dan publikasi karya tulis ilmiah di jurnal maupun konferensi. Baik, pertama apa itu ORCID? Bagi yang ingin tau mengenai ‘binatang’ ini silakan click tautan ini dan yang ingin tau tentang crossref silakan click tautan ini. Silakan pelajari sendiri, tidak perlu saya jelaskan ya, Bahasa Enggrais saya masih belepotan, takutnya salah mengartikan.
Oke, gimana caranya kita sinkronisasi data crossref dengan ORCID seperti profile saya ini. Ini bukan promosi ya.
1. Crossreff sebenarnya memberi layanan login dengan memasukkan ORCID ID. Silakan sign In saja di tombol sebelah atas kanan, ada tulisan ID (warna ijo) nah itulah tombolnya. Cukup click sekali saja! Kemudian isikan ORCID ID dan passwordnya di form yang sudah disediakan. Ada yang belum punya ORCID ID? Silakan bikin dengan cara click bagian bawah, anda bisa sign in menggunakan akun facebook atau google. 
Sign in menggunakan ORCID ID

2. Kemudian, di form search (atas sendiri) ketik saja nama anda. Nama lengkap tanpa gelar apalagi julukan waktu kecil. Cukup nama lengkap first name dan last name. Nah, si crossref akan mencari secara otomatis tu seluruh artikel yang ditulis oleh nama yang kita tulis di atas. 
Mencari artikel yang ditulis
3. Langkah selanjutnya adalah melihat setiap artikel dan masukkan ke ORCID Profile. Setiap artikel akan ada label IN YOUR PROFILE dan ADD TO ORCID. Apa artinya ya? Kalo IN YOUR PROFILE artinya artikel itu sudah ada di laman ORCID profile kita, so..tidak perlu ditambahkan. Nah untuk artikel yang belum masuk silakan click ADD TO ORCID. 
Sikronisasi selesai
4. Tunggu sesaat dan… masuk ke ORCID profile kita (bisa lihat di: http://orcid.org/0000-0003-0307-847…)
Jadi deh profile yang terupdate (bagian bawah sebenarnya yang terapdet) di bagian ini tidak kelihatan.

Teknik dasar menggunakan Mendeley sebagai reference management

Untuk para peneliti, mahasiswa maupun penulis karya tulis ilmiah, membuat citation sangat penting untuk mendukung argumentasi/ statemen yang dikutipnya. Salah satu software gratis yang bisa digunakan adalah Mendeley, sebenarnya ada juga yang lain seperti Zotero atau Menu reference di Microsoft Word. Nah, saat ini saya coba untuk membuat tutorial intalasi hingga menggunakan software mendelay.

Instalasi Mendeley Desktop

Mendaftar (Sign up) di laman www.mendeley.com.


Download Mendeley dengan click menu DOWNLOAD MENDELEY seperti di bawah


Install Mendeley hingga muncul dialog pertama, sebagai berikut:



















Setelah Mendelay terinstall, buatlah database pustaka (buku, jurnal, dll) yang diperlukan, ada 3 cara, yaitu:

CARA 1: Memanfaatkan menu ‘save to mendeley’ untuk jurnal yang ada di http://www.sciencedirect.com, seperti di bawah ini: 



Secara otomatis akan tersimpan di dalam Mendeley (menggunakan sistem cloud) seperti pada gambar berikut:



Artikel yang sudah tersimpan di server cloud secara otomatis akan muncul di mendeley desktop, seperti gambar berikut:



CARA 2: Copy Paste/ drag seluruh artikel dalam bentuk PDF ke Mendeley Desktop, seperti gambar berikut:

















CARA 3: Entry data secara manual ke Mendeley, seperti pada gambar berikut:




Setelah memiliki database artikel yang diperlukan, kemudian aktifkan plugin Mendeley ke Microsoft Word, sebagai berikut:











Kemudian akan muncul dialog seperti dibawah ini (menandakan plugin Mendeley sudah terinstall di Microsoft Word


















Memasukkan kutipan di dalam text di Microsoft Word, sebagai berikut:

















Cara membuat daftar pustaka otomatis dan gaya (style) yang bisa digunakan, seperti pada gambar berikut: